Senin, 10 Mei 2010

Acub Zainal dan Seragam Persipura

Seragam kebesaran Persipura Merah Hitam semakin bersinar tatkala Acub Zainal bekas Panglima Kodam XVII/Cenderawasih dan Gubernur Irian Jaya melibatkan diri sebagai pembina dan tokoh olaharga di tanah Papua. Seragam hitam merah ternyata mendapat restu dari Acub Zainal tatkala anak anak Mutiara Hitam mulai mengenakannya.
“Waktu kita mengusulkan warna merah hitam bagi kesebelasan Persipura, langsung Pak Acub setuju,”ujar Gentho Adolf Rumbino .
Bahkan kata Rumbino beliau menegaskan warna merah artinya berani dan hitam tandanya hancurkan setiap lawan Persipura.
Namun sang jenderal yang pada 4 Oktober 2009 lalu telah meninggal dinihari pukul 02.20 dikediamannya Jalan Berlian 1 Nomor 20 Cilandak Jakarta banyak berbuat bagi kemajuan olahraga di tanah Papua termasuk sepak bola.
Acub Zainal dengan pangkat terakhir Brigadir Jenderal TNI (Purnawirawan) pergi dalam usia 81 tahun–lahir pada 19 September 1927–dan meninggalkan empat orang anak, yaitu Reinny, Iwan, Lucky, dan Happy.
Acub Zainal lebih dikenal sebagai tokoh sepak bola ketimbang kiprahnya di pemerintahan.
Ketika menjadi Gubernur Irian Jaya (sekarang Papua) periode 1973-1978, nama almarhum menjadi harum ketika membawa Persipura menjadi juara Perserikatan 1976. Waktu itu, Acub Zainal menjadi orang yang paling dicintai masyarakat Irian Jaya.
Acub Zainal–kami, para wartawan, memanggilnya dengan sebutan Jenderal–adalah salah satu pendiri Galatama, kompetisi sepak bola semiprofesional yang diluncurkan pada 8 November 1978. Dia mendirikan klub Galatama Perkesa 78 dan Arema Malang yang dikelola Lucky. Kini Arema sudah beralih dari Bentoel ke menejemen baru Abu Rizal Bakri Group.
Almarhum pernah menjadi salah satu Ketua PSSI pada era kepengurusan Kardono (1983-1987 dan 1987-1991). Bersama Andi Darussalam Tabusalla, Acub Zainal memimpin Galatama. Acub sebagai administrator dan Andi sebagai sekretaris.
“Dia guru, dia pemimpin berkarakter,” kata Andi .
Jenderal dikenal sebagai salah satu tokoh yang gigih memperjuangkan mutu kompetisi Galatama. Selama delapan tahun, tim nasional, yang bermateri pemain-pemain yang terjun dalam kompetisi Galatama, mencatat empat prestasi fenomenal: juara subgrup babak kualifikasi Piala Dunia 1986 Zona Asia, semifinalis Asian Games 1986, serta peraih medali emas SEA Games 1987 Jakarta dan SEA Games 1991 Manila.
Kemarin, sebelum upacara pemakaman, para pengantar masih bercerita seputar kiprah Jenderal ketika masih menjadi pengelola sepak bola nasional. Ketua Badan Tim Nasional Rahim Soekasah, mantan manajer tim nasional SEA Games Singapura 1993 Andrie Amin, pengurus PSSI Max Boboy, bersama beberapa rekan wartawan senior kembali mengenang Acub Zainal. “Dia orang yang keras,” kata Max Boboy.
Sikap keras Jenderal yang digambarkan Max Boboy adalah ketika Acub Zainal menjabat Ketua Tim Penyelidikan Penanggulangan Masalah Suap. Waktu itu, Jenderal menghadapi sekaligus memberangus hantu-hantu suap yang masuk ranah sepak bola.

Surat Acub Zainal Untuk Persipura


Almarhum Brigjen (Purn) Acub Zainal sangat dikenal dalam persepak bolaan di Indonesia tetapi bagi masyarakat Papua dia adalah pelopor dan pendorong semangat sepak bola di Papua. Bahkan ketika sudah tidak lagi menjabat Gubernur Irian Jaya dia selalu memberikan semangat dan motivasi kepada anak anak Mutiara Hitam ketika hendak berlaga di Perserikatan PSSI.

Mantan gelandang dan pemain Persipura era 1970 an yang pernah memperkuat Persipura saat final melawan Persija Jakarta 1976, Benny Yensenem menyimpan surat dari almarhum Acub Zainal kepada tim Mutiara Hitam untuk berjuang melawan Persija di final dalam laga merebut juara di Stadion Gelora Bung Karno, Senayan.

Adapun isi surat yang peroleh Jubi dari Benny Yensenen di Jayapura belum lama ini sebagai berikut,

Bandung, 18 April 1976.
Hengki Heipon, kapten Persipura

1. Kalau ada manusia yang paling bangga paling pada saat ini, karena Persipura masuk final adalah saya. Saya sangat bangga atas hasil gemilang yang telah dicapai oleh putra putra Irianku, meski pun saya kini bukan apa apa lagi dan tidak berada di Irian lagi.Tetapi hatiku selalu berada padamu semua. Cita cita ku keinginan ku ialah Persipura (Putra putra Irian Jaya) jadi juara Indonesia. Semoga impian ku impian mu semua akan menjadi kenyataan, ialah pada tanggal 19 April 1976 Persipura mengalahkan Persija dengan disaksikan oleh ribuan penonton di Senayan dan didengar oleh jutaan rakyat Indonesia. Tuhan bersamamu putra putra Irian Jaya.Amien amien amien.

2. Hengky, sekedar beberapa nasehat dari saya untuk mu dan pemain pemain Persipura lainnya ialah:

A. Jangan mau mengalah kepada putusan wasit yang nyata nyata merugikan kesebelasan kita.
B. Bermain dengan penuh keyakinan bahwa Persipura akan menang. Permainan dengan semangat yang tinggi kalau perlu mati di lapangan. Jangan emosi, jangan kena pancing oleh macam macam taktik dan tingkah laku kotor dan buruk lawanmu, sekali lagi jangan emosi!!
C. Jaga ketat, Risdiyanto,Andi Lala, Iswadi Idris( tugaskan orangnya siapa). Lapangan tengah jangan kosong(kuasai). Jangan beri kesempatan pemain Persija menembak ke gawang kita. Sapu bersih tiap pemain Persija yang ini berani membawa bola dimuka garis finalty. Sekali lagi jangan emosi!!!
D. Tiap kesempatan yang ada apalagi dekat dengan finalty lawan-shoot tendang langsung ke gawang lawan (15-20 meter)-Yafet –Auri- Timo dan lain lain. Sesungguhnya kiper Persija tidak begitu hebat. Apalagi bola rendah. Hati hati offside sistem mereka. Bola harus selalu di kaki kita operkanlah cepat ke kawanmu. Harus berani tabrakan (body touch). Main keras tetapi bukan kasar, sekali lagi jangan emosi!!!. Serangan dilakukan dari arah kelemahan musuh.(kiri kanan atau tengah)(Dari pertahanan musuh yang lemah).
E. Setiap pemain Persipura harus yakin bahwa sekarang kesempatan untuk menjadi juara Indonesia. Tiap pemain Persipura harus bermain semaksimal mungkin.

3. Hengky, selamat berjuang ! Kau dan kawan kawan mu pasti menang!

4. Sampaikan pertanyaan saya kepada seluruh pemain Persipura sebelum meninggalkan asrama menuju lapangan: Siapa yang akan menang Persija atau Persipura ? Jawablah keras!

Aku yang bangga,
Kawanmu

Ttd

(Acub Zainal)



Ternyata melalui selembar surat yang ditulis tangan oleh mantan Gubernur Provinsi Irian Jaya itu memberikan semangat dan motivasi yang tinggi bagi anak anak Persipura Mutiara Hitam untuk bertanding bersama kapten Hengki Heipon.

Tak heran kalau tim bertajuk Mutiara Hitam Persipura boleh masuk final lawan Persija pada Senin, 19 April 1976. Sebelum masuk ke final, Persipura berhasil mengandaskan PSMS Medan dalam pertandingan yang hanya berlangsung 26 menit karena PSMS Medan mengundurkan diri akibat memprotes gol offside di menit ke 26. Persipura dinyatakan menang WO 5-0 sehingga skor akhir menjadi 6-1.

Grand final dilakukan di stadiun Utama Gelora Bung Karno, Senayan Jakarta , pada Senin 19 April 1976 Persipura mengandaskan Persija dengan skor 4-3. Adapun gol gol tersebut masing masing dilesakan oleh kanan luar Persipura Nico Patipeme (11), striker Persipura Jakobus Mobilala (27), alm Pieter Atiamuna (31) dan alm Timo (67).Sedangkan Persija Jakarta masing masing dicetak oleh alm Iswadi Idris(41 dan 90) , Risdianto (36).

Sejak 1976 merupakan salah satu puncak prestasi dari tim Mutiara Hitam. Baru 26 tahun atau pada 2007 lalu, Eduard Ivakdalam bersama Boas Solossa dan kawan kawan kembali mempersembahkan gelar juara Liga Indonesia 2007 kepada masyarakat Kota Jayapura dan Papua. Di dalam final 2007 lalu Persipura berhadapan lagi dengan Persija. Dalam final gol gol dicetak oleh Boas T Solossa (17), Korinus Fingkreuw (83) dan Ian Luis Kabes( 101).Sedangkan Persija dilesakan oleh Agus Indra (9), Francis Wewengkang (54).

Adapun tulisan ini hanya sekedar mengenang kembali purnawirawan Jenderal berbintang satu Acub Zainal atas jasa jasanya terhadap kemajuan sepak bola di Papua. Selamat Jalan Bapak Acub Zainal, jasa mu akan memberi motivasi bagi kemajuan sepak bola di Papua guna menyumbang potensi pemain bola bagi Indonesia, Asia dan Eropah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar