Jumat, 29 Mei 2009

Persipura dan Tim Nasional



Catatan Ringan : Ian Situmorang

Boaz Solossa masih lapar. Putra asli Papua ini tidak puas hanya menjadi juara Djarum Liga Super Indonesia. Ada satu lagi mahkota yang sedang dia incar melengkapi double winner, Copa Dji Sam Soe!

Persipura, klub yang dibela Boaz, memang hebat. Sejak kompetisi nasional berubah wajah menjadi DivisiUtama pada 1995, kesebelasan Mutiara dari Timur ini mampu dua kali juara menyamai Persebaya dan Persik.

Musim kompetisi tahun lalu, Sriwijaya FC berhasil menyandingkan gelar Divisi Utama dan Copa. Prestasi seperti itulah yang ingin diwujudkan untuk menyempurnakan kejayaan mutiara-mutiara hitam tersebut.

Bagaimana peluang ke arah sana? Persipura telah memastikan gelar kampiun tiga pertandingan sebelum kompetisi berakhir. Ini menunjukkan dominasi luar biasa Ed uard Ivakdalam cs.

Satu kaki para hulubalang Persipura sudah berada di semifinal Copa Dji Sam Soe. Pertandingan pertama 8besar melawan tuan rumah PSMS diakhiri secara meyakinkan. Berlaga di kandang sendiri, Stadion Teladan Medan, Ayam Kinantan kalah 0-2.

Dalam perhitungan normal, sangat sulit bagi tim asuhan Rudy Keltjes itu membalikkan angka menjadi 3-2. Hampir tidak mungkin Persipura kalah di kandang, Stadion Mandala, dengan angka telak 0-3. Apalagi PSMS tengah berkonsentrasi untuk keluar dari zona degradasi.

Dengan modalke unggulan 2-0, ambisi Persipura mem buru mahkota juara Copa tetap tinggi. Optimisme itu terus dipelihara dengan mesin pembakar spirit lewat pelatih asal Brasil, Jacksen F. Tiago.

Selepas dari cedera panjang, Boaz kembali membuktikan sebagai bintang utama Indonesia. Jika semuaberjalan lancar,ayah satu anak ini akan mengubur reputasi pemain asing Cristian Gonzales.

Pemain asal Uruguay itu bakal tergusur dari daftar pencetak gol terbanyak untuk keempat kali secara berturut-turut. Hingga pertandingan ke-32, Boaz telah membukukan 25 gol, sedangkan Gonzales 24 gol. Obsesi menjadi pencetak gol terbanyak ini juga mendorong Boaz ingin tampil maksimal.

Tidak mungkin sebuah tim tampil menawan di lapangan bila di balik layar kacau-balau. Tertib permainan adalah gambaran nyata dari kerapi an organisasi dan unsur penopang lainnya.

Pemutusan hubungan kerja terhadap pelatih asal Malaysia, Raja Isa, adalah salah satu contoh. Merasa tidak cocok dan tak mampu mengeksploitasi talenta tersembunyi para pemain,ia langsung didepak dari kursi pelatih.

Pilihan tepat ketika tim manajemen menunjuk pelatih yang sudah merasakan kompetisi Indonesia. Mantan pemain Persebaya, Jacksen F. Tiago,berhasil menegakkan benang basah. Secara perlahan, keretakan di kubu Persipura dibenahi dan diajak berpacu.

Pendekatan personal Jacksen betul-betul mampu menyatukan visi pemain. Ia menyadarkan bahwa menjadi yang terbaik harus mengombinasikan antara kemampuan fisik dan teknis. Tidak boleh terganggu urusan bonus dan gaji.

Keberhasilan Persipura bukan tanpa kendala. Dibanding tahun 2005, kondisi keuangan tahun ini justru jauh lebih kecil. Jika sebelumnya menghabiskan dana 20 miliar, kini hanya 15 miliar, itu pun tidak lagi diambil daridanaAPBD, tapi melalui sponsor.

***


Menyelisik kinerja Persipura memaksa kita berpikir sejenak. Seberapa besar sih sebenarnya potensi yang tersimpan di bumi Papua itu? Benarkah PSSI selama ini tutup mata dan kurang antusias menggali dan mengasah para mutiara hitam itu?

Boleh jadi betul demikian. Terkadang orang salah menilai dengan hanya melihat kulit luarnya. Para pembina kita seolah sudah alergi lebih dulu menghadapi berbagai macam karakter, apalagi sikap pemberontak dari seorang bintang.

Padahal, kita tahudalam diri seorang pemain hebat sering tersembunyi sikap yang sulit ditebak. Hanya penanganan istimewa dan tepat yang mampu menggali kecemerlangan yang tersembunyi di dalam diri orang-orang brilian tersebut.

Banyak suara mengatakan pemain asal Papua sulit beradaptasi di tingkat nasional. Benarkah demikian? Jika benar, bukankah ini tugas PSSI untuk mengatasinya? Janganlah setiap perbedaan visi selalu diakhiri dengan mencoret nama pemain.

Persipura dan Persiwa sudah membuktikan dapat bekerja secara tim. Justru pelatihlah yang tidak memiliki kapasitas dalam menggali secara serius sehingga di tim nasional kita minim pemain asal Papua.

Tidak ada salahnya bila di kemudian hariIndonesia membentuk, misalnya,dua tim nasional bayangan. Satu tim di bawah Jacks enmelatih pemain yang berbasis di Indonesia Timur dan di Barat ditangani Benny Dollo. Nah, Tim Nasional Satu adalah perpaduan kedua tim tersebut.

Untuk mencapai suatu hasil, tidak ada salahnya PSSI melakukan perubahan. Siapa tahu dengan membangun kompetisi sesama pemain nasional, akan tercipta tim tangguh!

Pembaca, juara Djarum Liga Super Indonesia sudah dalam rangkulan Persipura. Mahkota Copa Dji Sam Soe dalam bidikan. Mungkinkah keduanya digabungkan? Menarik untuk terus diikuti.

Secara prestasi dan organisasi, Persipura telah memberi bukti. Namun, tetap tidak lengkap jika sebuah klub belum mampu mandiri dalam mengatasi kebutuhan dana hingga surplus. Nah, yang ini merupakan pekerjaan rumah setiap klub di Indonesia.

ian@bolanews.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar