Selasa, 06 Mei 2008

Tanah Papua Gudang Pemain Bola


Pelatih asal Malaysia Raja Isa mengatakan lebih baik melatih tim U18 Persipura agar nanti tim bertajuk Mutiara Hitam tak kekurangan stok pemain. Otomatis pemain asing mulai dikurangi. Bahkan dalam Liga 2008 hampir sebagian besar pemain lama masih bertahan hanya Ortizan Solossa dan Gerald Pangkali yang juga memperkuat skuad asuhan M Raja Isa ini.

Benarkah Tanah Papua Gudang Pemain Sepak Bola Boaz Solossa, Ricardo Salampesy, Cristian Worabay adalah bekas pemain PON Papua di Palembang 2004 lalu. Begitu pula dengan Christ Leo Yarangga, Ronny Wabia, Aples Tecuari, Ritham Madubun juga merupakan pemain pemain eks PON. Di mana saat itu David Saidui memasukan gol dengan pantatnya atau yang dikenal dengan gol pantat di depan gawang tim PON Banda Aceh.Kini Rully Nere sedang ditugaskan oleh Gubernur Provinsi Papua untuk menyiapkan kesebelasan PON XVII Kaltim 2008 Papua. Bahkan skuad asuhan mantan gelandang timnas PSSI it terus melakukan uji coba pada iven Kejurnas Tim U 21 di Papua berhasil melibas tim PON Papua Barat dan juga tim lainnya. "Tim ini harus terus melakukan uji tanding dan jam terbang mereka masih kurang. Apalagi semua tim dalam PON nanti jelas mempunyai kekuatan," ujar Nere di Jayapura.

Ditambahkan meski butuh jam terbang yang tinggi tetapi ketenangan pemain dan kematangan emosional merupakan satu paket yang ditekankan dalam setiap bertanding. "Buktinya duet striker Bertho Mambrasar dan Slan Aronggear sudah menunjukan kematangan dan mampu berbagi gol," ujar Nere merendah. Menurut Rully Nere Alan Arongear punya potensi sebab dia baru berusia 17 tahun tetapi punya skill individu sudah bagus. Selain itu Rully Nere juga menambahkan pemain belakang seperti Edison Ames, Ilfred Soo, Yohanes Tjoe juga menunjukan prestasi yang bagus dengan ditopang oleh Cristian Uram dan Yan Piet Alex di sayap yang turut pula membantu pertahanan. Namun demikian Rully Nere tak mau berpendapat bahwa skuad PON Kaltim ini agak berbeda dengan Boaz Solossa dan kawan-kawan dalam PON Palembang lalu yang memiliki skill individu yang merata.Sudah menjadi target time elit Papua kalau eks pemain PON akan direkrut jadi tim Mutiara Hitam atau Persipura sebut saja eks PON Palembang antara lain Ricardo Salampesy, Korinus Fingkreuw, Elias Korwa, Cristian Worabay dan lainnya pernah memperkuat skuad Mutiara Hitam. Namun untuk tim PON XVII agak sulit karena Mutiara Hitam kini sudah memiliki atau diback up tim Persipura U18 dan Persipura U23.
Namun Nere belum sempat membawa Tim PON ke Kaltim di tengah jalan dia sudah diganti pelatih gaek Festus Yom yang pernah membawa Fernando Fairyo dan kawan kawan merebut medali emas di PON XIII lalu di Jakarta.

Kedua tim ini juga memiliki potensi pemain yang kualitasnya juga di atas rata-rata pemain PON Papua. Bahkan tim Persipura U18 sudah masuk babak 16 besar Suratin Cup 2007.


"Target kami minimal menyamai rekor tahun lalu masuk final," ujar pelatih Kepala Persipura U18 Ferdinando Fairyo rekan seangkatan Yarangga dan Wabia. Bahkan asisten pelatih Persipura Senior Raja Isak yang sempat memberikan materi latihan kepada tim Persipura U18 menambahkan dengan adanya tim Persipura U18 ini minimal ke depan Persipura Senior tidak terlalu tergantung kepada pemain luar terutama pemain asing. "Di Papua banyak talenta talenta pemain bola berbakat dan disayangkan kalau terpaksa kita harus sangat tergantung pafa pemain asing," ujar Raja Isa.Kehadiran pemain asing menurut Eduard Ivakdalam jangan sampai menggeser posisi pemain Papua. "Minimal mereka punya kemampuan dan skill individu diatas rata-rata pemain Papua," ujar Ivak dalam.Sementara itu Daniel Mauri mantan penyerang kiri luar Persipura era 1980 an Persipura justru memrotes kehadiran pemain asing." Saya kira pemain asing tidak banyak memberikan kontribusi yang baik.

Bahkan mereka kurang koordinasi dengan baik," ujar Mauri. Meski demikian Mauri mengakui kalau ada pemain asing yang bermain bagus justru harus didukung dan harus mampu membagi pengetahuan atau menstranfer ilmunya kepada pemain lokal. Sebab menurut Mauri di tanah Papua ini terkenal gudang pemain sehingga kalau terjadi krisis pemain dan kekurangan pemain. "Saya melihat banyak pemain baru yang bagus dan sekarang tinggal bagaimana mencari dan membina mereka serta memberikan sentuhan teknik dan skill individu yang baik," ujar Mauri. Memang benar kalau mau dilihat secara alami di tanah Papua selalu melahirkan pemain-pemain berbakat mulai dari, Dominggus Waweyai salah satu tendem Sucipto Suntoro alias Gareng dalam membela tim Merah Putih. Sayangnya ketika PSSI try out ke Eropah, Waweyai tidak kembali dan tinggal di Belanda.Selain Waweyai ada pula pemain lainnya seperti Timo Kapisa, Yohanes Auri, Adolof Kabo.Selanjutnya Noah Maryen, Theorodorus Bitbit hingga Aples tecuari, Eoni Wabia, Crist Leo Yarangga. Kini Elly Aiboi, Alexander Pulalo, Boaz Solossa. Ortizan Solossa, Imanuel Wanggai, Ricardo Salampesy, Cristian Woarabay dan lain sebagainya. " Saya tidak percaya kalau tanah Papua krisis striker dan pemain, banyak pemain alam yang terus lahir di sini.

Tapi sayang saya melihat pembinaan masih kurang sehingga mereka berkembang apa adanya tanpa banyak uji coba dan latih tanding ke luar Papua," tegas Max Pieter mantan pemain tim PSSI dan juga mantan pelatih PSSI usia 15 tahun belum lama ini di Jayapura.Menurut Max Pieter yang juga mantan pelatih Sekolah Sepak Bola Ragunan Jakarta latihan-latihan dasar sepak bola bagi para pemain bola di tanah Papua sangat penting." Coba lihat saja seorang pemain yang sudah berpengalaman tetap harus berlatih dribling yang baik termasuk passing bola. Sebab kalau sudah menguasai teknik-teknik dasar sepak bola dengan sendirinya akan berkembang di lapangan,"tegas Max Pieter.

Walau pun tanah Papua gudang pemain bola tetapi dengan cideranya Boaz Solossa justru membuat pelatih kepala Persipura Irvan Bhakti pusing kepala untuk mencari pemain baru pada posisi adik kandung Ortizan Solossa itu.Memang ada pemain muda seperti Korneles Kaimu, Tinus Pai dan Anthon Mahuse tetapi belum sebaik Boaz Solossa. Sehingga tidak ada pilihan lain sehingga terpaksa pelatih Kepala Persipura Irvan Bhakti memasukan pemain asal Kamerun Jeremiah yang berpasangan dengan striker asal Brasil Albeto. Padahal sebelumnya Beto sudah padu dengan Boaz Solossa. Lihat saja koleksi goal Boaz pada putaran pertama Liga Indonesia 2006-2007 mampu membuat goal 13 goal dan merupakan satu satunya pemain Indonesia yang mampu menyaingi Cristian Gonzales penectak goal terbanyak selama beberapa kali musim kompetisi. Ironinya hampir sebagian besar pencetak gol terbanyak di Liga Indonesia didominasi oleh pemain pemain asing. Mungkin ini merupakan pekerjaan rumah bagi PSSI dan juga pengurus klub klub di daerah untuk selalu membina dan melahirkan pemain pemain muda berbakat

1 komentar: