Kamis, 23 Oktober 2008

Jacksen Ferreira Tiago: Ada Kemiripan Sepak Bola Papua dan Brazil

JUBI---Pelatih Kepala tim “Mutiara Hitam” Persipura Jayapura Jacksen Ferreira Tiago tahu betul saat anak-anak Papua bermain bola di hampir setiap kampung di Provinsi Papua. Anak-anak Papua selalu mengutamakan satu dua sentuhan dan passing sembari tertawa, tersenyum sewaktu berlari, menggiring bola dan mencetak gol sebanyak-banyaknya. Mereka sungguh menikmati saat-saat indah bermain bola.

“Ini adalah salah-satu kemiripan yang dilakukan anak-anak Papua dan anak-anak Brazil ketika bermain bola,” ujar Jackson mengenang masa kecilnya di Rio de Jeneiro, ibukota Brazil. Apalagi, lanjut Jacksen, anak-anak di sana bermain bola dengan kecepatan, kelenturan tubuh dan keindahan seperti orang bermain karnaval atau seperti tarian samba. Sama halnya dengan anak-anak di Papua bermain bola dengan kelenturan tubuh, kecepatan kaki dan keindahan seperti orang menari Yosim Pancar atau Yospan.
Goyang karnaval butuh kelincahan kaki dan kelenturan tubuh, dribbling dan menipu lawan sembari seluruh badan bergoyang adalah kemiripan karnaval samba di sepakbola Brazil. Karnaval adalah budaya yang digemari masyarakat Brazil. Kelincahan kaki dan kelenturan tubuh seringkali digunakan anak-anak Brazil dalam bermain sepak bola. Jogo Bonito (sepakbola indah) identik dengan anak-anak di Brazil bermain bola dengan menggunakan sentuhan indah dan mengekspresikan sepak bola, di mana kalau gol-gol yang dicetak berawal dari satu dua sentuhan (one two touch) dan passing serta teknik yang indah dalam bermain tanpa benturan badan.
Jacksen juga sangat mengagumi keindahan alam dan panorama serta kebudayaan di Papua baginya tak jauh berbeda dengan tempat kelahiranya di Brazil.
“Pemain sepakbola dapat mengekspresikan kenikmatan bermain bola dengan tersenyum, maka disitulah kemampuan mereka pun ikut berkembang,” ujar Jacksen kepada JUBI di markas tim Persipura Jayapura, Hotel Relat Indah, Argapura-Jayapura, Senin (20/10).
Sejak usia 7 tahun Jacksen telah bermain bola di Ellemantari School di Rio de Jeneiro (Setingkat Sekolah Dasar). Jacksen terpilih memperkuat tim sekolahnya mengikuti Turnamen Antar Sekolah. Usia 11 tahun Jacksen bergabung dengan tim profesional Flamenggo Junior untuk memperkuat Brazil mengikuti Turnamen Amerika Cup Junior tahun 1982. “Saya diundang seorang pemandu bakat untuk bermain di klub Flamenggo. Saya mendapat suatu penghormatan di Flamenggo,” kenang Jacksen.
Tahun 1990 Jacksen menjadi pemain profesional dan berhasil meraih prestasi di tingkat regional di Rio de Jeneiro. Tahun 1992 Jacksen memperkuat klub Botafogo meraih gelar runner-up Liga Brazil. “Saya menjadi pemain cadangan dalam satu partai, tapi saya sangat bangga dapat memperkuat Botafogo, salah-satu klub paling popular di Brazil,” ungkap Jacksen dengan mata berbinar.
Jacksen menyadari jalan hidupnya penuh lika-liku, tapi dia tak pernah melupakan Sang Pencipta dan yang selalu keluar dari mulutnya hanya kata kata yang memuji Tuhan sebab sampai sekarang dia bisa bertahan karena berkat Tuhan untuk dia dan keluarganya. “Semuanya mengalir bagaikan air di sungai,” ungkap Jacksen seraya bersyukur kalau sampai sekarang ia masih bergelut dengan sepak bola.
Bagi anak-anak di Brazil bermain bola adalah sebuah kesenangan baik di rumah ataupun di sekolah. “Tidak gaul kalau anak-anak tidak menyepak bola,” kenang dia. Jacksen kecil pun menikmati masa-masa indah bersama teman-teman sebayanya di daerah asalnya. Dia bebas bermain bola di sekitar rumahnya. Apalagi di kampungnya di Brazil animo masyarakat terhadap sepakbola sangat tinggi. “Nama saya terkenal karena walaupun berusia muda, tapi mampu bersaing melalui skill, speed dan power dengan lawannya yang telah beranjak dewasa,” kata pelatih kelahiran, Rio de Jeneiro, Brazil, 28 Mei 1968, itu.
Satu hal yang tak bisa dilupakannya adalah sewaktu peristiwa kejuaraan Piala Dunia 1978 di Buenos Aries, Argentina. “Aku baru berusia 10 tahun dan aku masih ingat betul bagaimana masyarakat Brazil merayakan kemenangan tim “Samba” Brazil dengan mengecat jalan dan dinding rumah mereka dengan warna kuning biru. Warna bendera Brasil,” katanya.
“Saat itu orang tuaku membelikan kostum untukku begitu juga temanku yang lain kostum sesuai pemain favoritnya. Teman-temanku menjuluki aku Amaral. Salah seorang pemain lini belakang Brazil yang juga hitam seperti saya,” katanya.
Bagi anak anak di Brazil adalah suatu impian untuk memperkuat klub Flamenggo dan bermain di Stadion Maracana. Stadion kebanggaan masyarakat Brazil. “Apabila Flamenggo bermain di Maracana saya dan teman-teman selalu menonton serta memakai kostum Flamengo,” ujarnya seraya menambahkan suatu saat dirinya akan bermain di situ bersama klub kebanggaannya.

Munafik pertahankan konsep saat kompetisi berjalan

Tugas seorang pelatih jelas menyatukan seluruh pemain dengan karakter yang berbeda dengan daerah asal yang berbeda. Agaknya terlalu riskan kalau memaksakan konsep di tengah kompetisi yang sedang berlangsung. Hingga tak heran kalau coach Jacksen mencoba mengabaikan konsep sepak bola yang dibawahnya sebab bagi dia adalah munafik mempertahankan konsepnya untuk diterapkan di Persipura.
“Aku di tim ini adalah pendatang. Munafik kalau aku mempertahankan konsep aku untuk diterapkan di tim Persipura. Saya abaikan konsep itu karena aku datang saat tim ini tengah bertanding. Beda kalan aku pegang tim ini dari awal pasti konsep aku diterapkan,” tutur Jacksen. Apalagi, menurut dia, tim “Mutiara Hitam” memiliki potensi pemain yang berlimpah dan menggiurkan.
“Kami sering memulai dengan diskusi kadang alot. Seluruh pemain terlibat dan bebas memberikan pandangan tentang strategi menyangkut kekuatan dan kelemahan lawan. Dengan cara ini, maka seluruh pemain merasa berjasa dan bertanggungjawab atas segala keputusan yang mereka lakukan. Jadi keberhasilan Persipura bukan semata peran seorang pelatih, tapi peran seluruh pemain dan pelatih,” tegas suami Fatima Tiago ini.
Jacksen menambahkan, keberhasilan Persipura memang di luar dugaan. Sungguh luar biasa. Kerjasama antara pengurus, manajer, pelatih, pemain. Semua komponen berperan untuk mengangkat prestasi Persipura. “Tak terasa Persipura berada dan menapaki perjalanan dengan mulus dalam waktu singkat. Kuncinya adalah menyatukan seluruh kekuatan demi tujuan bersama,” kata Jacksen.
Menurut pelatih asal Brazil ini, sepakbola sebagai olahraga selalu mengutamakan kolektivitas tim, skill individu akan menentukan organisasi permainan. Jacksen memiliki konsep sepak bola yaitu seluruh pemain berperan mengalirkan bola dari kaki ke kaki, baik dalam dalam mengirim maupun menerima bola. Saat kehilangan bola, maka seluruh pemain berusaha merebutnya untuk memulai membangun serangan . Sepak bola membutuhkan pemain yang mampu menjaga keseimbangan tim, baik saat menyerang ataupun bertahan. Fleksibel dalam bermain sepak bola, memperlajari karakter lawan dan menggunakan senjata berbeda untuk mengatasi lawan dan mencetak gol sebanyak-banyaknya.
Untuk menggapai sukses membutuhkan pengorbanan dan sepakbola membutuhkan pengorbanan. Karena itu, Jacksen mengajak kepada seluruh masyarakat sepakbola di Papua untuk mencurahkan waktu, bekerja keras demi sebuah prestasi dan prestise sepak bola di Papua.
“Ini adalah konsep sepak bola yang saya pegang,” ungkap ayah dua orang anak ini Matheus Tiago (16 Tahun) dan Ayub Tiago (12 Tahun).

Fleksibel

Menurut Jacksen, dirinya merasa bersyukur kepada Tuhan yang telah memberikan pemain-pemain Persipura dengan kemampuan dan intelegensi yang lebih untuk membantu pelatih bersama pemain lokal dan legiun asing guna meningkatkan mutu permainan Persipura. “Kita main fleksibel seperti tak mesti menerapkan strategi tertentu, tapi mengubah strategi bilamana dibutuhkan. Mereka mengerti dan menjalankan dengan ketulusan hati,” katanya.
Tak terasa Jacksen Tiago telah limabelas tahun berkecimpung di sepakbola nasional. Segala pahit dan manis berjalan bersama. Ada juga perasaan miris yang meliputi suasana hatinya seperti dirinya telah berusaha keras untuk memenangkan sebuah laga, tapi pihak lawan justru menuding kemenangan tak murni dan wasit tak fair dalam memimpin pertandingan tersebut.
Indonesia seperti rumah saya yang kedua. “Saya ingin bertahan lama disini kecuali ada kesempatan yang lebih bagus untuk kembali ke Brazil atau ke negara lain. Saya betah memiliki karya di Indonesia. Saya ingin memberi peran dan menghibur masyarakat yang suka sepakbola. Saya bersedia setiap saat,” cetusnya.
Jacksen sering merindukan keluarganya yang saat ini ia tinggalkan di negaranya. Dalam kesendirian ia biasa chatting di internet sekedar melepas perasaan kangen terhadap keluarganya di Rio de Jeneiro. “Hubungan kami sangat dekat dan intensif. Kalau liburan saya mengunjungi keluarga saya di Rio de Jeneiro. Saya ingin datang menghibur putraku Matheus yang sedang sakit. Dia membutuhkan pengobatan intensif,” ujarnya.
Jacksen menyebutkan karier pelatih dilakoninya saat ini sebagai suatu “kecelakaan”. Sebab dia sebetulnya ingin kembali dan menjadi pelatih di Rio de Jeneiro. Tapi pada saat bersaman ia ditawari melatih klub Assiyabab, anggota Divisi Utama Persebaya Surabaya. Keberuntungan selalu memihaknya. Jacksen kemudian dipercayakan menggantikan posisi pelatih Mohamad Alhadad untuk melatih tim sepakbola PON Jawa Timur bersama Mustaqin (Kini pelatih PKT Bontang).
Sebelum mengakhiri karier sebagai pemain, Jacksen sempat memikirkan apabila suatu saat ia “Gantung Sepatu” alias berhenti bermain sepakbola. “Apalagi sejak saya mengalami cedera lutut. Tanpa diduga sebelumnya saya justru memulai karier pelatih di Indonesia. Saya tak tahu koq secepat itu. Puji Tuhan manusia mempunyai rencana tapi Tuhan yang memilih agar saya tetap berkarier di sini,” tuturnya sambil meneguk air mineral.
Menyinggung perihal sepakbola Indonesia, Jacksen menandaskan, sepakbola Indonesia belum ditata secara profesional. Padahal gairah masyarakatnya untuk datang menyaksikan klub-klub bertanding cukup membanggakan. Namun demikian, Jacksen belum melihat klub-klub tersebut membuat perencanaan jangka panjang, misalnya setelah selesai kompetisi mulai memantau dan membelanjakan pemain untuk putaran berikutnya. Atau dari mana sumber dana untuk membiayai setiap pertandingan. “Klub-klub hanya memiliki rencana dari hari ke hari. Sehingga setiap tahun mesti mulai dari nol lagi,” kritiknya, seraya menegaskan inilah wajah buram sepakbola Indonesia.
Padahal, lanjut Jacksen, dalam manajemen sepakbola modern mestinya harus dimulai dari pengurus, pelatih, pemain, supporter, wartawan dan lain-lain. “Sikap profesionalisme jangan diartikan hanya terima gaji lalu selesai. Tapi pemain mesti membekali diri dengan visi, karakter, kepribadian, kepemimpinan, pengetahuan, ketrampilan dan lain-lain. Karena majunya sepakbola harus dimulai dari dalam diri kita sendiri,” ujar Jacksen menegaskan.
Karena itu, Jacksen mengatakan demi kemajuan sepakbola di Indonesia, maka yang diperlukan adalah pembenahan dan perbaikan profesionalisme dan manajemen organisasi sepak bola, seperti pemantauan dan seleksi pemain potensial yang dilakukan oleh PSSI. “Pemantauan pemain yang dilakukan PSSI belum maksimal. Tampaknya mereka hanya memantau pemain yang dulu seperti apa perkembangannya. Padahal seharusnya pemantauan pemain harus dilakukan secara kontinyu baik pada waktu dipilih masuk tim nasional ataupun menghilang dari peredaran,” ujarnya.

Kerjasama Papua dan Brazil

Memang ide ini sangat ambisius tetapi Jacksen yakin dengan kerjasama ini bisa memajukan pembinaan sepak bola karena faktor dan kemiripan budaya antara Papua dan Brazil. “Budaya dan postur tubuh orang Papua itu sama dengan orang Brazil,”ujarnya yakin. Meski beberapa waktu lalu tim nasional PSSI pernah juga berguru ke Brazil, tetapi metode pelatihan yang diberikan tak berkelanjutan.
Misalnya pantauan JUBI beberapa tahun lalu program PSSI Bina Tama 1978 di mana Rully Nere dan kawan kawan sempat berguru ke negeri “Samba”. Namun yang dimaksud Jacksen bukan sekadar ikut latihan saja minimal dipinjam ke klub-klub terbaik di Brazil guna merasakan atmosfir dan kompetisi sepak bola di sana. Program bukan hanya ikut merasakan saja, tetapi harus berkelanjutan baik dari usia dini hingga remaja junior dan senior. “Ini penting agar programnya tidak mubazir dan hanya jangka pendek semata. Pasalnya kalau hanya mengejar target proyek sudah pasti hasilnya juga tidak pasti dan terputus di tengah jalan,” tukas Jacksen, yang namanya meroket setelah menangani tim “Mutiara Hitam” Persipura.
Sebab itu, perlu dibangun kerjasama dengan model twin city football atau kota sepak bola kembar antara Persipura Jayapura dengan klub Flamenggo di Kota Rio de Jeneiro. Atau klub-klub bermutu di Brazil.
Jadi kemajuan sepakbola di Papua, menurut Jacksen, agar menjalin hubungan kerjasama antara Pengda PSSI Papua dengan Federasi Sepakbola Brazil dalam hal transfer teknologi dan pengetahuan sepakbola. “Kegiatan ini merupakan trend baru untuk membantu sepakbola Papua. Apalagi Papua dan Brazil memiliki kesamaan konsep sepakbola,” ujar Jacksen yang pernah bermain di Liga Sepak Bola Cina dan Singapore ini.
Jacksen menambahkan pemain-pemain terbaik di Papua harus mengikuti program pembinaan, latihan dan sparring partner bersama klub-klub di Brazil secara berkelanjutan. “Ide ini kelihatan ambisius, tapi saya sangat yakin akan banyak membantu mereka untuk berkembang. Aku yakin mereka bisa berkembang bagi masa depan sepak bola di Papua,” tegas Jacksen. (Makawaru da Cunha/Dominggus A. Mampioper)


JACKSEN TIAGO DAN DATA DIRI

Nama : Jacksen Ferreira Tiago
Tempat/Tgl Lahir : Rio de Jeneiro, 28 Mei 1968
Agama : Katolik
Istri : Fatima Tiago
Anak : 1. Matheus Tiago (16 Tahun)
2. Ayub Tiago (12 Tahun)
Ayah : Jesus Tiago (Almarhum)
Ibu : Cleuza Ferreira Tiago
Pendidikan Terakhir : Universitas Castelo Branco
Pengalaman Pemain : 1. Flamenggo (1987-1990)
2. Madureira (1990-1991)
3. Botafogo (1992)
4. Americano (1992)
5. Valeriodoce (1993)
6. Noroeste (1993)
7. Rubro (1994)
8. Petro Kimia (1994-1995)
9. PSM Makassar ((1994-1995)
10. Persebaya (1997)
11. Ghoang Jo—China (1998)
12. Geylang United-Singapore (1990)
13. Home United-Sangapore (2001)
14. Petro Kimia (2001)
Pengalaman Pelatih : 1. Assiyabab Surabaya (2002-2003)
2. Persebaya Surabaya (2003-2005)
3. Persita Tangerang (2006)
4. Persiter Ternate (2007)
5. Persitara Jakarta Utara (2008)
Kursus Pelatih : 1. Kursus Pelatih di Universitas Estaciodesa-Rio (1998)
2. Sindikat Pelatih Profesional Rio de Jeneiro (2001)
3. Asosiasi Pelatih Sepakbola Brazil (2001)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar