Analisa
Jacksen F. Tiago
Barcelona layak menjadi juara Liga Champion musim ini. Determinasi dan dominasi yang mereka pertontonkan dalam duel final melawan Ma n chester United menujukkanThe Catalan smemang merupakan klub terbaik di Benua Eropa saat ini. Carles Puyol dkk. unggul segalanya dibanding Tim Setan Merah.
Saya menggarisbawahi bahwa strategi jitu pelatih Barcelona, Pep Guardiola, menjadi kunci kesuksesan timnya meme nangi partai final dengan skor 2-0. Ya, keberanian Pep melakukan eksperimen menggeser posisi Lionel Messi, yang biasa berposisi sebagai penyerang sayap kanan ke posisi striker tengah, berbuah hasil yang bagus.
Ini sebuah kejutan karena dalam beberapa hari terakhir Sir Alex Ferguson mengungkapkan bahwa dia akan menempatkan Wayne Rooneydi sisi kiri untuk melapis Patrice Evraguna mengantisipasi pergerakan Messi dari sisi sayap kanan. T ernyata prediksi Fergie meleset. Messi justru ditempatkan di tengah.
Konsentrasi Terpecah
Kehadiran Messi membuat arus serangan Barca dari tengah lebi hbergigi. Bek-bek United dibuat kerepotan menghadapi trio Xavi-Messi-Iniesta, yang memiliki keeping ball bagus dan keberanian menusuk ke jantung pertahanan dengan mengandalkan gocekan dan umpan-umpan pendek. Konsentrasi bek-bek United terpecah dua karena di sisi lain Thierry Henry dan Samuel Eto'o juga bergerak aktif menyerang dari sisi sayap kiri dan kanan.
Gol pertama Barca, yang dicetak Eto'o, menunjukkan efektivitas strategi Pep. Gelandang-gelandang Barca membuat gelandang-gelandang United kerepotan dengan sistem permainan pressing ketat. Seorang Anderson, yang diharapkan Fergie menjadi pemain penghubung antara lini tengah d an sektor depan dengan akurasi umpan dan ketenangannya dalam penguasaan bola, dibuat tak berkutik karena dibatasi pergerakannya.
Saya melihat keputusan Fergie menempatkan seorang Cristiano Ronaldo sebagai target man mengandalkan kecepatan dan tusukan-tusukan individu pada babak pertama agak terkesan mubazirkarena Ronaldo tak didukung pasokan bola-bola matang dari lini kedua.
Keputusannya memasukkan Carlos Tevez dan Dimitar Berbatov pada babak kedua terkesan terlambat karena United sudah telanjur terbawa alur permainan Barca. Kehadiran gelandang senior Paul Scholes tak banyak menolongkarena sebagian besar pemain-pemain United moralnya sudah ambruk karena tertinggal dua gol lawan.
Strategi berbeda yang dilakukan Fergie di awal pertandingan memang terkesan membingungkan. Ada kesan kalau dirinya tidak berani melakukan serangan frontal dengan menempatkan seorang striker tulen di jantung pertahanan lawan. Mungkin saja strategi itu didasari keinginan Fergie untuk mengimbangi permainan lini tengah Barcelona, yang dikenal amat mobil. Dibanding menempatkan seorang striker, dia lebih memilih menumpuk gelandang yang bisa berubah secara mendadak sebagai seorang penyerang (dalam hal ini Ronaldo). Hitungannya, United akan melakukan serangan balik mengejutkan.
Sayang, semua rancangan itu buyarkarena ternyata di partai final Barca memainkan gaya permainan yang berbeda dari kebiasaan mereka.
Peran Puyol-Messi
Kapten tim Barcelona, Carles Puyol, layak mendapat apresiasi dalam pertandingan ini. Dia bisa menutupi kelemahan di sektor bek sayap kanan yang ditinggal Daniel Alves, yang terkena hukuman akumulasi kartu. Puyol sejatinya memang merupakan bek sayapsehingga dia tidak perlu melakukan adaptasi lama menempati posisi barunya di duel final. Perannya amat sentral untuk mematikan gerakan Ronaldo.
Mobilitas Puyoldalam membantu serangan luar biasa. Umpan terukurnya kedalam kotak pertahanan United menu n jukkantouch - nya sebagai bek sayap belum hilang sekalipun saat ini dirinya lebih banyak dimainkan sebagai seorang bek tengah.
Pujian juga layak diberikan kepada Messi, yang bermain efektif di posisi barunya yang tak biasa dia jalani. Saya berpandangan gol yang dicetaknya menandakanseorang Messi bisa menjadi penyerang multifungsi. Gelar Liga Champion dan top scorer turnamen musim ini layak menempatkan dirinya sebagai pemain terbaik FIFA tahun depan. Sebagai pemain muda dia membuktikan bisa melalui sebuah laga sarat tekanan dengan baik.
*) Jacksen F. Tiago merupakan pelatih Persipura Jayapura, klub juara Indonesia Super League musim 2008/2009.Dikutip dari Tabloid Bola


Tidak ada komentar:
Posting Komentar