Senin, 10 Mei 2010

Dana Otsus dan Sepak Bola Papua

Salahkah dana Otsus dipakai untuk pembinaan sepak bola di Tanah Papua? Memang kalau mau diperdebatkan secara mendalam sudah pasti banyak pihak menegaskan boleh dipakai tetapi tunggu dulu, sejauhmana pemanfaatan dana tersebut memberikan digunakan. Sebenarnya penggunaan dana Otsus untuk pembinaan sepak bola boleh-boleh saja,asal bisa menjawab persoalan kemiskinan dan mengangkat harkat orang asli Papua.
Apalagi dalam UU Otsus Papua telah mengamanatkan bahwa pendanaannya digunakan untuk empat bidang prioritas antara lain kesehatan, pendidikan, peningkatan ekonomi rakyat dan pemberdayaan masyarakat asli Papua.
Aspek pendidikan menjadi salah satu aspek penting yang perlu disimak dan dikaji lebih mendalam. Pertama terbentuknya Sekolah Sepak Bola (SSB) di Papua merupakan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pembinaan terhadap sepak bola usia dini agar ke depan lahir pemain-pemain berbakat dan handal. Di sisi lain anak-anak juga diberi porsi latihan dasar sepak bola yang memadai dan juga agar anak-anak bisa terhindar dari bahaya narkoba dan minuman keras (miras)
SSB Emsyk, Waena sebagai salah satu contoh partisipasi masyarakat dalam menunjang keberadaan sekolah tersebut dengan melihat peran orang tua menitip anak-anak mereka untuk belajar dasar-dasar sepak bola. Memang di Papua tradisi sepak bola lahir seirama dengan sejarah penjajahan Belanda dan juga bentuk wujud perjuangan untuk memperoleh pengakuan dan eksistensi suatu masyarakat yang sedang mencari identitas.
Sepak bola mampu mengangkat harkat dan martabat serta harga diri orang Papua. “Hanya Persipura dan Sepak Bola yang bisa menghibur kitorang punya harga diri,”tutur Sekjen PDP M Thaha Al Hamid. Ya sepak bola telah diyakini sebagai sebuah perjuangan bagi masyarakat untuk melawan ketidak adilan dan kegagalan suatu system.
Namun cilakanya ketika berjuang untuk melawan system ekonomi dunia yang pincang, para pemilik modal pun ikut bermain menentukan harga dan nilai ekonomis bagi sebuah investasi bernama sepak bola.
Pembinaan sepak bola di Papua telah memberikan peran penting dalam kemajuan sepak bola di tanah air dan khususnya Papua. Pada 1986-1990 pertama kali dibentuk Pendidikan dan Latihan Sepak Bola (PPLP) Papua angkatan pertama. Berkat PPLP-Papua lahirlah pemain-pemain bertalenta dan berbakat Papua antara lain; Ronny Wabia, Crist Leo Yarangga; Aples Tecuari; Izak Fatari (alm); Ritham Madubun; Ferdinando Fairyo; Carolino Ivakdalam dan sebagainya. Angkatan selanjutny Elly Aiboi, Ian Luiz Kabes dan Ardiles Rumbiak.
Belum lagi jenjang pembinaan lewat TC Pra-PON – Papua yang melahirkan Boaz Solossa, Ricardo Salampessy, Korinus Fingkreuw; Cristian Worobay; Gerald Pangkali, Imanuel Padwa hingga Venri Mofu, Octo Maniani; Titus Bonay. Melihat prestasi dan keberhasilan pendidikan berjenjang dalam sepak bola di Papua berarti hampir seratus persen anak-anak jebolan sekolah sepak bola bisa meraih prestasi gemilang.
Walau sebenarnya kompetisi usia muda mulai U12;U15 dan seterusnya belum secara teratur dan berjenjang diselenggerakan di Papua. Seandainya kompestisi berlangsung secara kontinu sudah pasti akan melahirkan lebih banyak pemain handal dari Papua.
Berbeda dengan Papua, iklim sepak bola di Brasil dan Argentina memang telah jauh berkembang searah jarum jam dengan sejarah penjajahan kedua negara di Amerika Latin. Perbudakan dan perkebunan besar di Amerika Latin melahirkan banyak protes termasuk sepak bola.
Argentina misalnya mayoritas penduduknya beragama Katolik Roma, namun sepak bola adalah agama kedua mereka. Sepak bola adalah permainan rakyat yang menjadi penglipur lara. Dengan sepak bola mereka melupakan sejenak kegetiran hidup dalam kemelaratan akibat korupsi dan kediktatoran Peron. Olahraga yang satu ini seakan-akan menjadi identitas nasional rakyat Argentina.
Masyarakat di sana sangat percaya, jika ada anak-anak berbakat yang lahir dari sepak bola, mereka akan terlepas dari jerat kemiskinan dan kemelaratan. Seperti halnya Brasil banyak bertebaran klub-klub sepak bola local,mulai dari yang kecil hingga yang besar dan kerap menjadi pemenang dalam liga nasional.
Maradona bintang sepak bola Argentina misalnya lahir di Lanus dengan ekonomi keluarga yang morat-marit tetapi sepak bola telah merubah hidupnya dari sengsara membawan kenikmatan dan kekayaan. Lionel Messy yang lahir dari keluarga sederhana dan mulai bermain bola di jalan-jalan distrik dan trotoar jalan. Bola yang dipakai pun sederhana terbuat dari kain, karet atau pun kulit. Kehebatannya mengolah si kulit bundar tampak jelas sejak usia muda hingga tak heran kalau Jorge Messy sang ayah membawanya ke Akademi Sepakbola Newell’s Old Boys. Hingga akhirnya hijrah ke Akademi Sepak Bola Barcelona dan kini pemain terbaik dunia.
Ini artinya bahwa bakat alam saja tidak cukup perlu ada pembinaan yang menyeluruh mulai dari etos pemain hingga membentuk mental bertanding dalam berkompetisi. Apalagi di sekolah sepak bola teknik dan strategi sepak bola terus berkembang.
Lalu apa salahnya jika dana Otsus dipakai untuk melahirkan ratusan pemain sepak bola Papua? Apakah ini terlalu berlebihan dan membuang-buang biaya, waktu dan tenaga. Salah satu peluang yang terlihat adalah iklim kompetisi di Indonesia dan Asia sudah mulai mendukung lahirnya sepak bola profesionalisme. Artinya kalau Papua mampu mencetak ratusan pemain bola berbakat minimal mereka bisa berlaga di dalam liga nasional dan tidak tertutup kemungkinan bisa berkiprah di negara Asia lainnya.
Lolosnya dua skuad Papua, Persipura dan Persiwa, bisa menjadi jendela untuk mempromosikan sepak bola Papua ke Asia. Kalau prestasi dan kualitas permainan kedua tim menunjukan penampilan terbaik di Asia,maka tidak tertutup kemungkinan bagi jalan pintas sepak bola Papua.
Namun demikian ijinkanlah penulis mengutip tulisan Yanuaris G. Douw dalam Tabloid Jub,Kamis 18 Juni-1 Juli 2009, berjudul, Dibalik Euphoria Kemenangan Tim Mutiara Hitam Persipura antara lain mengingatkan,
Pertama, prestasi dalam dunia sepak bola tetap dipertahankan, namun prestasi dan dan semangat sportivitas itu perlu dinampakan juga dalam kemajuan bidang-bidang kemanusiaan lain.
Kedua, pemerintah perlu transparan kepada masyarakat Papua mengenai sumber dana serta total penggunaan dana bagi tim-tim sepakbola di Tanah Papua. Hal ini perlu demi menghindari kesan bahwa sebagian besar dana-dana APBD dan Otsus dihabiskan dalam dunia olahraga.
Ketiga,penggunaan dana APBD dan Otsus diusahakan tidak dihabiskan dalam kegiatan-kegiatan ceremonial belaka tetapi penggunaannya lebih dialihfungsikan pada kegiatan-kegiatan yang mengatasi masalah-masalah mendasar yang telah berakar di dalam masyarakat.

Terlepas dari pro dan kontra tentang pemanfaatan dana-dana Otsus di Papua, sepanjang mampu mengangkat derajat dan kemiskinan orang Papua, maka sepak bola juga bisa digunakan sebagai jalan pintas menuju jalan kebebasan.
George Weah pemain sepak bola asal Liberia mampu memberikan penghasilannya kepada negara karena bermain sepak bola. Didier Drogba bercita-cita akan membangun rumah sakit di Pantai Gading dan berjuang untuk perdamaian di negaranya. Bukankah sepak bola diyakini bisa menjadi jalan keluar untuk mengangkat harkat dan martabat orang Papua.
Acub Zainal adalah salah seorang tokoh pencetus olahraga Papua yang mampu melihat ke depan. Meski tidak memiliki dana Otsus dan APBD yang terbatas almarhum Acub Zainal membangun fasilitas olahraga di Papua sejak 1970 an guna menyiapkan jalan bagi orang Papua berprestasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar