Pada 9 Juli 2007 lalu di Biak mantan pemain besar Papua Timo Kapisa telah berpulang ke Tuhan Yang Maha Kuasa tetapi kiprahnya di persepak bolaan Papua dan Indonesia telah mengharumkan namanya.
Kehebatannya mengola si kulit bundar membawanya digelari Mutiara Hitam. Sejak Black Brother menulis syair lagu maka semakin populerlah dua nama itu masing masing Timo Kapisa dan Yohanes Auri.
“Persipura Mutiara Hitam,”begitulah syair lagu group Black Brother.
Sebelumnya Timo sendiri masih tercatat sebagai pelatih Galanita PSBS Biak, bahkan dia termasuk salah satu penasehat tim sewaktu PSBS Biak berlaga di divisi II.
Hengki Rumere, mantan pemain belakang dan mantan kapten Persipura era 70 an rekan satu tim bersama Timo Kapisa merupakan salah satu pemain yang luar biasa dalam tim Persipura ketika itu, pasalnya almarhum merupakan salah satu penyerang (striker) yang mempunyai mobilitas yang tinggi.
“Saya lihat sampai saat ini belum ada yang mampu menyamai prestasi almarhum, yang mendekati mungkin Cuma Boaz,” kata Hengki Rumere sebagaimana dilansir Cenderawasih Pos.
Menurutnya, walaupun telah pergi, namun pemain yang pernah merumput bersama warna Agung (klub Galatama Jakarta) tetap akan dikenang di sebagai anak bangsa yang pernah membawa piala presiden bersama Persipura.
“Waktu tahun 1974 kami ada empat orang yang masih usai muda bermain di Persipura ketika itu, pertama Almarhum Timo Kapisa, Almarhum Levi Doom, Tinus Heipon dan Saya sendiri (Hengki Rumere),” kenangnya.
Sementara itu mantan pesepakbola nasional dan Papua Rully Nere juga mengaku kehilangan besar mantan pelatih PKT Bontang itu, karena almarhum merupakan pemain yang disiplin dan mempunyai teknik bola yang tinggi.
“Kami kehilangan besar bagi persepakbolaan Papua dan Nasional karena kak Timo juga mempunyai naluri mencetak gol yang tinggi dan pernah bermain di klub Warna Agung Jakarta (1997-1981) dengan Roni Patinasarani, Risdyanti, Simson Rumapasai,” tutur Nere yang dijuluki Jean Tigana Indonesia.
Rully Nere mengenang kehebatannya dalam suatu pertandingan kakak Timo pernah mencetak tujuh gol waktu itu untuk Warna Agung ketika membantai Tunas Inti Jakarta di Stadion Tambaksari Surabaya “Almarhum juga bawa Persipura juara Suharto Cup ’76 dan timnas di Saigon Vietnam,” terangnya.
Sementara itu, Ketua Umum Persipura Jayapura, Drs. M.R. Kambu, M.Si, ketika dihubungi, tadi malam, menuturkan, sesosok Timo Kapisa yang tergabung dalam the dream, team, merupakan Roh (Termasuk teman-temannya) dari Tim Persipura Jayapura saat itu.
Sebab, pada jamannya itu, dengan begitu kentalnya kecintaan terhadap Tanah Papua, dia mau berjuang, mengabdi dan berkorban untuk mengharumkan nama Papua, melalui potensi yang dimilikinya.
“Sesosok Timo maupun rekan-rekan adalah anak Papua yang bekerja keras, tanpa pamrih, untuk membawa Tim Persipura menang pada saat itu. Dialah rohnya Peripura. Itu terbukti Piala Presiden waktu itu mati ditangan Persipura,” kata Kambu.
Untuk itu, ia menyatakan, biarlah nilai perjuangan, pengabdian, perngorbanan, Timo dan kawan-kawannya, dapat menjadi panutan dan contoh bagi masyarakat di tanah ini, terutama mereka yang mengharumkan nama Papua dibidang sepak bola.
Ia menilai, saat ini, belum ada sesosok pemain yang memiliki karakter seperti Timo, Yohanes, Cs. Sebaliknya saat ini banyak orang/pemain bola lebih banyak menuntut dari pada memberi kontribusi, hal itu dapat dilihat dari nilai-nilai kontraknya.
“Seeorang yang berjuang, dan berkorban tanpa menuntut, orang itu namanya akan tetap terpatri sepanjang masa dalam setiap sanubari masyarakat tanah Papua ini,” imbuhnya.
Secara pribadi maupun mewakili pengurus mengucapkan selamat jalan, dan doa seluruh pengurus Persipura selalu menyertai perjalanannya. Dan kepada keluarganya yang ditinggalkan hendaknya selalu tabahkan dan kuatkan hatinya, dan rela melepaskan kepergian Timo Kapisa.(dikutip dari Cenderawasih Pos)
Senin, 07 Juli 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar