Senin, 10 Mei 2010

Acub Zainal dan Seragam Persipura

Seragam kebesaran Persipura Merah Hitam semakin bersinar tatkala Acub Zainal bekas Panglima Kodam XVII/Cenderawasih dan Gubernur Irian Jaya melibatkan diri sebagai pembina dan tokoh olaharga di tanah Papua. Seragam hitam merah ternyata mendapat restu dari Acub Zainal tatkala anak anak Mutiara Hitam mulai mengenakannya.
“Waktu kita mengusulkan warna merah hitam bagi kesebelasan Persipura, langsung Pak Acub setuju,”ujar Gentho Adolf Rumbino .
Bahkan kata Rumbino beliau menegaskan warna merah artinya berani dan hitam tandanya hancurkan setiap lawan Persipura.
Namun sang jenderal yang pada 4 Oktober 2009 lalu telah meninggal dinihari pukul 02.20 dikediamannya Jalan Berlian 1 Nomor 20 Cilandak Jakarta banyak berbuat bagi kemajuan olahraga di tanah Papua termasuk sepak bola.
Acub Zainal dengan pangkat terakhir Brigadir Jenderal TNI (Purnawirawan) pergi dalam usia 81 tahun–lahir pada 19 September 1927–dan meninggalkan empat orang anak, yaitu Reinny, Iwan, Lucky, dan Happy.
Acub Zainal lebih dikenal sebagai tokoh sepak bola ketimbang kiprahnya di pemerintahan.
Ketika menjadi Gubernur Irian Jaya (sekarang Papua) periode 1973-1978, nama almarhum menjadi harum ketika membawa Persipura menjadi juara Perserikatan 1976. Waktu itu, Acub Zainal menjadi orang yang paling dicintai masyarakat Irian Jaya.
Acub Zainal–kami, para wartawan, memanggilnya dengan sebutan Jenderal–adalah salah satu pendiri Galatama, kompetisi sepak bola semiprofesional yang diluncurkan pada 8 November 1978. Dia mendirikan klub Galatama Perkesa 78 dan Arema Malang yang dikelola Lucky. Kini Arema sudah beralih dari Bentoel ke menejemen baru Abu Rizal Bakri Group.
Almarhum pernah menjadi salah satu Ketua PSSI pada era kepengurusan Kardono (1983-1987 dan 1987-1991). Bersama Andi Darussalam Tabusalla, Acub Zainal memimpin Galatama. Acub sebagai administrator dan Andi sebagai sekretaris.
“Dia guru, dia pemimpin berkarakter,” kata Andi .
Jenderal dikenal sebagai salah satu tokoh yang gigih memperjuangkan mutu kompetisi Galatama. Selama delapan tahun, tim nasional, yang bermateri pemain-pemain yang terjun dalam kompetisi Galatama, mencatat empat prestasi fenomenal: juara subgrup babak kualifikasi Piala Dunia 1986 Zona Asia, semifinalis Asian Games 1986, serta peraih medali emas SEA Games 1987 Jakarta dan SEA Games 1991 Manila.
Kemarin, sebelum upacara pemakaman, para pengantar masih bercerita seputar kiprah Jenderal ketika masih menjadi pengelola sepak bola nasional. Ketua Badan Tim Nasional Rahim Soekasah, mantan manajer tim nasional SEA Games Singapura 1993 Andrie Amin, pengurus PSSI Max Boboy, bersama beberapa rekan wartawan senior kembali mengenang Acub Zainal. “Dia orang yang keras,” kata Max Boboy.
Sikap keras Jenderal yang digambarkan Max Boboy adalah ketika Acub Zainal menjabat Ketua Tim Penyelidikan Penanggulangan Masalah Suap. Waktu itu, Jenderal menghadapi sekaligus memberangus hantu-hantu suap yang masuk ranah sepak bola.

Surat Acub Zainal Untuk Persipura


Almarhum Brigjen (Purn) Acub Zainal sangat dikenal dalam persepak bolaan di Indonesia tetapi bagi masyarakat Papua dia adalah pelopor dan pendorong semangat sepak bola di Papua. Bahkan ketika sudah tidak lagi menjabat Gubernur Irian Jaya dia selalu memberikan semangat dan motivasi kepada anak anak Mutiara Hitam ketika hendak berlaga di Perserikatan PSSI.

Mantan gelandang dan pemain Persipura era 1970 an yang pernah memperkuat Persipura saat final melawan Persija Jakarta 1976, Benny Yensenem menyimpan surat dari almarhum Acub Zainal kepada tim Mutiara Hitam untuk berjuang melawan Persija di final dalam laga merebut juara di Stadion Gelora Bung Karno, Senayan.

Adapun isi surat yang peroleh Jubi dari Benny Yensenen di Jayapura belum lama ini sebagai berikut,

Bandung, 18 April 1976.
Hengki Heipon, kapten Persipura

1. Kalau ada manusia yang paling bangga paling pada saat ini, karena Persipura masuk final adalah saya. Saya sangat bangga atas hasil gemilang yang telah dicapai oleh putra putra Irianku, meski pun saya kini bukan apa apa lagi dan tidak berada di Irian lagi.Tetapi hatiku selalu berada padamu semua. Cita cita ku keinginan ku ialah Persipura (Putra putra Irian Jaya) jadi juara Indonesia. Semoga impian ku impian mu semua akan menjadi kenyataan, ialah pada tanggal 19 April 1976 Persipura mengalahkan Persija dengan disaksikan oleh ribuan penonton di Senayan dan didengar oleh jutaan rakyat Indonesia. Tuhan bersamamu putra putra Irian Jaya.Amien amien amien.

2. Hengky, sekedar beberapa nasehat dari saya untuk mu dan pemain pemain Persipura lainnya ialah:

A. Jangan mau mengalah kepada putusan wasit yang nyata nyata merugikan kesebelasan kita.
B. Bermain dengan penuh keyakinan bahwa Persipura akan menang. Permainan dengan semangat yang tinggi kalau perlu mati di lapangan. Jangan emosi, jangan kena pancing oleh macam macam taktik dan tingkah laku kotor dan buruk lawanmu, sekali lagi jangan emosi!!
C. Jaga ketat, Risdiyanto,Andi Lala, Iswadi Idris( tugaskan orangnya siapa). Lapangan tengah jangan kosong(kuasai). Jangan beri kesempatan pemain Persija menembak ke gawang kita. Sapu bersih tiap pemain Persija yang ini berani membawa bola dimuka garis finalty. Sekali lagi jangan emosi!!!
D. Tiap kesempatan yang ada apalagi dekat dengan finalty lawan-shoot tendang langsung ke gawang lawan (15-20 meter)-Yafet –Auri- Timo dan lain lain. Sesungguhnya kiper Persija tidak begitu hebat. Apalagi bola rendah. Hati hati offside sistem mereka. Bola harus selalu di kaki kita operkanlah cepat ke kawanmu. Harus berani tabrakan (body touch). Main keras tetapi bukan kasar, sekali lagi jangan emosi!!!. Serangan dilakukan dari arah kelemahan musuh.(kiri kanan atau tengah)(Dari pertahanan musuh yang lemah).
E. Setiap pemain Persipura harus yakin bahwa sekarang kesempatan untuk menjadi juara Indonesia. Tiap pemain Persipura harus bermain semaksimal mungkin.

3. Hengky, selamat berjuang ! Kau dan kawan kawan mu pasti menang!

4. Sampaikan pertanyaan saya kepada seluruh pemain Persipura sebelum meninggalkan asrama menuju lapangan: Siapa yang akan menang Persija atau Persipura ? Jawablah keras!

Aku yang bangga,
Kawanmu

Ttd

(Acub Zainal)



Ternyata melalui selembar surat yang ditulis tangan oleh mantan Gubernur Provinsi Irian Jaya itu memberikan semangat dan motivasi yang tinggi bagi anak anak Persipura Mutiara Hitam untuk bertanding bersama kapten Hengki Heipon.

Tak heran kalau tim bertajuk Mutiara Hitam Persipura boleh masuk final lawan Persija pada Senin, 19 April 1976. Sebelum masuk ke final, Persipura berhasil mengandaskan PSMS Medan dalam pertandingan yang hanya berlangsung 26 menit karena PSMS Medan mengundurkan diri akibat memprotes gol offside di menit ke 26. Persipura dinyatakan menang WO 5-0 sehingga skor akhir menjadi 6-1.

Grand final dilakukan di stadiun Utama Gelora Bung Karno, Senayan Jakarta , pada Senin 19 April 1976 Persipura mengandaskan Persija dengan skor 4-3. Adapun gol gol tersebut masing masing dilesakan oleh kanan luar Persipura Nico Patipeme (11), striker Persipura Jakobus Mobilala (27), alm Pieter Atiamuna (31) dan alm Timo (67).Sedangkan Persija Jakarta masing masing dicetak oleh alm Iswadi Idris(41 dan 90) , Risdianto (36).

Sejak 1976 merupakan salah satu puncak prestasi dari tim Mutiara Hitam. Baru 26 tahun atau pada 2007 lalu, Eduard Ivakdalam bersama Boas Solossa dan kawan kawan kembali mempersembahkan gelar juara Liga Indonesia 2007 kepada masyarakat Kota Jayapura dan Papua. Di dalam final 2007 lalu Persipura berhadapan lagi dengan Persija. Dalam final gol gol dicetak oleh Boas T Solossa (17), Korinus Fingkreuw (83) dan Ian Luis Kabes( 101).Sedangkan Persija dilesakan oleh Agus Indra (9), Francis Wewengkang (54).

Adapun tulisan ini hanya sekedar mengenang kembali purnawirawan Jenderal berbintang satu Acub Zainal atas jasa jasanya terhadap kemajuan sepak bola di Papua. Selamat Jalan Bapak Acub Zainal, jasa mu akan memberi motivasi bagi kemajuan sepak bola di Papua guna menyumbang potensi pemain bola bagi Indonesia, Asia dan Eropah

Yosim Samba Sepak Bola dari Timur

Persipura Mutiara Hitam, ”Yosim Samba” Sepak Bola dari Timur

Oleh : Dominggus A Mampioper

Pengantar

Salam Olahraga !

BUKU berjudul Persipura Mutiara Hitam Yosim Samba Sepak Bola dari Timur tak lepas dari sekelumit catatan jurnalistik sejak 2001. Selama itu pula penulis terlibat dalam peliputan Liga Indonesia di Stadion Mandala di mana laga tim bertajuk Mutiara Hitam bermarkas.
Buku ini juga merupakan kelanjutan dan masukan dari buku Persipura edisi perdana berjudul Persipura Mutiara Hitam Sepak Bola dari Negeri Cenderawasih di mana penulis bersama mantan Kepala Biro AJI Papua Frits Ramandey pada Agustus 2008 lalu menerbitkan bagi pembaca pencinta Persipuramania.
Selain itu pada Indonesia Super Liga (ISL) 2008/2009 penulis selalu melakukan komunikasi dengan pelatih Persipura JF Tiago ketika Persipura bertandang mau pun saat bermain di kandang. Begitu pula komunikasi yang baik dengan mantan pelatih Persipura M Raja Isa selama menukangi skuad Mutiara Hitam.
Salah satu komunikasi dengan pelatih asal Brasil itu antara lain tertulis dalam pesan SMS,”Thanks juga atas message yang dikirim lewat Facebook tadi. Semoga persahabatan kami diberkati oleh Tuhan. Mohon dukungan doa buat perjuangan kami nanti sore.
Pada pertandingan sore itu Persipura berhasil kandaskan tim tamu dengan skor 2-0 masing masing dicetak Boaz dan Beto.
Berdasarkan hubungan dan komunikasi yang rutin dengan coach JF Tiago dan juga beberapa pemain pilar menambah keyakinan penulis untuk segera menuliskan sebuah buku lagi tentang Persipura.
Persipura sejak pertama kali ditangani pelatih gaek HB Samsi selalu mengaitkan semangat anak anak Mutiara Hitam dengan teknik dan cara cara bermain sepak ala Samba Brasil. Mulai dari umpan pendek sampai mengandalkan kecepatan kedua pemain sayap atau wing back.
Permainan Mutiara Hitam semakin lengkap ketika mulai ditangani pelatih Brazil baik Antonio G Netto yang hanya sebentar saja melatih Persipura mau pun JF Tiago hingga meraih scudetto Indonesia Super Liga (ISL) 2009 lalu.
Walau ada beberapa pemain asing lainnya dari Afrika tetapi dominasi Brasil cukup berpengaruh hingga tak heran kalau rasa permainan ala Samba Brazil. Perpaduan antara dua budaya baik Samba mau pun Yosim Pancar menyebabkan penulis memilih judul tersebut.

Penulis juga menyadari banyak terdapat kekurangan dalam penerbitan buku berjudul Persipura Mutiara Hitam Yosim Samba dari Ufuk Timur. Namun sebagaimana pepatah lama tak ada gading yang retak, hingga segala kekurangan tetap ditulis.

Tak lupa penulis menyampaikan terima kasih kepada semua pihak terutama rekan rekan wartawan peliput sepak bola seperti Izak Womsiwor Cenderawasih Pos, Jein Bisay Papua Times, Reis Bintang Papua selama ini bersama penulis turun ke lapangan menyaksikan laga Persipura, Liga Danone, dan juga pertandingan antar kampung Usia 15.
Secara khusus juga penulis mengucapkan terima kasih kepada Ferdinando Fairyo yang sejak menukangi Persipura U 18 dan kini asisten pelatih Persiram Raja Ampat selalu berdikusi dan memberikan masukan tentang perkembangan sepak bola.
Saya juga mengucapkan terima kasih kepada para wartawan yang tergabung dalam Aliansi Jurnalistik Independen (AJI) Biro Kota Jayapura, Pemimpin Redaksi (Pemred) Victor Mambor dan rekan rekan wartawan Tabloid Jubi serta rekan Makawaru Dacunha kini wartawan Harian Pagi Bintang Papua bersama penulis dalam melakukan peliputan di Stadion Mandala.



Oleh : Dominggus A Mampioper

Pengantar

Salam Olahraga !

BUKU berjudul Persipura Mutiara Hitam Yosim Samba Sepak Bola dari Timur tak lepas dari sekelumit catatan jurnalistik sejak 2001. Selama itu pula penulis terlibat dalam peliputan Liga Indonesia di Stadion Mandala di mana laga tim bertajuk Mutiara Hitam bermarkas.
Buku ini juga merupakan kelanjutan dan masukan dari buku Persipura edisi perdana berjudul Persipura Mutiara Hitam Sepak Bola dari Negeri Cenderawasih di mana penulis bersama mantan Kepala Biro AJI Papua Frits Ramandey pada Agustus 2008 lalu menerbitkan bagi pembaca pencinta Persipuramania.
Selain itu pada Indonesia Super Liga (ISL) 2008/2009 penulis selalu melakukan komunikasi dengan pelatih Persipura JF Tiago ketika Persipura bertandang mau pun saat bermain di kandang. Begitu pula komunikasi yang baik dengan mantan pelatih Persipura M Raja Isa selama menukangi skuad Mutiara Hitam.
Salah satu komunikasi dengan pelatih asal Brasil itu antara lain tertulis dalam pesan SMS,”Thanks juga atas message yang dikirim lewat Facebook tadi. Semoga persahabatan kami diberkati oleh Tuhan. Mohon dukungan doa buat perjuangan kami nanti sore.
Pada pertandingan sore itu Persipura berhasil kandaskan tim tamu dengan skor 2-0 masing masing dicetak Boaz dan Beto.
Berdasarkan hubungan dan komunikasi yang rutin dengan coach JF Tiago dan juga beberapa pemain pilar menambah keyakinan penulis untuk segera menuliskan sebuah buku lagi tentang Persipura.
Persipura sejak pertama kali ditangani pelatih gaek HB Samsi selalu mengaitkan semangat anak anak Mutiara Hitam dengan teknik dan cara cara bermain sepak ala Samba Brasil. Mulai dari umpan pendek sampai mengandalkan kecepatan kedua pemain sayap atau wing back.
Permainan Mutiara Hitam semakin lengkap ketika mulai ditangani pelatih Brazil baik Antonio G Netto yang hanya sebentar saja melatih Persipura mau pun JF Tiago hingga meraih scudetto Indonesia Super Liga (ISL) 2009 lalu.
Walau ada beberapa pemain asing lainnya dari Afrika tetapi dominasi Brasil cukup berpengaruh hingga tak heran kalau rasa permainan ala Samba Brazil. Perpaduan antara dua budaya baik Samba mau pun Yosim Pancar menyebabkan penulis memilih judul tersebut.

Penulis juga menyadari banyak terdapat kekurangan dalam penerbitan buku berjudul Persipura Mutiara Hitam Yosim Samba dari Ufuk Timur. Namun sebagaimana pepatah lama tak ada gading yang retak, hingga segala kekurangan tetap ditulis.

Tak lupa penulis menyampaikan terima kasih kepada semua pihak terutama rekan rekan wartawan peliput sepak bola seperti Izak Womsiwor Cenderawasih Pos, Jein Bisay Papua Times, Reis Bintang Papua selama ini bersama penulis turun ke lapangan menyaksikan laga Persipura, Liga Danone, dan juga pertandingan antar kampung U 15 di Kota Jayapura.
Secara khusus juga penulis mengucapkan terima kasih kepada Ferdinando Fairyo yang sejak menukangi Persipura U 18 dan kini asisten pelatih Persiram Raja Ampat selalu berdikusi dan memberikan masukan tentang perkembangan sepak bola.
Saya juga mengucapkan terima kasih kepada para wartawan yang tergabung dalam Aliansi Jurnalistik Independen (AJI) Biro Kota Jayapura, Pemimpin Redaksi (Pemred) Victor Mambor dan rekan rekan wartawan Tabloid Jubi serta rekan Makawaru Dacunha kini wartawan Harian Pagi Bintang Papua bersama penulis dalam melakukan peliputan di Stadion Mandala.

Dana Otsus dan Sepak Bola Papua

Salahkah dana Otsus dipakai untuk pembinaan sepak bola di Tanah Papua? Memang kalau mau diperdebatkan secara mendalam sudah pasti banyak pihak menegaskan boleh dipakai tetapi tunggu dulu, sejauhmana pemanfaatan dana tersebut memberikan digunakan. Sebenarnya penggunaan dana Otsus untuk pembinaan sepak bola boleh-boleh saja,asal bisa menjawab persoalan kemiskinan dan mengangkat harkat orang asli Papua.
Apalagi dalam UU Otsus Papua telah mengamanatkan bahwa pendanaannya digunakan untuk empat bidang prioritas antara lain kesehatan, pendidikan, peningkatan ekonomi rakyat dan pemberdayaan masyarakat asli Papua.
Aspek pendidikan menjadi salah satu aspek penting yang perlu disimak dan dikaji lebih mendalam. Pertama terbentuknya Sekolah Sepak Bola (SSB) di Papua merupakan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pembinaan terhadap sepak bola usia dini agar ke depan lahir pemain-pemain berbakat dan handal. Di sisi lain anak-anak juga diberi porsi latihan dasar sepak bola yang memadai dan juga agar anak-anak bisa terhindar dari bahaya narkoba dan minuman keras (miras)
SSB Emsyk, Waena sebagai salah satu contoh partisipasi masyarakat dalam menunjang keberadaan sekolah tersebut dengan melihat peran orang tua menitip anak-anak mereka untuk belajar dasar-dasar sepak bola. Memang di Papua tradisi sepak bola lahir seirama dengan sejarah penjajahan Belanda dan juga bentuk wujud perjuangan untuk memperoleh pengakuan dan eksistensi suatu masyarakat yang sedang mencari identitas.
Sepak bola mampu mengangkat harkat dan martabat serta harga diri orang Papua. “Hanya Persipura dan Sepak Bola yang bisa menghibur kitorang punya harga diri,”tutur Sekjen PDP M Thaha Al Hamid. Ya sepak bola telah diyakini sebagai sebuah perjuangan bagi masyarakat untuk melawan ketidak adilan dan kegagalan suatu system.
Namun cilakanya ketika berjuang untuk melawan system ekonomi dunia yang pincang, para pemilik modal pun ikut bermain menentukan harga dan nilai ekonomis bagi sebuah investasi bernama sepak bola.
Pembinaan sepak bola di Papua telah memberikan peran penting dalam kemajuan sepak bola di tanah air dan khususnya Papua. Pada 1986-1990 pertama kali dibentuk Pendidikan dan Latihan Sepak Bola (PPLP) Papua angkatan pertama. Berkat PPLP-Papua lahirlah pemain-pemain bertalenta dan berbakat Papua antara lain; Ronny Wabia, Crist Leo Yarangga; Aples Tecuari; Izak Fatari (alm); Ritham Madubun; Ferdinando Fairyo; Carolino Ivakdalam dan sebagainya. Angkatan selanjutny Elly Aiboi, Ian Luiz Kabes dan Ardiles Rumbiak.
Belum lagi jenjang pembinaan lewat TC Pra-PON – Papua yang melahirkan Boaz Solossa, Ricardo Salampessy, Korinus Fingkreuw; Cristian Worobay; Gerald Pangkali, Imanuel Padwa hingga Venri Mofu, Octo Maniani; Titus Bonay. Melihat prestasi dan keberhasilan pendidikan berjenjang dalam sepak bola di Papua berarti hampir seratus persen anak-anak jebolan sekolah sepak bola bisa meraih prestasi gemilang.
Walau sebenarnya kompetisi usia muda mulai U12;U15 dan seterusnya belum secara teratur dan berjenjang diselenggerakan di Papua. Seandainya kompestisi berlangsung secara kontinu sudah pasti akan melahirkan lebih banyak pemain handal dari Papua.
Berbeda dengan Papua, iklim sepak bola di Brasil dan Argentina memang telah jauh berkembang searah jarum jam dengan sejarah penjajahan kedua negara di Amerika Latin. Perbudakan dan perkebunan besar di Amerika Latin melahirkan banyak protes termasuk sepak bola.
Argentina misalnya mayoritas penduduknya beragama Katolik Roma, namun sepak bola adalah agama kedua mereka. Sepak bola adalah permainan rakyat yang menjadi penglipur lara. Dengan sepak bola mereka melupakan sejenak kegetiran hidup dalam kemelaratan akibat korupsi dan kediktatoran Peron. Olahraga yang satu ini seakan-akan menjadi identitas nasional rakyat Argentina.
Masyarakat di sana sangat percaya, jika ada anak-anak berbakat yang lahir dari sepak bola, mereka akan terlepas dari jerat kemiskinan dan kemelaratan. Seperti halnya Brasil banyak bertebaran klub-klub sepak bola local,mulai dari yang kecil hingga yang besar dan kerap menjadi pemenang dalam liga nasional.
Maradona bintang sepak bola Argentina misalnya lahir di Lanus dengan ekonomi keluarga yang morat-marit tetapi sepak bola telah merubah hidupnya dari sengsara membawan kenikmatan dan kekayaan. Lionel Messy yang lahir dari keluarga sederhana dan mulai bermain bola di jalan-jalan distrik dan trotoar jalan. Bola yang dipakai pun sederhana terbuat dari kain, karet atau pun kulit. Kehebatannya mengolah si kulit bundar tampak jelas sejak usia muda hingga tak heran kalau Jorge Messy sang ayah membawanya ke Akademi Sepakbola Newell’s Old Boys. Hingga akhirnya hijrah ke Akademi Sepak Bola Barcelona dan kini pemain terbaik dunia.
Ini artinya bahwa bakat alam saja tidak cukup perlu ada pembinaan yang menyeluruh mulai dari etos pemain hingga membentuk mental bertanding dalam berkompetisi. Apalagi di sekolah sepak bola teknik dan strategi sepak bola terus berkembang.
Lalu apa salahnya jika dana Otsus dipakai untuk melahirkan ratusan pemain sepak bola Papua? Apakah ini terlalu berlebihan dan membuang-buang biaya, waktu dan tenaga. Salah satu peluang yang terlihat adalah iklim kompetisi di Indonesia dan Asia sudah mulai mendukung lahirnya sepak bola profesionalisme. Artinya kalau Papua mampu mencetak ratusan pemain bola berbakat minimal mereka bisa berlaga di dalam liga nasional dan tidak tertutup kemungkinan bisa berkiprah di negara Asia lainnya.
Lolosnya dua skuad Papua, Persipura dan Persiwa, bisa menjadi jendela untuk mempromosikan sepak bola Papua ke Asia. Kalau prestasi dan kualitas permainan kedua tim menunjukan penampilan terbaik di Asia,maka tidak tertutup kemungkinan bagi jalan pintas sepak bola Papua.
Namun demikian ijinkanlah penulis mengutip tulisan Yanuaris G. Douw dalam Tabloid Jub,Kamis 18 Juni-1 Juli 2009, berjudul, Dibalik Euphoria Kemenangan Tim Mutiara Hitam Persipura antara lain mengingatkan,
Pertama, prestasi dalam dunia sepak bola tetap dipertahankan, namun prestasi dan dan semangat sportivitas itu perlu dinampakan juga dalam kemajuan bidang-bidang kemanusiaan lain.
Kedua, pemerintah perlu transparan kepada masyarakat Papua mengenai sumber dana serta total penggunaan dana bagi tim-tim sepakbola di Tanah Papua. Hal ini perlu demi menghindari kesan bahwa sebagian besar dana-dana APBD dan Otsus dihabiskan dalam dunia olahraga.
Ketiga,penggunaan dana APBD dan Otsus diusahakan tidak dihabiskan dalam kegiatan-kegiatan ceremonial belaka tetapi penggunaannya lebih dialihfungsikan pada kegiatan-kegiatan yang mengatasi masalah-masalah mendasar yang telah berakar di dalam masyarakat.

Terlepas dari pro dan kontra tentang pemanfaatan dana-dana Otsus di Papua, sepanjang mampu mengangkat derajat dan kemiskinan orang Papua, maka sepak bola juga bisa digunakan sebagai jalan pintas menuju jalan kebebasan.
George Weah pemain sepak bola asal Liberia mampu memberikan penghasilannya kepada negara karena bermain sepak bola. Didier Drogba bercita-cita akan membangun rumah sakit di Pantai Gading dan berjuang untuk perdamaian di negaranya. Bukankah sepak bola diyakini bisa menjadi jalan keluar untuk mengangkat harkat dan martabat orang Papua.
Acub Zainal adalah salah seorang tokoh pencetus olahraga Papua yang mampu melihat ke depan. Meski tidak memiliki dana Otsus dan APBD yang terbatas almarhum Acub Zainal membangun fasilitas olahraga di Papua sejak 1970 an guna menyiapkan jalan bagi orang Papua berprestasi.

Sabtu, 12 Desember 2009

Irian Jaya Lawan Hitachi Jepang


Kesebelasan irian jaya yang teknik dan ketrampilannya belum pantas dipuji, kalah 2-1 dari kesebelasan hitachi dari jepang. ada beberapa pemain irian yang berbakat, yang bermain cukup lumayan.
MENGALAHKAN lawan dalam angan-angan memang terlalu gampang. Kenyataanya yang tidak selalu begitu. “Bagaimana, mau menang atau kalah?”, tanya Presiden pada anak-anak Kesebelasan Irian Jaya minggu lalu di Bina Graha. Mereka hanya tersenyum. Seperti biasanya Acub Zaenal dengan cepat menjawab: “Kemungkinan kita menaag 3-1 , pak”. Apa yang terjadi kemudias sulit untuk diramalkan Acub Zaenal. Di bawah gemercik hujan membasuh Senayan dan terlebih dahulu telah ketinggalan: 1-0. Kesebelasas Hitachi menundukkan Irian Jaya: 2-1. Kemakluman yang sudah diduga sejak pertama. Karena apa yang disuguhkan putera-putera Irian Jaya petang itu, baik dari segi teknik maupun ketrampilan bermain bola memang belum terlalu pantas buat dipuji. Kecuali pada semangat dan pola permainan kerasnya barangkali. Namun dengan langgam demikian tidak melumpuhkan trio ujung tombak Irian Jaya: Niko Pattipeme, Timo Kapisa- clan Dolf Rumbino dalam serangan. Hanya saja penyelesaian mereka yang jarang menemui sasaran. Serobot. Sebaliknya pemain-pemain Hitachi juga terbentur dengan sifat keras anak-anak Irian Jaya untuk melakukan serangan-serangan produktif. Karena di setiap lini mereka sudah dihadang dalam serobotan fanpa pola. Kalau perlu dengan benturan badan sekalian: “Rasanya seperti mai berantam saja”, ajar Minoru Kobata pada TEMPO. Untuk selanjutnya mereka mencoba menghindarkan diri dari perebutan-perebutan bola sedikit mungkin_dengan memakai taktik operan panjang. Dan hasilnya memang tidak cermat: Penyerang tengah Hiroe Ishii dan kiri luar Yusuke Ohmi sering luput dalam peluang, karena pores halang Henk Heipon dan Martin Burwos dengan cepat menghalau setiap serangan mereka. Gol pertama untuk kesebelasan Hitachi akhirnya tercipta juga pada menit ke-67. Sundulan Shigeru Takanishi dari jarak 5 meter dalam , suatu kerja sarila dengan Hiroo Ishii dare Shigeo, Asai berhasil memperdayakan John Pulalo. 5 menu kemudian penyerang tengah Irian Jaya, Timo Kapisa dengan suatu tembakan melambung jerak jauh berhasil menusuk gawang . Tatsuhiku Seta. Dan menyamakan kedudukan: 1-1. Rele. Keadaan seri itu, 2 menit kemudian dirobah oleh Hiroo Ishii yang menerima operan dari Hiroshi Nakayama yang bergerak dari rusuk kanan.. Sementara bak kanan Dicky Maury yang luput mengontrol bola tak dapat berbuat apa-apa. Kedudukan, tidak berubah sampai menit terakhir. Yang cukup mectarik perhatian sore itu adalah terlihatnya pemain-pemain berbakat dari Irian Jaya yang kalau disentuh dengan tangan ahli, bukannya tidak mungkin memperkuat barisan PSSI untuk waktu yang akan datang. Kendati demikian telah ada individu-individu yang bermain cukup lumayan. Di lini depan tercatat: Niko Pattipemedare Niko Kapisa. Di barisan tengah Henk Heipon tampak sebagai poros: halang yang hampir sempurna. Kemudian menyusul nama-nama: Martini Burwos dare Marinas Matui. Kini yang tinggal hanya menurun pola-pola dan taktik raja pada mereka. Kalau soal stamina anak-anak Irian Jaya tak usah ditanya. “Kita cukup kuat untuk 2 x 45 naenit lagi”, ajar Henk Heipon. Meski sedikit omong besar kenyataannya ketika keluar lapangan mereka memang tidak memperlihatkan rasa keletihan. Cuma dalam soal intelegensi, apakah julukan Pele-Pele Indonesia yang konon sebutan Presiden Suharto itu tidak terlalu berat beat mereka? Itulah yang patut diketahui oleh PSSI. Jika nanti improvisasi mereka dilapangan hijau bagai Edson, Arantes do Nascimentu bukan tidak mungkin penonton akan berteriak: Samba! Pole! Samba!

Jumat, 02 Oktober 2009

Dispensasi Timnas Demi Gelar Sarjana Kabes

VIVAnews - Walau jelas memberi ultimatum kepada semua awak timnas Pra Piala Asia (PPA) 2011 agar patuh dan taat kepada pemanggilan timnas, Manajer Andi Darussalam Tabusala, memberi kelonggaran untuk datang telat kepada pemain Persipura Jayapura, Ian Kabes.

Maklum, pemain kelahiran Jayapura, 14 Mei 1986 itu akhirnya dinyatakan lulus dari tempatnya kuliah, di Universitas Cendrawasih. Pada pekan ini, pemain kidal ini akan segera diwisuda.

“Untuk Kabes sudah ada pemberitahuan resmi, bahwa yang bersangkutan terpaksa datang terlambat pada Kamis (1 Oktober 2009) mendatang, karena harus mengikuti wisuda di Universitas Cendrawasih, Jayapura, pekan ini,” tukas Andi kepada GOSport.

Sebelumnya, pada 4 Juli lalu Ian sempat memilih mundur dari TC timnas PPA 2011 karena berbenturan dengan jadwal studi di Universitas Cendrawasih. Kabes tengah menjalani praktik kerja lapangan yang menjadi studi wajib di universitasnya. Karena itu, dia tak mungkin menyepelekan hal tersebut.

“Sekarang Kabes sudah lulus dan sudah melakukan konfirmasi untuk persiapan wisuda. Jadi, mungkin dia baru bergabung di Sawangan pada Kamis nanti. Pemberitahuannya jelas dan alasannya dapat dipertanggungjawabkan,” tegas Andi.

Persipura memastikan kedatangan dua pilar lainnya, Boaz Solossa dan Ricardo Salampessy pada Selasa, 29 September 2009. Sedangkan Pelatih Pelita Jaya, Fandi Ahmad juga meyakini bahwa timnya tak keberatan melepas tiga tenaga intinya: Firman Utina, M Ridwan dan Dian Agus Prasetyo masuk TC PPA 2011.

“Mereka baru terbang dari Palembang, Senin (28 September 2009), usai ujicoba dengan Sriwijaya FC pada Minggu lalu. Saya mengizinkan mereka. Toh keterlambatan itu sudah diketahui oleh Badan Tim Nasional (BTN) dan pelatih timnas, Benny Dollo. Jadi tak ada masalah,” bilang Fandi.

Trio Pelita itu sudah datang di Sawangan, Senin sore, 28 September 2009. Apalagi, tempat TC timnas juga markas Pelita Jaya.

Laporan: Artha Tidar/GOSport

Ian Luiz Kabes Diberi Aplaus Saat Wisuda

Oleh : Dominggus A Mampioper | 01-Okt-2009, 05:31:46 WIB

KabarIndonesia - Bukan di lapangan hijau saja salah satu pilar Persipura Ian Luiz Kabes mendapat aplaus tetapi saat namanya dipanggil untuk tampil di depan Rektor Uncen Prof Dr B Kambuaya, MBA. Kontan para undangan yang memadati ruangan Auditorium Uncen berkapasitas ribuan itu langsung memberikan aplaus kepada Kabes saat diwisuda bersama dengan rekan rekannya dari FISIP Uncen.

Ian Luiz Kabes kelahiran Jayapura, 14 Mei 1986 adalah salah satu dari 1763 mahasiswa dari pasca sarjana, sarjana dan program diploma.“Pendidikan juga penting,” tutur anak dari Sefnat Kabes usai wisuda Rabu (30/9).

Selanjutnya Kabes akan kembali ke Jakarta untuk membela tim PSSI dalam Sea Games nanti dan tentunya Persipura. Bukan hanya Kabes saja yang diwisuda tetapi salah satu rekannya Ardiles Rumbiak yang kini membela skuad Gabus Dafonsoro.

Jumat, 25 September 2009

Jack Komboi, dari Lapangan Hijau ke Kursi Dewan


KabarIndonesia - Jika tak ada aral melintang, palang pintu Persipura Jack Kamasan Komboi akan dilantik menjadi anggota DPRP Provinsi Papua pada Oktober mendatang. Dia telah ditetapkan KPU Provinsi Papua sebagai anggota DPRP dari Partai Hanura Provinsi Papua dari daerah pemilihan wilayah I Kabupaten Jayapura dan Kota Jayapura.

Menanggapi pertanyaan wartawan perihal menduduki kursi dewan, dia hanya tersenyum saja dan tetap menekuni sepak bola dan tetap membicarakan persoalan olah raga di Gedung DPRD Provinsi Papua. Agaknya bagi Jack mungkin pekerjaan baru yang akan digelutinya jauh dari keperkasaannya menjaga kenyamanan lini belakang Persipura. Terlahir sebagai anak pejabat karena almarhum ayahnya merupakan Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Papua tetapi tidak membuatnya besar kepala. Penampilannya biasa saja seperti warga kebanyakan, bersahaja dan sederhana. Bahkan adik kandung almarhumah ibunya, yakni drh. Constan Karma pernah pula menjadi Wakil Gubernur Provinsi Papua.
Tentang alasan yang membuat ia terjun ke dunia politik, Jack mengaku tertantang untuk mensejajarkan Papua yang menurutnya masih tertinggal, dengan daerah-daerah lain di Indonesia.
“Kenapa di daerah lain bisa maju, di sini tidak? Padahal potensi Papua sangat luar biasa. Bila saya terpilih, saya akan berjuang membangun Papua agar bisa maju dan sejajar dengan daerah lain," katanya penuh semangat.

Kendati demikian, Jack Komboy sendiri masih belum memutuskan apakah akan berhenti bermain sepakbola, walau sudah terpilih menjadi anggota DPRD Papua.

Walaupun sejak anak-anak selalu bermain sepak bola patah kaleng tetapi sebenarnya Jack Komboi tak pernah bercita-cita menjadi pemain bola. Perjalanan hidupnya berkata lain, dia menjadikan lapangan hijau sebagai tempat untuk meniti karirnya. Sewaktu masih duduk di bangku sekolah, sudah bergabung dengan klub sepak bola. Ayah kandungnya pernah pula mengurus sepak bola, yakni Klub Putra Rimba dan menjadi Pengurus Persipura Jayapura. Pada 1998, Jack bergabung dengan PS. Cenderawasih. Tak perlu menunggu lama, tim elit asal Papua, Persipura Jayapura langsung tertarik pada talenta Jack.
Sejak memperkuat skuad Mutiara Hitam, akhirnya Jack memantapkan diri menjadikan sepak bola sebagai pilihan hidup. Pilihan itu memang tepat. Setelah sempat pindah ke PSM Makassar, pemain kelahiran Jayapura ini kembali memperkuat Persipura di musim 2005.

Dengan postur 180 cm, Jack sangat cocok berposisi sebagai pemain bertahan. Tinggi tubuhnya dengan mudah menghalau bola-bola atas. Tak cuma piawai bertahan, dengan tinggi tubuhnya juga, Jack kerap menjebol gawang musuh. Bola asal tendangan penjuru jadi makanan empuk Jack.

Ketika membela tim bertajuk Juku Eja PSM Makassar, Jack pernah berujar, ”Hati Kecil saya tetap rindu ingin bermain di Persipura tetapi pihak menejemen tidak segera mengontrak kami dan tidak ada ketegasan, sehingga terpaksa kami hijrah bermain ke PSM Makassar.”

Lebih lanjut Komboi menuturkan sepak bola sudah menjadi pekerjaan dan penghasilan utama. Kalau tidak ada kontrak yang jelas, hal ini sudah pasti akan membuat konsentrasi pemain buyar. Jack Komboi dan Eduard Ivakdalam telah membawa Persipura Juara Liga Indonesia 2005 dan Indonesia Super Liga 2009. Kini keduanya bersama skuad Persipura bersiap diri menuju Liga Champion Asia.

Walau belakangan ini penampilan Jack Komboi sudah agak menurun tetapi dia bersama sang jenderal lapangan tengah Persipura Eduard Ivakdalam akan membawa Persipura ke ajang Piala Champion Asia. Di dalam skuad Persipura hanya Edu dan Jack merupakan pemain senior, bahkan wakil kapten selalu disandangnya saat Eduard ditarik keluar lapangan. Tinggal menghitung hari lagi Jack Komboi sudah duduk di kursi dewan dan tentunya tak akan melupakan sepak bola. Saat memperkuat PSM, dia pernah menjuarai Liga Indonesia dan mewakili Indonesia ke Liga Champion Asia.


DATA DIRI
Tempat/tanggal lahir: Jayapura, 18 April 1977
Tinggi/berat: 180 cm/75 kg
Klub: Persipura Jayapura
Posisi: belakang

KARIR
1998: PS. Cenderawasih
1998-2002: Persipura Jayapura
2003-2004: PSM Makassar
2005-2008: Persipura Jayapura