Senin, 15 Desember 2008

Pelatih Kampung Sukses di Gunung

Genap 18 tahun Suharno (49) berkarier di dunia kepelatihan sepakbola nasional. Selama rentang waktu itu, ayah Dheka Haryoko Putra ini mengalami masa pasang-surut saat menjalani profesi.


Suharno, pendekatan khusus pada pemain Persiwa. (Foto: Peksi Cahyo/BOLA)

Pada awal karier, Suharno sempat sukses bersama Gelora Dewata di era kompetisi Galatama dengan gelar juara Piala Liga (1993) dan runner-up Galatama (1994) yang mengantar klub asal Bali itu ke kancah Piala Winners Asia.

Kiprah Suharno sempat terpuruk ketika menangani Persema (1999) dan PSS (2000) kerana terseok-seok di papan bawah kompetisi Liga Indonesia. Kini dia cukup moncer bersama Persiwa Wamena. Selama hampir sebulan lebih, punggawa The Highlanders bertahan di peringkat dua Djarum ISL di bawah saudara tua, Persipura.

Berikut wawancara BOLA dengan Suharno, yang lebih suka menyebut dirinya pelatih desa, soal kiat sukses di Persiwa.

Hampir dua dasawarsa jadi pelatih. Apa suka dukanya?

Sukanya ketika di awal karier saya berhasil memberi gelar Gelora Dewata juara Piala Liga 1993 setelah di final mengalahkan Niac Mitra, kemudian runner-up Galatama 1994 setelah di final dikalahkan Pelita Jaya, apalagi saat itu saya sebagai debutan.

Dukanya tentu saat diteror suporter lawan. Saya sempat menjadi korban timpukan benda keras saat menangani PKT ketika bertandang ke markas Persema. Selain itu, saya harus pisah dengan keluarga. Ini yang paling berat.

Rentang 1999-2000, Anda dianggap pelatih bertangan panas karena Persema dan PSS kurang meyakinkan di kompetisi?

Semua lebih karena faktor nonteknis. Materi pemain saat itu tidak memadai untuk level Divisi Utama. Meski kami sempat terseok-seok di awal kompetisi, akhirnya bisa selamat dari degradasi dan berada di papan tengah.

Bagaimana kiat membawa Persiwa ke papan atas ISL? Padahal, selama ini pemain Papua dikenal kurang memiliki disiplin walau bertalenta.

Saya lebih mengutamakan komunikasi dan pendekatan personal, baik dengan pemain, pengurus, maupun asisten. Manajer tim, Jhon Banua, banyak membantu tugas saya. Disiplin militer dan ketegasan membuat para pemain patuh dan segan.

Keberadaan pemain senior Pieter Rumaroppen dan Herman Runtini bisa menjadi jembatan saya untuk lebih dekat dengan pemain lain.

Pengalaman melatih Persipura setengah musim pada 2003 juga jadi referensi saya berani mengambil tantangan ini.

Bagaimana melihat pribadi dan kelebihan pemain Persiwa?

Kami selalu berusaha membangun kebersamaan tim. Misalnya berdoa sebelum makan. Kami tak akan memulai makan bila ada pemain yang belum hadir di ruang makan.

Tim ini tak punya bintang, tapi saya bersyukur karena mereka punya talenta khas Papua sehingga saya lebih mudah membentuk mereka jadi tim. Kualitas pemain muda juga bagus dan layak bersaing di ISL.

Apakah ada beban karena musim lalu Persiwa menembus 8 Besar LI?

Beban pasti ada, tapi saya melihat itu sebagai tantangan. Kami tak boleh sombong karena ada di atas karena kompetisi masih panjang. Putaran kedua akan lebih seru karena tim-tim lain pasti berbenah. Yang penting, kami telah punya modal di putaran kedua.
Kalaupun nantinya penampilan kami menurun, posisi di klasemen tak akan merosot drastis.

Apa target pribadi di Persiwa?

Saya ingin memberi prestasi kepada Persiwa dan rakyat Pegunungan Tengah. Klub ini menjadi satu-satunya kebanggaan mereka. Kalau tak bisa juara ISL, minimal bisa bertahan di peringkat dua. Itu artinya Persiwa akan tampil di level internasional pada Liga Champion Asia. Selain itu, saya bercita-cita ada pemain Persiwa yang bisa masuk timnas. Ini tak hanya membanggakan saya, tapi juga masyarakat Wamena dan Papua. (Gatot Susetyo/Indra Ita)

DATA DIRI
------------------------------
Nama Lengkap: Suharno
Lahir: Desa Ngrundul, Kebonarom, Klaten, 1959
Orangtua: H. Mochtar/Hj. Marpingah
Istri/Anak: Yuliati/Dheka Haryoko Putra
Pelatih Idola: Iswadi Idris (alm)/M. Basri
Lisensi: A (dalam proses)

Karier Pemain
1975/77 PSIK Klaten
1978 Persis Solo
1978/82 Timnas
1982/87 Perkesa 78
1987/88 Niac Mitra

Karier Pelatih
1989/90 Asisten Pelatih Mitra
1990/96 Gelora Dewata
1996/97 Arema Malang
1997/99 Persikab Kab. Bandung
1999/00 Persema Malang
2000/02 PSS Sleman
2002/03 Deltras Sidoarjo
2003/04 Persipura
2004/05 Persibat Batang
2005/06 PKT Bontang
2006/07 Persis Solo
2008 Persiwa Wamena


>> Kembali ke Atas



Telepon Membengkak

Suharno bersyukur memiliki Yuliati, istrinya, dan Dheka Haryoko Putra, anak mereka. Dia memuji dua orang terkasih itu benar-benar mau menerima dan menyadari profesi sebagai pelatih.

“Mereka menyadari karena ini sudah jadi pilihan hidup saya dan tumpuan ekonomi keluarga,” ungkap Suharno.

Sang istri tak bisa mengikuti ke Wamena karena berdinas di RSUD Paru, Batu, Malang. Demikian pula sang putra, yang berkuliah di Kota Apel tersebut. Sebelumnya keluarga ini tinggal di Sidoarjo, tapi karena semburan lumpur Lapindo mereka mengungsi.

“Kami hanya bisa berkumpul kalau kompetisi jeda atau selesai. Kami juga bisa bertemu bila tim yang saya tangani bermain di Jawa,” ucap Suharno.

Walau begitu Yuliati dan Dheka tetap menganggukkan kepala tanda setuju ketika Suharno memutuskan menukangi Persiwa.

“Keluarga hanya menasihati agar saya tetap menjaga kesehatan dan sering telepon ke rumah atau ponsel.
Bagi saya ini tak jadi masalah karena teknologi sekarang mempermudah akses ke segala penjuru,” katanya.

Risikonya tagihan pulsa telepon membengkak. “Tiap hari rata-rata saya menelepon istri-anak lima hingga 10 kali. Soal biaya tak jadi masalah. Problemnya, frekuensi di Wamena kurang bagus. Lagi enak-enaknya bicara atau kangen saya belum tuntas, tiba-tiba hubungan terputus,” jelasnya.
(tot/idr/tabloid bola)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar