Meski karier Raja Isa di Persipura berakhir tragis akibat tendangan para pendukung MR Kambu tetapi keberaniannya menurunkan pemain muda patut diacungi jempol. Bahkan dia sewaktu melatih Persipura senior sempat meluangkan waktunya untuk melatih tim Persipura U 18. Pasalnya bagi Raja minimal 2010 anak anak muda dari Persipura U 18 sudah mampu memperkuat tim senior mereka Persipura. ” Saya harapkan dengan mempersiapkan skuad anak anak muda ini kita tidak perlu harus tergantung pada pemain dari luar Papua. Cukup memanfaatkan pemain lokal Papua saja,”ujar M Raja Isa beberapa waktu lalu saat beliau masih melatih skuad Persipura. Keseriusannya dalam melatih tim junior hingga tak heran kalau pada pertengahan November nanti M Raja Isa akan diundang oleh Pengda PSSI Papua untuk membagikan ilmu melatihnya kepada para peserta training pelatih sertifikasi lisenci D di Jayapura.
Kini karier Raja Isa bersama PSM Makassar tengah mendapat ujian berat. Tapi, semua itu tak membuatnya resah. Perjalanan hidup sebelum bergabung dengan PSM telah menempanya.
RAJA Isa termasuk orang yang teguh memegang pendirian, kalau tidak mau disebut keras kepala. Sikap itu tidak saja diperlihatkan ketika dia tetap menggantikan pemain sesuai dengan hak dan mandatnya. Gara gara sikapnya yang keras kepala membuat MR Kambu beserta para pembantunya melayangkan tendangan hingga akhirnya Raja harus angkat koper keluar dari Papua.
M Raja Isa yang merupakan kepala pelatih yang bernama lengkap Raja Isa bin Raja Akram Shah ini sudah diperlihatkan ketika dia memutuskan berhenti menekuni karier sepak bola bersama Selangor FC pada usia 23 tahun. Usia di saat dia sedang berkembang dengan gelimang uang dari salah satu raksasa Liga Malaysia itu.
“Saat itu keputusan saya langsung ditentang ayah saya, Raja Akram Syah. Namun, saya tetap yakin dengan keputusan itu. Untuk masa depan, saya mulai konsentrasi belajar melalui kursus-kursus sepak bola. Hal ini yang akan membawa saya berkiprah di dunia sepak bola secara profesional,” kata pelatih kelahiran Selangor, 1 Februari 1966, itu.
Setelah pendidikan kepelatihannya selesai, karier Isa sebagai pelatih tidak langsung naik daun. Dunia kepelatihan dia mulai dari sekadar mengurusi dan bertanggung jawab membantu pembinaan sejumlah klub kecil di Malaysia. Dari situ kariernya kemudian berkembang, sebelum akhirnya menangani Selangor FC.
“Berbekal komunikasi saat bekerja sebagai marketing di Arab Bank Malaysia serta semua hasil studi sembilan bulan, akhirnya saya mampu menjalankan tugas dengan hasil cukup baik. Alhasil, dari sini saya dipercaya menukangi Selangor FC selama beberapa musim,” paparnya.
Jiwa pemberontak Isa kembali terlihat saat memutuskan meninggalkan Selangor FC dan memilih merambah sepak bola Indonesia. Klub Indonesia pertama yang dia tangani adalah Persipura Jayapura. Menangani klub tanah Papua bukan tanpa pengorbanan. Di bumi Papua, Isa rela meninggalkan kedua orang anaknya, Raja Iman Farhanah, 8, dan Raja Iman Nuraliyah, 5.
Setelah satu setengah musim bersama Persipura, Isa kemudian memutuskan pindah ke PSM setelah mendapat penganiayaan di Stadion Mandala.
“Meski sangat sulit, apa yang menimpa saya adalah sebuah garis hidup yang menurutnya harus dijalani. Bahkan, impian ini belum dan terus mengalir. Sekarang saya ingin melatih di wilayah timur, seperti Jepang dan Korea untuk ke depannya,“ kata Isa, yang memiliki darah Luwu.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar