Acub meninggal dalam usia 81 tahun. Ayah mantan manajer Arema Malang, Lucky Acub Zaenal, tersebut mengembuskan napas terakhirnya di rumah duka Jalan Berlian I No 20 Cilandak, Jakarta Selatan. Jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan, kemarin.
Kepergian Acub merupakan duka sepak bola Indonesia. Sebab, Acub merupakan tokoh yang punya pengaruh besar dalam perjalanan sepak bola tanah air. “Beliau adalah guru dan pemimpin yang berkarakter,” sebut Andi Darussalam Tabusalla, ketua Badan Liga Sepak Bola Indonesia (BLI), yang juga pernah menjadi sekretaris Galatama.
“Kami jelas kehilangan beliau. Sebab, jasanya begitu besar untuk sepak bola. Beliau seorang pemimpin yang sangat tegas,” imbuh M. Basri, pelatih Persela Lamongan yang pernah bekerja sama dengan Acub, baik di Niac Mitra Surabaya maupun Arema Malang.
Nama Acub memang tidak bisa dilepaskan dalam sejarah perkembangan sepak bola Indonesia. Pria yang lahir 19 September 1927 itu berperan besar di beberapa tim. Di antaranya, Persipura Jayapura, Niac Mitra, Perkesa 78, dan Arema.
Bahkan, di Papua, nama Acub disebut sebagai pelopor olahraga dan sepak bola di Bumi Cenderawasih tersebut. Selama menjadi Panglima Komado Daerah Militer XVII/Cenderawasih (1969-1973) dan gubernur Papua (dulu Irian Jaya, 1973-1975), Acub begitu getol mengembangkan olahraga dan sepak bola Papua.
Acub memelopori renovasi besar-besaran Stadion Mandala, Jayapura, yang menjadi kandang Persipura. Persipura dilambungkan menjadi salah satu kekuatan sepak bola nasional. Acub juga aktor penting di balik sukses Mandala Jaya merengkuh empat gelar di ajang Soeharto Cup.
Lepas dari Papua, Acub mendirikan Perkesa 78. Di awal 80-an, dia menjadi ketua umum Niac Mitra. Di bawah kendalinya, klub asal Kota Pahlawan tersebut menjadi klub yang disegani di tanah air. Semasa kepemimpinannya, Niac Mitra pernah mengalahkan Arsenal di Gelora 10 Nopember, Surabaya.
“Seluruh keluarga besar Arema sedih dan turut berduka atas meninggalnya ayah yang melahirkan kami (Arema Malang, Red) dan memberi suri teladan serta semangat,” ujar Darjoto Setyawan, ketua dewan pembina Arema.
Tidak berlebihan jika Arema turut berduka. Sebab, Acub merupakan aktor penting lahirnya Arema Malang. Pria yang akrab disapa sang Jenderal itu menjadi pencetus berdirinya klub Galatama di Malang, yakni Arema. Acub pula yang membiayai awal perjalanan tim berjuluk Singo Edan tersebut.
“Kepergiaan beliau akan kami jadikan pelecut untuk membawa Arema berprestasi serta menjadi insipirasi semangat dan jiwa bagi persepakbolaan Indonesia sekaligus menjunjung tinggi harkat dan martabat Aremania,” kata Darjoto.
Selain berkecimpung di klub, Acub pernah mengabdikan diri di PSSI. Almarhum pernah tercatat sebagai pengurus teras PSSI di era kepemimpinan Syarnoebi Said (1979-1981) dan Kardono (1981-1983). Acub juga dipercaya sebagai ketua TPPMS PSSI atau tim penyelidikan, penanggulangan masalah suap.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar