Rabu, 26 November 2008

Sulitnya Regenerasi di Tubuh Persipura



KabarIndonesia - Hegemoni Persipura ternyata masih sulit ditandingi tim manapun peserta Liga Super Indonesia (LSI). Hal ini bisa dilihat dari beberapa hasli laga kandang tim Mutiara Hitam yang cukup memuaskan. Sebut contoh ketika Persipura menjamu Persela Lamongan dengan hasil akhir 2-0; Persipura vs Persija, 6-0; dan Persipura vs Persik Kediri, 5-0.

Itu menunjukkan bahwa skuad tim dari Papua ini memiliki pemain-pemain yang merata hampir di semua lini. Penampilan Eduard Ivakdalam dan kawan-kawan dalam setiap laganya seakan tanpa cela. Bahkan tim asuhan Jackson Tiago ini menutup putaran pertama SLI dengan menduduki tahta klasemen sementara LSI.

Namun, dibalik hegemoni skuad besutan Jackson F Tiago ini ada masalah krusial yang mendera. Utamanya sejauh mana terjadinya proses regenerasi dari pemain senior angkatan Jack Komboy, Eduard Ivakdalam kepada para junior yang saat ini dimiliki Persipura.

Sejumlah pemain pilar seperti Ortisan Salosa, Jendri Pitoy tak lama lagi akan mengakhiri masa keemasan mereka. Di bawah generasi Boaz Salosa, Ricardo Salampesy, Ian Luis Kabes, Gerald Pangkaly serta Paolo Rumere terdapat Imanuel Wanggai, Steven Bonsapia dan lain-lain. Sudah saatnya mereka menempati posisi senior.

Selanjutnya beberapa pilar Persipura U 21 seperti David Wally, Moses Banggo dan juga Pinehas Fakdawer sudah harus menempati bench Persipura untuk siap-siap mengisi atau menambah jam terbang agar tidak terlalu kaku dalam meneruskan proses regenerasi tim bertajuk “Mutiara Hitam” ini. Tantangan terbesar dalam proses regenerasi ini sudah pasti akan berbenturan dengan kepentingan kompetisi dan juga pembinaan pemain junior demi masa depan sepak bola Papua.

Namun satu hal yang perlu disimak adalah Tanah Papua terkenal sebagai gudang pemain bola. Karena itu satu poin terpenting adalah bagaimana melakukan proses regenersi yang alamiah dan wajar. Karena itu, regenerasi pemain senior dan junior di tubuh salah satu skuad tertua di tanah air ini wajib hukumnya di dalam membina pemain-pemain usia muda sehingga pemain junior mulai dari Persipura U-15, Persipura U-19 dan Persipura U-21 dalam waktu yang tak lama lagi mampu mengisi posisi yang ditinggalkan para seniornya.

Meski Persipura telah memiliki jenjang, baik dari pembinaan anak-anak Emsik hingga tim U-21 tetapi agaknya upaya untuk mengejar pemain pada putaran kedua LSI semakin terbuka lebar. Pasalnya pelatih Jackson Tiago akan mencari beberapa pemain yang kualitasnya sama dengan Jack Komboi, Victor Igbonefo dan Gerald Pangkali. Tampaknya agak sulit untuk mengisi lini ini dengan pemain lokal. Beberapa pemain yang sering diturunkan seperti Paolo Rumere, Stevi Bonsapia, Immanuel Wanggai dan Korneles Kaimu sudah sangat jarang diturunkan. Begitu pula dengan Heru Nerly dan Ian Kabes yang biasa diturunkan pada babak kedua.

Apalagi penjalanan Super Liga Indonesia ini masih panjang dan melelahkan. Di samping butuh stok pemain yang siap bertanding dan tetap prima, kalau tetap menggantungkan harapan pada para pemain pilar sudah pasti akan kedodoran karena kompetisi scudetto memerlukan stamina dan rotasi pemain yang kontinyu dan efektif.


Contoh Spanyol

Sebagai referensi, beberapa pemain Spanyol di Piala Dunia U-20 tahun 2005---seperti Raul Albiol, David Silva, Cesc Fabregas dan Diego Capel---kini telah menghuni tim nasional. Dalam skuad Spanyol di Piala Dunia U-20 tahun 2007 muncul generasi Gerald Pique, Juan Manuel Mata, Toni Calvo dan Roberto Canella.

Pemain-pemain Spanyol angkatan tahun 2005-2007 kini mendominasi skuad Spanyol yang menjuarai Piala Eropa 2008 lalu. Bahkan mereka menjadi harapan Spanyol di Kualifikasi Piala Dunia 2010.

Regenerasi pemain yang terjadi di tim “Matador” boleh disebut salah-satu yang terbaik di Eropa, bahkan dunia. Sebagai bahan perbandingan, sang juara bertahan Piala Dunia, Italia, tidak mampu melakukan proses regenerasi pemain sebagus Spanyol.Simak, bagaimana libero gaek Fabio Cannavaro dalam usia 35 tahun masih terus menjadi andalam di lini belakang Gli Azzuri. “Keabadiannya” menutup peluang bekas bek-bek Italia U-21 seperti Daniele Bonera atau Domenico Criscito untuk naik kelas ke tim senior lebih cepat.

Simak juga apa yang dialami gelandang brilian Andrea Pirlo. Dia adalah kapten Italia U-21 waktu menjuarai Piala Eropa Junior 2000. Tapi, pemain Milan ini baru mulai mendapat tempat reguler di starting XI Italia senior menjelang Piala Dunia 2006. Terlalu lama dia dipromosikan dari tim junior ke tim senior. Ini adalah suatu bukti program kesinambungan antara tim senior dan junior Italia tak berjalan sebaik Spanyol. Cukup banyak pemain Italia yang sukses di tim nasional junior tak bisa langsung melanjutkan kiprahnya di tim nasional “senior”.


Pembinaan Pemain Usia Muda

Model pembinaan pemain usia muda yang saat ini dilakukan di Persipura mulai dari anak-anak pada Klub Emsik, U-15, U-18 dan Persipura U-21 sebetulnya sudah tepat. Model pembinaan ini seiring dan sejalan dengan model yang dilaksanakan PSSI, di mana pemain-pemain usia muda diberi kesempatan untuk menambah pengalaman bertanding dalam Super Liga Indonesia (SLI) U-21.

Dalam SLI U-21 dibagi dalam 3 grup, masing-masing Grup Barat, Tengah dan Timur. Persipura U-21 tergabung di Grup Timur bersama Persiwa Wamena, Persiba Balikpapan, PKT, Deltras Sidoarjo, dan PSM Makasaar. Sistim pertandingan dalam SLI U-21 home and away. Juara dan runner-up terbaik maju ke babak selanjutnya.

Jika menyimak jam terbang U-21, ternyata pelatih PSM Makassar, M. Raja Isa, sangat berani memasang beberapa pilar muda PSM U-21 untuk ikut bersama PSM Senior dalam beberapa laga. Walau niat baik ini harus memberikan pil pahit bagi PSM yang tergeser dari papan atas. Namun hal ini sangat penting untuk menambah pengalaman dan mental sebelum mereka bertanding memperkuat skuad PSM U-21.

Mungkin M Raja Isa lebih mementingkan kelangsungan pembinaan ketimbang kompetisi yang hanya sifatnya sementara dan PSM sendiri kekurangan stok pemain-pemain lokal. Karena itu keberanian memasukan pilar muda PSM dalam beberapa kali pertandingan bersama PSM Senior merupakan sebuah langkah maju. Bahkan Raja Isa sewaktu masih menukangi Persipura Jayapura juga berani menurunkan beberapa pemain pilar termasuk merekrut beberapa pemain eks PON XVII Kaltim dan Persipura U-21.

Sayangnya program Raja Isa ini akhirnya kandas di tengah jalan hanya karena kompetisi lebih penting ketimbang regenerasi dan pembinaan bagi stok pemain Persipura di masa depan. Ikhwal menambah pengalaman bertanding yang dianjurkan PSSI, maka Pelatih Persipura U-21, Fernando Fario, mengatakan, dirinya kini bekerja keras untuk membenahi kinerja pemain-pemain usia muda menyangkut kecepatan dan ketepatan.

“Mereka perlu diberi kesempatan untuk bertanding sebanyak mungkin untuk meningkatkan jam terbang mereka. Ibarat pisau, tinggal diasah sedikit lagi biar lebih tajam,” kata pemain Persipura tahun 90-an ini. Ditambahkan Nando, dari beberapa pilar Persipura U-21, hanya satu orang saja yang dipanggil memperkuat skuad PSSI U-19, yaitu David Wally. “Seharusnya ke depan lebih banyak pemain pilar yang dipanggil memperkuat skuad PSSI,” tambah Nando berharap seraya menambahkan itu pun kalau pembinaan berjalan baik.

Hal sama juga dibenarkan Manajer Persipura U-21, Drs La Siya. Saat ini sebanyak 22 anak asuhnya tengah mengikuti Training Centre (TC) di Hotel Axton untuk persiapan bertanding di Super Liga Indonesia (SLI) Junior. “Pak Kambu minta agar 34 pemain junior yang dipersiapkan ini menjadi “penumpang dasar” pembinaan pemain usia dini. Saya yakin, model pembinaan pemain usia muda melalui pertandingan ISL U-21 suatu saat pemain-pemain muda akan menjadi tulang pungung timnas Indonesia,” ujar La Siya.


Kompetisi atau Pembinan


Berkaitan dengan pembinaan pemain usia muda melalui kompetisi sebagaimana berlangsung di Pekan Olah raga Nasional (PON) telah melahirkan pemain-pemain muda berbakat dari Papua macam Boaz Salosa, Christian Worobay, Emanuel Wangai, Tinus Pae dan lain-lain. Bahkan pemain-pemain muda dari Papua ini suatu saat akan menjadi pilar timnas Indonesia di pelbagai turnamen internasional.

Memang kompetisi membutuhkan hasil maksimal dari setiap pemain, tapi setiap tim tak perlu mengejar kemenangan melalui banyaknya gol. Yang lebih penting adalah memberi kesempatan kepada pemain-pemain muda untuk mengembangkan diri melalui pertandingan demi pertandingan.

Kalau kesempatan itu hanya diberikan kepada pemain senior, maka regenerasi pemain senior dan junior mengalami hambatan. Pemain junior yang mulai memunculkan bakatnya baik skill individu maupun team work acapkali antri lantaran pemain-pemain senior masih terus diandalkan.


Tanggung Jawab Pengda


Peran Pengda PSSI Kota Jayapura untuk melakukan kompetisi antar klub di Kota Jayapura juga tidak berlangsung mulus dan tidak rutin berjalan. Hal ini dikeluhkan juga oleh Kapten Persipura Senior, Eduard Ivakdalam. “Banyak pemain bagus di klub-klub tetapi karena kurangnya kompetisi terpaksa mereka keluar Papua sebab di sana kompetisi berjalan bagus,” ujar Ivakdalam di sela-sela peluncuran buku “Persipura Mutiara Hitam Sepakbola dari Bumi Cenderawasih” belum lama ini di Hotel Axton Jayapura.

Bahkan, lebih parah lagi, lanjut Eduard Ivak, banyak pemain potensial yang terpaksa tinggal dan terlibat kasus miras karena jarangnya kompetisi. “Ironinya justru kompetisi dan kejuaraan futsal kini ramai digelar di Kota Jayapura,” ungkap Ivakdalam sedih.

Untuk itu, marilah dicarikan jalan keluar untuk memulai langkah baru demi melakukan pembinaan. Salah satu langkah terpenting adalah Pengda PSSI Kota Jayapura harus mengaktifkan kembali roda kompetisi antar klub Kota Jayapura mulai dari anak-anak, U-15, U-18 sampai dengan U-21.

Kalau langkah kompetisi tingkat klub Persipura di Kota Jayapura saja tidak dilakukan, jangan terlalu berharap untuk melahirkan pemain bintang sebab melalui kompetisi yang teratur dan jam terbang yang banyak akan melahirkan Boaz-Boaz baru.

Selain itu, perlu dibangun suatu sistem kompetisi yang teratur hingga membentuk mental dan emosi pemain-pemain muda yang terbentuk baik. Pasalnya, kalau kompetisi saja tidak berjalan maka sudah pasti Persipura ke depan akan kebanjiran Beto-Beto baru untuk mengisi kekosongan pilar muda Persipura.Tentunya banyak rupiah dari Papua yang akan dibawa ke Brasil atau pun Afrika.

Ketidaksinambungan antara pemain senior dan junior sangat menonjol dan “keabadian” mereka akan menutupi kesempatan bagi pemain junior naik kelas ke tim senior. Mudah-mudahan hal ini tak terjadi di kubu Pengda PSSI Papua termasuk tim bertajuk Mutiara Hitam. (Laporan Dominggus A. Mampioper dan Makawaru da Cunha dari Jayapura)

*Foto: detiksport

Tidak ada komentar:

Posting Komentar