Senin, 10 Mei 2010

Yosim Samba Sepak Bola dari Timur

Persipura Mutiara Hitam, ”Yosim Samba” Sepak Bola dari Timur

Oleh : Dominggus A Mampioper

Pengantar

Salam Olahraga !

BUKU berjudul Persipura Mutiara Hitam Yosim Samba Sepak Bola dari Timur tak lepas dari sekelumit catatan jurnalistik sejak 2001. Selama itu pula penulis terlibat dalam peliputan Liga Indonesia di Stadion Mandala di mana laga tim bertajuk Mutiara Hitam bermarkas.
Buku ini juga merupakan kelanjutan dan masukan dari buku Persipura edisi perdana berjudul Persipura Mutiara Hitam Sepak Bola dari Negeri Cenderawasih di mana penulis bersama mantan Kepala Biro AJI Papua Frits Ramandey pada Agustus 2008 lalu menerbitkan bagi pembaca pencinta Persipuramania.
Selain itu pada Indonesia Super Liga (ISL) 2008/2009 penulis selalu melakukan komunikasi dengan pelatih Persipura JF Tiago ketika Persipura bertandang mau pun saat bermain di kandang. Begitu pula komunikasi yang baik dengan mantan pelatih Persipura M Raja Isa selama menukangi skuad Mutiara Hitam.
Salah satu komunikasi dengan pelatih asal Brasil itu antara lain tertulis dalam pesan SMS,”Thanks juga atas message yang dikirim lewat Facebook tadi. Semoga persahabatan kami diberkati oleh Tuhan. Mohon dukungan doa buat perjuangan kami nanti sore.
Pada pertandingan sore itu Persipura berhasil kandaskan tim tamu dengan skor 2-0 masing masing dicetak Boaz dan Beto.
Berdasarkan hubungan dan komunikasi yang rutin dengan coach JF Tiago dan juga beberapa pemain pilar menambah keyakinan penulis untuk segera menuliskan sebuah buku lagi tentang Persipura.
Persipura sejak pertama kali ditangani pelatih gaek HB Samsi selalu mengaitkan semangat anak anak Mutiara Hitam dengan teknik dan cara cara bermain sepak ala Samba Brasil. Mulai dari umpan pendek sampai mengandalkan kecepatan kedua pemain sayap atau wing back.
Permainan Mutiara Hitam semakin lengkap ketika mulai ditangani pelatih Brazil baik Antonio G Netto yang hanya sebentar saja melatih Persipura mau pun JF Tiago hingga meraih scudetto Indonesia Super Liga (ISL) 2009 lalu.
Walau ada beberapa pemain asing lainnya dari Afrika tetapi dominasi Brasil cukup berpengaruh hingga tak heran kalau rasa permainan ala Samba Brazil. Perpaduan antara dua budaya baik Samba mau pun Yosim Pancar menyebabkan penulis memilih judul tersebut.

Penulis juga menyadari banyak terdapat kekurangan dalam penerbitan buku berjudul Persipura Mutiara Hitam Yosim Samba dari Ufuk Timur. Namun sebagaimana pepatah lama tak ada gading yang retak, hingga segala kekurangan tetap ditulis.

Tak lupa penulis menyampaikan terima kasih kepada semua pihak terutama rekan rekan wartawan peliput sepak bola seperti Izak Womsiwor Cenderawasih Pos, Jein Bisay Papua Times, Reis Bintang Papua selama ini bersama penulis turun ke lapangan menyaksikan laga Persipura, Liga Danone, dan juga pertandingan antar kampung Usia 15.
Secara khusus juga penulis mengucapkan terima kasih kepada Ferdinando Fairyo yang sejak menukangi Persipura U 18 dan kini asisten pelatih Persiram Raja Ampat selalu berdikusi dan memberikan masukan tentang perkembangan sepak bola.
Saya juga mengucapkan terima kasih kepada para wartawan yang tergabung dalam Aliansi Jurnalistik Independen (AJI) Biro Kota Jayapura, Pemimpin Redaksi (Pemred) Victor Mambor dan rekan rekan wartawan Tabloid Jubi serta rekan Makawaru Dacunha kini wartawan Harian Pagi Bintang Papua bersama penulis dalam melakukan peliputan di Stadion Mandala.



Oleh : Dominggus A Mampioper

Pengantar

Salam Olahraga !

BUKU berjudul Persipura Mutiara Hitam Yosim Samba Sepak Bola dari Timur tak lepas dari sekelumit catatan jurnalistik sejak 2001. Selama itu pula penulis terlibat dalam peliputan Liga Indonesia di Stadion Mandala di mana laga tim bertajuk Mutiara Hitam bermarkas.
Buku ini juga merupakan kelanjutan dan masukan dari buku Persipura edisi perdana berjudul Persipura Mutiara Hitam Sepak Bola dari Negeri Cenderawasih di mana penulis bersama mantan Kepala Biro AJI Papua Frits Ramandey pada Agustus 2008 lalu menerbitkan bagi pembaca pencinta Persipuramania.
Selain itu pada Indonesia Super Liga (ISL) 2008/2009 penulis selalu melakukan komunikasi dengan pelatih Persipura JF Tiago ketika Persipura bertandang mau pun saat bermain di kandang. Begitu pula komunikasi yang baik dengan mantan pelatih Persipura M Raja Isa selama menukangi skuad Mutiara Hitam.
Salah satu komunikasi dengan pelatih asal Brasil itu antara lain tertulis dalam pesan SMS,”Thanks juga atas message yang dikirim lewat Facebook tadi. Semoga persahabatan kami diberkati oleh Tuhan. Mohon dukungan doa buat perjuangan kami nanti sore.
Pada pertandingan sore itu Persipura berhasil kandaskan tim tamu dengan skor 2-0 masing masing dicetak Boaz dan Beto.
Berdasarkan hubungan dan komunikasi yang rutin dengan coach JF Tiago dan juga beberapa pemain pilar menambah keyakinan penulis untuk segera menuliskan sebuah buku lagi tentang Persipura.
Persipura sejak pertama kali ditangani pelatih gaek HB Samsi selalu mengaitkan semangat anak anak Mutiara Hitam dengan teknik dan cara cara bermain sepak ala Samba Brasil. Mulai dari umpan pendek sampai mengandalkan kecepatan kedua pemain sayap atau wing back.
Permainan Mutiara Hitam semakin lengkap ketika mulai ditangani pelatih Brazil baik Antonio G Netto yang hanya sebentar saja melatih Persipura mau pun JF Tiago hingga meraih scudetto Indonesia Super Liga (ISL) 2009 lalu.
Walau ada beberapa pemain asing lainnya dari Afrika tetapi dominasi Brasil cukup berpengaruh hingga tak heran kalau rasa permainan ala Samba Brazil. Perpaduan antara dua budaya baik Samba mau pun Yosim Pancar menyebabkan penulis memilih judul tersebut.

Penulis juga menyadari banyak terdapat kekurangan dalam penerbitan buku berjudul Persipura Mutiara Hitam Yosim Samba dari Ufuk Timur. Namun sebagaimana pepatah lama tak ada gading yang retak, hingga segala kekurangan tetap ditulis.

Tak lupa penulis menyampaikan terima kasih kepada semua pihak terutama rekan rekan wartawan peliput sepak bola seperti Izak Womsiwor Cenderawasih Pos, Jein Bisay Papua Times, Reis Bintang Papua selama ini bersama penulis turun ke lapangan menyaksikan laga Persipura, Liga Danone, dan juga pertandingan antar kampung U 15 di Kota Jayapura.
Secara khusus juga penulis mengucapkan terima kasih kepada Ferdinando Fairyo yang sejak menukangi Persipura U 18 dan kini asisten pelatih Persiram Raja Ampat selalu berdikusi dan memberikan masukan tentang perkembangan sepak bola.
Saya juga mengucapkan terima kasih kepada para wartawan yang tergabung dalam Aliansi Jurnalistik Independen (AJI) Biro Kota Jayapura, Pemimpin Redaksi (Pemred) Victor Mambor dan rekan rekan wartawan Tabloid Jubi serta rekan Makawaru Dacunha kini wartawan Harian Pagi Bintang Papua bersama penulis dalam melakukan peliputan di Stadion Mandala.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar