Jumat, 29 Mei 2009

Hak Runner-up : Belum Tentu ke Asia




Konsistensi PSSI dalam mengirimkan wakil di kompetisi Asia sepertinya akan berubah lagi. Tahun lalu Joko Driyono, Direktur Kompetisi BLI, secara tegas menyatakan wakil Indonesia di LCA adalah juara ISL dan runner-up akan mengikuti play -off seiring penambahan jatah Indonesia oleh AFC.

Salah satu alasannya, juara Copa belum tentu klub profesional karena ada kemungkinan, meski sangat kecil,klub dari Divisi Utama atau Divisi Imenjadi juara. Padahal, mereka belum tentu klub profesional seperti syarat AFC untuk turnamen itu.

Namun, kini mungkin akan berubah lagi. Klub-klub pun perlu mencermati perubahan ini lebih dini. Posisi runner-up Djarum ISL, menurut Joko Driyono, belum tentu akan mewakili Indonesia ke ajang itu. “Kita akan menunggu sidangK omiteE ksekutif AFC yang akan memutuskan hal itu Agustus nanti,”kata Joko.

Sebelumnya, atau musim 2009, Indonesia diwakili Sriwijaya FC sebagai juara LI untuk LCA dan PSMS sebagai runner-up LI untuk play-off LCA atau ke Piala AFC jika gagal dalam play-off. Hal ini terpaksa dilakukan karena Sriwijaya juga juara ganda, LI dan Copa Indonesia 2007/2008. Keputusan mengirimkan PSMS tahun lalu diputuskan oleh Komite Eksekutif PSSI.

“Namun, di negara lain tren nya ternyata juara Copa atau semacam piala negara itu mewakili negara tersebut ke LCA. Ini juga akan menjadi pertimbangan kita ke depan,” t utur Joko.

Jika juara Copa akhirnya diputuskan PSSI mewakili Indonesia ke kompetisi Asia, tentunya Persib dan Persiwa, dua kandidat kuat runner-up Djarum ISL musim ini, bakal gugur. Sementaraituklub-klub lain seperti Persija, Sriwijaya FC, PSMS, bahkan Deltras dan Persijap masih punya kesempatan mengingat mereka masuk ke 8 besar Copa.

Persiwa Kecewa

Kondisi ini tentu disayangkan Jhon Banua, manajer Persiwa. “Persiwa bukan sekadar tim sepak bola, namun juga alat promosi daerah kamisekaligus menunjukkan jika Wamena layak jadi daerah investasi juga,” kata Jhon.

Andai pernyataan Joko benar adanya, orientasi Persib pun dipastikan bakal sedikit berubah. Jika selama ini Maung Bandung terus memburu poin agar menjadi runner-up dan berlaga di level Asia, kini paling hanya ingin menjadi runner-up untuk uang hadiah Rp 750 juta saja.

Tentunyaperlu segera melakukan klarifikasi agar di akhir kompetisi nanti tidak terjadi pemahaman yang berbeda di antara klub peserta. (Ary Julianto/Indra Ita)

>> Kembali ke Atas



Materi Pemain
Bidik Naturalisasi

Kegagalan di pentas Liga Champion Asia musim ini masih terbayang di kepala Rahmad Darmawan. Pelatih Sriwijaya FCitumemang tak menduga anak asuhnya bakal remuk di kancah Asia.

Namun, jika ada kesempatan kali kedua atau musim depan bertarung di level itu, RD sudah punya sejumlah jurus. “Kemarin saya terlalu percaya diridengan kemampuan menyerang pasukan kamisehingga banyak memasukkan pemain asing bertip e menyerang dari pada bertahan,”kata Rahmad, yang akrab dipanggil dengan RD.

Untuk memperbaikinya, ia akan menambal lini belakang dengan pemain yang punya kemampuan bertahan lebih tinggi. Salah satunya memaksimalkan legiun asing di sektor itu. Bukan tidak mungkin ia akan menambah pemain asing untuk mendampingi Joel Tsimi.

“Terus terang kita harus berpikir tentang pertahanan yang kokoh dulu sebelum berinisiatif dengan taktik dan strategi menyerang,” sebut RD.

Selain itu RD berpikir untuk memanfaatkan dan memaksimalkan aturan tiga pemain asing plus satu pemain asing asal Asia yang bisa diturunkan di level itu.

“Pilihannya bukan pemain dari Korsel atau Jepang, yang tentu harganya mahal, atau pemain asal Thailand dan Vietnam yang level sama dengan pemain kita. Lebih baik kita cari pemain naturalisasi dari Singapura yang berasal dari Afrika atau Eropa,” tutur RD. Pemain seperti Agu Casmir atau Itimi Dicksontentu layak menjadi pertimbangan klub-klub Indonesia musim depan. (ary)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar