
Situasi politik di tanah Papua menjelang Belanda angkat kaki dan masuknya Provinsi Irian Barat menjadi bagian dari wilayah Negara Kesatuan Repblik Indonesia (NKRI) turut pula mempengaruhi semangat anak anak muda di Papua khususnya di Hollandia atau Kota Baru. Agar semangat anak anak muda tidak hilang dan hanya duduk merenung masa depannya maka sepak bola hadir untuk menunjukan jati diri dan awal pembuktian bahwa orang Papua juga bisa bermain bola dan berprestasi.
" Saya melihat generasi muda Papua yang kelihatannya lesu agar mulai bersemangat untuk bermain bola dan melalui pertemuan antar klub di Mess GKI Jayapura barulah disepakati harus ada kompetisi antar klub,”ujar Pdt Mesak Koibur mantan Manajer Persipura pertama di Jayapura belum lama ini.
Pendeta yang pernah bermain bersama alm. Bas Youwe ini menambahkan agar semangat dan harga diri orang Papua bisa timbul kembali maka kompetisi mulai digalakan di Kota Baru atau Sukarnapura awal 1964 hingga 1970 an.
“Kita berkumpul untuk membangkitkan kembali semangat sepak bola di kalangan anak anak muda Papua,”tambah Koibur.
Ditegaskan dengan materi pemain yang ada maka dibentuklah kesebelasan Sukarnopura atau disingkat jadi Persipura, kemudian jadi Jayapura dan nama Persipura tetap saja.
“Dengan biaya yang terbatas kami berangkat ke Ambon dan Makasar untuk bermain di
Dia juga menambahkan banyak mantan pemain Persipura yang bermain sangat bagus termasuk Dominggus Waweyai. “Anak ini main sangat bagus dan setelah ikut tim PSSI ke Eropah dia tidak kembali lagi ke Persipura,”ujar Koibur. Selain Waweyai lanjut Koibur ada juga pemain lain yaitu anak Merauke Bob Sapai yang punya tendangan sangat keras sekali. “kipper tidak sanggup tangkap dia punya tendangan,”ujar Koibur.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar