Kemenangan Persipura dalam Liga Indonesia 2005 lalu adalah menjadi gambaran tentang bakat alam prestasi sepak bola di Papua. Melalui sepak bola harga diri orang Papua bisa dipertaruhkan sebagai suatu kebanggaan daerah karena memiliki ikatan emosional. Namun yang jelas saat ini bakat alam harus didukung pula dengan system pembinaan yang baik sejak usia dini.
“Persipura akan semakin bersinar kalau kompetisi antar klub di Kota Jayapura berjalan dengan teratur dan kontinu baik di tingkat usia dini hingga senior. Pasalnya system kompetisi yang teratur akan membentuk watak dan mental seorang pemain bola,” ujar Pendeta Dr. Rainer Scheunemann kepada penulis di kediamannya, Senin (31/3) lalu.
Lebih lanjut pengamat sepak bola dan juga pelantun lagu Persipura Pangaruh itu menambahkan, system kompetisi yang baik harus pula didukung oleh pelatih yang baik dengan memiliki linsensi minimal lisensi C atau B sehingga mampu membina klub maupun perkembangan sepak bola di Papua khususnya di Kota Jayapura. Selain memiliki pelatih yang baik klub-klub di Persipura juga harus memiliki lapangan dan wasit-wasit yang bagus.
“Saat ini hanya satu wasit asal Papua yang berlisensi nasional yaitu Yanto Yakadewa dan selebihnya sudah tidak ada lagi,” ujar Rainer. Kalau wasit atau pengadil di lapangan sepak bola saja berkurang dan tidak berkualitas jelas sangat mempengaruhi perkembangan sepak bola di Kota Jayapura, sebab dengan tampilnya Persipura di Liga Indonesia sudah tentu akan memberikan tantangan ke depan terutama tentang status Papua sebagai gudangnya pemain bola.
Untuk melahirkan system pembinaan sepak bola yang baik, lanjut Rainer, harus didukung pula dengan pengurus yang baik. Pasalnya selama ini terlihat pengurus hanya menjadikannya sebagai tempat cari makan saja. “Jangan sampai pengurus bola jadi penguras bola. Ini jelas akan menghambat system pembinaan sepak bola di tanah Papua,” ujar Rainer, pendiri klub sepak bola usia dini klub Emsik.
Selanjutnya Rainer mengatakan, bahwa tak cukup hanya membicarakan tanah Papua sebagai talenta-talenta sepak bola sebab kunci utama dari kemajuan dan kelangsungan pemain bola berkualitas hanya lahir dari kompetisi yang teratur dan tertata rapih.
“Saya memang pertama kali melakukan kompetisi antar mahasiswa tetapi lebih penting membina usia dini sebab di sinilah pertama kali disiplin pemain mulai ditanam,” ujar Rainer.Karena itu menurut Rainer tim Persipura harus mulai dengan melakukan kompetisi yang teratur mulai dengan fokus pembinaan usia dini, yunior dan selanjutnya senior.
“Sistem pembinaan yang saya maksudkan di sini harus menjadi kunci utama, sebab ini menyangkut bagaimana liga-liga kompetisi klub Persipura berputar dan berlangsung,” ujar Rainer.
Untuk memutar kompetisi yang teratur harus pula diikuti oleh kursus-kursus kepelatihan agar pelatih memiliki visi dan kualitasnya bagus karena punya lisensi. Kemudian system liga anak-anak hingga senior antar klub Persipura yang jelas. Selain itu para pemain eks Persipura harus diperhatikan dan bila perlu dibekali dengan lisensi kepelatihan melalui kursus-kursus. Pelatih-pelatih tim yunior dan anak-anak harus berkualitas bagus karena mereka inilah yang menanam disiplin dan visi ke depan bagi seorang anak untuk bermain bola.
Cobalah kita melihat pengalaman di Negara sakura Jepang sekitar tahun 1980-an belum tampak pembinaan sepak bolanya yang baik. Bahkan pernah dikalahkan tim Indonesia ataupun bermain seri. Namun setelah mereka memperbaiki sistemnya mulai dari pelatih, wasit hingga kepengurusan yang profesional, kualitas sepak bola di sana sangat berkembang dengan baik dan terarah.
Kalau kepengurusan di Indonesia termasuk Pengda PSSI masih sifatnya hanya untuk tempat mencari makan alias penguras isi kas pembinaan sepak bola sangat sulit untuk memperbaiki system sepak bola di Indonesia termasuk Papua yang katanya gudang dan bakat alam sepak bola di Indonesia. Salah satu pemain asing Persipura yang Rainer nilai sangat bagus adalah Victor Igbonefo, pemain belakang ini adalah hasil didikan sekolah sepak bola di Nigeria.
Ketika perusahaan minyak di sana merekrutnya dan membawanya ke Belgia dan kini di Persipura dia bermain sangat kosisten serta punya disiplin yang tinggi dan stamina yang kuat. Jadi menurut Rainer, kata kunci dalam kemajuan sepak bola di Papua sebagai gudangnya pemain bola dan bakat alam.
“Karena itu kalau kita membuat skala dalam sepak bola nilai sepuluh (10). Kalau sistemnya tidak baik paling hanya mencapai skala tujuh saja tetapi kalau system baik tentu bisa berkisar antara 8 atau 9 dan mungkin sepuluh,” ujar pelantun lagu Persipura Pangaruh. Rainer juga menciptakan beberapa lagu Persipura dengan maksud untuk memberikan semangat bagi tim bertajuk Mutiara Hitam ini. Lagu yang pernah ditulis bagi tim Mutiara Hitam berjudul, “Indahnya Persipura”. Di bawah ini tertulis lirik lagunya:
Dua lima tahun kita menanti
Sampai mutiara hitam bersinar lagi
Persipura kau sungguh bahagiakan hati Syukur Tuhan buat kemenangan ini
Pace dan mace tumpah di jalan
Semua bersuka dan goyang yospan Tara lain yang aku mau
Reff:
Indah indahnya hari iniPersipuraku menang lagi
Indah indahnya hari ini
Persipuraku menang lagi Aku sungguh bahagia
Melihat kau telah menang
Mutiara Hitam itu Bersinar lagi (back to reff)
Mari kita rayakan
Kemenangan indah ini Mari kita goyang yospanKibarkan merah hitam (back to reff)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar