Kamis, 08 Mei 2008

Persipura Harga Diri dan Semangat Orang Papua



Situasi politik di tanah Papua menjelang Belanda angkat kaki dan masuknya Provinsi Irian Barat menjadi bagian dari wilayah Negara Kesatuan Repblik Indonesia (NKRI) turut pula mempengaruhi semangat anak anak muda di Papua khususnya di Hollandia atau Kota Baru. Agar semangat anak anak muda tidak hilang dan hanya duduk merenung masa depannya maka sepak bola hadir untuk menunjukan jati diri dan awal pembuktian bahwa orang Papua juga bisa bermain bola dan berprestasi.

" Saya melihat generasi muda Papua yang kelihatannya lesu agar mulai bersemangat untuk bermain bola dan melalui pertemuan antar klub di Mess GKI Jayapura barulah disepakati harus ada kompetisi antar klub,”ujar Pdt Mesak Koibur mantan Manajer Persipura pertama di Jayapura belum lama ini.

Pendeta yang pernah bermain bersama alm. Bas Youwe ini menambahkan agar semangat dan harga diri orang Papua bisa timbul kembali maka kompetisi mulai digalakan di Kota Baru atau Sukarnapura awal 1964 hingga 1970 an.

“Kita berkumpul untuk membangkitkan kembali semangat sepak bola di kalangan anak anak muda Papua,”tambah Koibur.

Ditegaskan dengan materi pemain yang ada maka dibentuklah kesebelasan Sukarnopura atau disingkat jadi Persipura, kemudian jadi Jayapura dan nama Persipura tetap saja.

“Dengan biaya yang terbatas kami berangkat ke Ambon dan Makasar untuk bermain di sana dan terus meraih kemenangan,”ujar Koibur. Sekembali dari Ambon dan Makasar lanjut Koibur mantan Bupati Jayapura Drs Anwar ilmar memanggil dan menanyakan kebutuhan yang diperlukan dan memberikan bantuan berupa bola dan baju kaos seragam Persipura. “Waktu itu belum banyak yang berminat urus sepak bola termasuk Persipura,”kata Koibur. Lebih lanjut jelas Koibur setelah 1970 an keatas barulah para pejabat dan semua orang mulai berminat urus Persipura mungkin karena bisa berangka ke luar Papua. “Jadi dorang berlomba untuk urus Persipura tetapi bagi saya yang penting sepak bola di Papua maju. Ingat sepak bola yang mampu mengangkat harga diri dan kebanggaan orang Papua,”ujar Koibur.

Dia juga menambahkan banyak mantan pemain Persipura yang bermain sangat bagus termasuk Dominggus Waweyai. “Anak ini main sangat bagus dan setelah ikut tim PSSI ke Eropah dia tidak kembali lagi ke Persipura,”ujar Koibur. Selain Waweyai lanjut Koibur ada juga pemain lain yaitu anak Merauke Bob Sapai yang punya tendangan sangat keras sekali. “kipper tidak sanggup tangkap dia punya tendangan,”ujar Koibur.

Secara terpisah Benny Yensenem mantan pemain belakang Persipura menambahkan dulu sebelum ada nama Persipura mereka memakai nama Kontiki agar semua pemain asal Papua bisa memperkuat kuad cikal bakal jadi Persipura.” Waktu itu Timo Kapisa juga ikut memperkuat Kontiki,”ujar Yensenem.(Tulisan ini bersumber dari Buku berjudul Persipura Mutiara Hitam Juara Liga Indonesia. 2005 oleh Dominggus A Mampioper dan Frits Ramandey,2008)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar