Oleh : Dominggus A Mampioper
29-Jan-2008, 22:00:38 WIB - [www.kabarindonesia.com]
KabarIndonesia - Saat ini di Papua, Gubernur Papua, Bas Suebu mulai menggalakan kompetisi sepak bola antar kampung. Memang kompetisi ini bagus untuk menjaring pemain sepak bola Papua yang handal. "Namun yang menjadi soal adalah waktu kompetisi yang cukup lama dan memakan waktu," ujar Johanes Beno, mantan gelandang Persipura di era 1980-an di Jayapura Selasa (29/1).
Ditambahkan sebaiknya kompetisi di Papua harus dilakukan sejak di tinggkat sekolah dasar. "Saya ingat sekitar tahun 1970-an saat Brigjen Acub Zainal jadi Panglima dan Gubernur, Beliau lebih banyak melakukan kompetisi tingkat SD dan antar kabupaten," ujar Beno.
Hasil dari kompetisi tingkat SD se-Kota Jayapura waktu melahirkan pemain-pemain muda seperti Stepanus Korwa, Rully Nere, Mettu Dwaramuri dan Yapi Rumbrar. "Pemain ini terus direkrut dan masuk dalam klub remaja serta selanjutnya berkiprah dalam sepak bola di Papua maupun di Indonesia. Rully dan Mettu serta Yappi Rumbrar pernah memperkuat Timnas Yunior ke India," ujar Beno.
Acub Zainal juga menghidupkan kompetisi tingkat Kabupaten untuk merebut piala Acub Zainal Cup. "Hasil dari kompetisi ini melahirkan Timo Kapisa, Robby Binur, Edy Sabenan, Tony Betay, Jimmy Pieters dan masih banyak pemain termasuk Yohanes Auri dan Marten Jopari," ujar Beno.
Memasuki tahun 1990-an model pembinaan sepak bola di Papua sudah mulai berubah dan didirikan Diklat Sepak Bola. Crist Leo Yarangga, Aples Tecuari, Rony Wabia, Ritham Madubun, Izak Fatari, Ferdinando Fairyo adalah merupakan produk dari sekolah sepak bola di Papua. Mereka berhasil menjadi juara antar Diklat se-Indonesia dan juga merebut medali emas di PON setelah menundukkan Aceh di final. Dalam pertandingan itu, David Saidui memasukkan bola dengan pantat sehingga disebut gol pantat.
Sukses Yarangga kemudian dilanjutkan oleh Boaz Soloosa, Cristian Worabay, Korinus Fingkruw, Ricardo Salampessy dan lainnya.
Menurut Ruly Nere, pelatih PON Papua, di Kaltim saat ini sulit mencari pemain berbakat seperti Boaz Solossa, karena itu dalam tim yang ditanganinya lebih mengandalkan kerja sama tim daripada pemain bintang.
Rabu, 07 Mei 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar