Mungkin bagi generasi muda sekarang tak mengenal sosok Hengki Heipon yang kini melatih tim Perseru Serui Yunior di Serui. Padahal pelatih Hengki Heipon merupakan kapten Persipura terlama. Bayangkan dari 1968 sampai dengan 1977 tetap memegang ban kapten. Bahkan dalam masanya berhasil membawa Persipura juara Piala Soeharto pada 19 April 1976. Setelah menundukan Persija di stadion Utama Senayan dengan skor 4-3. Pada waktu itu gol gol Persipura dilesakan oleh Nico Patipeme kanan luar Persipura pada menit ke 11, gol kedua oleh penyerang Yakobus Mobilala menit ke 27, alm.Pieter Atiamuna menit ke 31 dan alm.Timo Kapisa menit ke 67. Sedangkan gol Persija dijaringkan oleh Risdiyanto menit ke 36 dan Iswadi Idris pada menit ke 41 dan 90.
“Saya meski sudah menjabat Kepala Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Yapen Waropen masih tetap mencintai sepak bola. Pulang kantor terus ke lapangan jadi pelatih. Sepak bola sudah saya cintai sejak usia muda,”ujar Hengki Heipon kepada Kabar Indonesia di Jayapura Selasa (8/7).
Menurut Heipon mulai bermain bola sejak jaman Belanda awal tahun 1960 pernah bermain bersama orang orang Belanda di club HVO dan juga bersama orang Papua pada HVB (Hollandia Votebalbond cikal bakal Persipura).
“Saya mulai masuk skuad PSSI tahun 1967 waktu itu ditangani pelatih Dr Liem Soey atau lebih dikenal dengan nama Dr Endang Witarsah dan juga Aang Witarsah,”ujar Heipon.
Lebih lanjut Hengki Heipon menambahkan rekan rekan seangkatan di PSSI waktu itu adalah Abdul Kadir, Solekan, Azis, Anwar Ujang, Cholil dan Rahman Abdul. “Kita teman teman seangkatan sampai sekarang masih kompak terus,”ujar Heipon.
Menurut Heipon kompetisi Persipura pertama kali diawali dengan naik Kapal Merauke mengelilingi Papua dan selanjutnya ke Ambon dan Menado.
Sedangkan ban kapten Persipura pertama kali dipakai oleh Hengki Heipon sejak tahun 1968 sampai dengan 1977.
Meski sudah jadi pelatih sejak tahun 1977, Hengki Heipon juga masih jadi kapten atau masih sebagai playing coach. Waktu itu ban kapten Persipura berpindah tangan ke Hengky Rumere mantan pemain belakang Persipura dan juga ayah kandung Paolo Rumere gelandang Persipura sekarang.
Selama masih menjadi kapten puncak prestasi yang pernah dicapai Persipura atau Klub Mandala Jaya adalah juara Soeharto Cup tahun 1976 dan juara Perserikatan dan beberapa kali runner up.
Saat kejayaan di tahun 1970 an itu muncul pula Mutiara Hitam dan dipopulerkan dengan group Black Brother menjadi Persipura Mutiara Hitam.
“Alm Timo Kapisa sendiri mulai terkenal saat tampil di PON VII Surabaya tahun 1969,”ujar Heipon mengenang kehebatan mantan striker Persipura itu.
Selanjutnya berkat prestasi Persipura dipercayakan PSSI melawan klub Hitachi Jepang di stadion Gelora Bung Karno dan dikalahkan tim tamu Jepang 2-1. “Waktu itu Persipura juga mewakili Indonesia ke Kings Cup di Bangkok dan juga pernah ke Vietnam Saigon,”ujar Heipon yang pernah memperkuat skuad PSSI tahun 1976 untuk pra Olimpiade saat dilatih Wel Corver dari Belanda.
Berkat kemampuan Hengki Heipon berbahasa Belanda sehingga pelatih Wel Corver memiliki penterjemah dari Papua dalam menginstruksikan materi latihan dan juga mengembangkan pola pola permainan.
Menyinggung soal Persipura sekarang Heipon hanya tersenyum saja seraya mengingatkan bahwa tim besar seperti Persipura mestinya sudah harus memiliki stadion tersendiri. “Ibarat rumah mestinya klub sepak bola sebesar Persipura harus memiliki stadion tersendiri sebab klub ini sudah ada sejak jaman Belanda hingga sekarang ini meraih berbagai gelar dan salah satu klub elite di Indonesia,”tutur Heipon.
Dia menceritakan pengalaman berharga saat berkunjung ke markas AC Milan di San Siro Milan Italia Mei 2008 lalu bersama pemain muda Persib Atep.
Hengky Heipon, Ahsan dan Syahrir Novri Tambunan dan Atep sangat antusias melakukan perjalan ke Milano sebagai pemenang Hyperbola Quiz Telkomsel.
Pemain nasional yang kini membela klub Persib dan mantan Kepten Tim Persipura Heipon mengaku banyak pelajaran dari pengalaman menonton langsung pertandingan antara AC Milan melawan Udinese pada penutupan Serie A di San Siro pada 18 Mei 2008 lalu.
”Saya seperti mimpi bisa menginjak kaki di markas AC Milan di San Siro,”ujar Heipon. Dia menambahkan kunjungan selama seminggu ini membawa banyak pengalaman baru bagi dirinya.
Agaknya pengalaman Hengky Heipon untuk berguru keluar negeri bukan baru kali ini saja. Saat tim Persipura dilatih pelatih asal Singapura Choo Song On sekitar 1974 pelatih gaek asal Singapura ini pernah mengajaknya berlatih di sana selama enam bulan. “Selama enam bulan di sana saya sempat memperkuat klub klub local di sana dan kompetisi di sana sangat teratur dan bagu sekalai,”ujar Heipon.
Lebih lanjut menurut Heipon kompetisi di sana sangat teratur dan ada kompetisi antar continental dengan Malaysia. “ Jadi klub klub di sana juga mengikuti kompetisi dengan Malaysia. Memang saya tidak dikontrak tetapi untuk mengisi waktu selama training pelatih di sana tetap ikut bermain,”ujar Heipon.
Selanjutnya pada tahun 1978 Henky Heipon sempat pula mengikuti kursus pelatih selama satu bulan di Jerman Barat. “Saya dan Abdul Kadir yang ikut training di Jerman,”ujar Heipon kenangnya.(dominggus a mampioper)
Senin, 07 Juli 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar