MR Kambu Ketua Umum Persipura tetap bersikeras kalau mundurnya Persipura dalam laga final Copa Indonesia melawan Sriwijaya FC di Palembang demi menegakkan kebenaran dan keadilan bagi kemajuan sepak bola di Indonesia.
“Apapun sanksinya semua ini dilakukan demi kemajuan sepak bola di Indonesia,”tegas MR Kambu belum lama ini di Jayapura.
Pertandingan tak dilanjutkan karena wasit Purwanto yang tidak meniup peluit karena Tsimi pemain belakang Sriwijaya FC hands ball di kotak terlarang. Kemudian Ian Luis Kabes yang dijatuhkan penjaga gawan Ferry Rontisulu pun tak digubris wasit yang kini duduk di Komisi Disiplin PSSI.
Puncak kekecewaan terjadi lagi pada menit ke 60, striker asing Persipura Jeremiah terkena kartu merah. Kemarahan tak terhindar lagi dan Eduard Ivakdalam dan kawan kawan keluar lapangan.
Menanggapi tindakan keluar dari lapangan pelatih Kepala JF Tiago kepada Jubi hanya mengatakan sayang suara kita tidak didengar. Pelatih asal Brazil itu hanya sedikit heran mengapa tindakan ini mendapat dukungan penuh dari seluruh warga Papua.
Nasi telah jadi bubur dan sanksi pun telah dijatuhkan, Persipura kehilangan dua striker mautnya masing masing Beto dan Jeremiah terkena skor tiga tahun dan denda uang. Begitu pula Ketua Persipura MR Kambu juga terimbas sanksi karena bertanggungjawab dalam pertandingan final Copa Indonesia.
Lepas dari protes dan kesal dari kesalahan wasit Purwanto. Bisakah Persipura sedikit berlapang dada untuk melanjutkan pertandingan yang sisa 40 menit?
Bagi mantan pemain Persipura tindakan yang dilakukan anak anak Mutiara Hitam saat melawan Sriwijaya FC justru merugikan Persipura sendiri.” Peluang untuk anak anak muda Persipura berlaga semakin sempit,”tegas Benny Yensenem.
Dia menambahkan bermain untuk menang namun siap untuk menerima kekalahan. Mengapa seorang anak Papua harus menghindar dari kepemimpinan wasit yang buruk? Padahal kata Benny Yensenem perlakuan kepemimpinan wasit yang buruk juga dialami oleh setiap tim tim yang bertanding di tingkat daerah mau pun dunia. Coba tengok saja kekecewaan Chelsea saat bertanding melawan Barcalona, Drogba dan Ballack memrotes wasit dan akhirnya diganjar hukuman.
Namun yang sepak bola di tanah Papua sejak dulu telah berkembang. Anak anak di seantero tanah Papua sudah mengenal tradisi sepak bola dan menciptakan sendiri model permainan sepak bola sesuai dengan karakter mereka. Patah kaleng adalah bentuk permainan sepak bola yang biasa dipertontonkan hampir sebagian besar anak anak belia di Papua.
Dari sinilah lahirlah talenta telenta muda berbakat yang setiap hari bertumbuh bak jamur di musim hujan. Jika membanding mental juara Brazil dengan mental juara Persipura jelas sangat berbeda karena kompetisi di Brazil jauh lebih maju dan sistemnya benar benar bagus demi kemajuan sepak bola di sana. Atau pun jika membandingkan dengan Liga Eropah di mana final Champion Eropah berlangsung di negara netral.
Walau sebenarnya sepak bola sekarang ini tak lepas dari kepentingan bisnis tetapi tidak mengorbankan unsure profesionalisme dan kualitas sepak bola.
Ketika Persipura masih ditangani mantan pelatih Persipura M Raja Isa, pelatih asal negeri jiran Malaysia itu selalu mengingatkan anak anak Mutiara Hitam agar berhati hati dalam bermain.
“Meski kita selalu berdoa tapi godaan terhadap Persipura masih sering terjadi,”ujar Raja Isa. Dia menambahkan Persipura selalu bermain melawan klub tuan rumah, wasit dan penonton.
“Mereka selalu mengatai Persipura dengan kata kata yang tidak wajar,”ujar Raja Isa. Karena itu lanjut Raja Isa secara teknik pemain pemain Persipura sangat bagus karena mereka memiliki talenta talenta yang berbakat. Namun secara mental harus dipersiapkan agar tetap berkonsentrasi dalam bermain terutama dalam kompetisi di Indonesia yang terkadang sangat membingungkan dan aneh.
Memang pantauan Jubi menjelang final Copa Indonesia digelar di Palembang melawan Sriwijaya FC, sebenarnya pihak Persipura sudah keberatan dan meminta agar mencari tempat netral.
Sekretaris Pengda PSSI M Fakaubun juga menyatakan kepada pihak BLI agar mencari tempat pertandingan yang netral.
Namun semua permintaan ditolak dan demi kepentingan sepak bola serta bisnis dan sponsor laga final Copa Indonesia tetap berlangsung di Palembang.
Bahkan salah seorang official Persipura kepada Tabloid Bola mengatakan ketika Persipura bermain di sana ada teriakan yang rasialis yakni “monyet alias kera bagi anak anak manusia Mutiara Hitam.”Inikah wajah sepak bola Indonesia yang kita bangun untuk mempersatukan sebuah bangsa yang dipaksakan untuk bersatu. Namun nasi telah jadi bubur, pertandingan tetap berlangsung di Palembang dan Persipura Wolk Out.
Bagi beberapa pengamat bola di tanah air termasuk mantan pemain Persipura dan juga pelatih Persipura JF Tiago sebenarnya sangat disayangkan kalau Persipura mengundurkan diri dan tidak melanjutkan pertandingan.
Meski para pemain tetap ingin bermain karena mereka bermental baja namun toh akhirnya harus memilih mundur dari final Copa Indonesia dan Sriwijaya FC terima juara Copa di menit ke 60.
Ironisnya dalam sanksi dan keputusan Komisi Disiplin justru Persipura yang kena sanksi mulai dari skorsing bagi Jerry dan Beto hingga larangann mengurusi sepak bola bagi MR Kambu yang sebentar lagi mengakhiri jabatan Walikota Jayapura pada 2010 nanti.
Pengembalian dana dana dan denda bagi kedua pemain serta keuntungan dalam pertandingan harus dikembalikan kepada BLI. Persipura harus mengembalikan banyak dana hampir dua milyar dan kehilangan dua pilar asingnya.
BLI sudah tahu siapa yang sebenarnya memerintahkan para pemain untuk keluar lapangan dan tidak mau melanjutkan pertandingan. Tak satupun pemain asal Papua yang terkena skorsing hanya dua pemain asing. MR Kambu harus memikul tanggungjawab dengan kena skorsing tidak mengurus sepak bola selama tiga tahun.
Sebenarnya ada pula kejadian aneh yang pernah terjadi ketika paroh musim ISL 2009 lalu. Saat itu mantan pelatih M Raja Isa ditendang oleh beberapa pendamping Ketua Persipura. Namun sayangnya tidak ada permintaan maaf kepada Raja Isa karena merasa tidak bersalah.
Hanya Dewan Adat Papua (DAP) yang mau meminta maaf kepada Raja Isa yang kini melatih Persiram Raja Ampat Provinsi Papua Barat. Belum lagi sentilan beberapa pemain pilar yang menyentil,”bukan pelatih yang membayar gaji kita.” Persoalannya bukan membayar gaji dan pembayar upah tetapi harus menempuh cara cara yang beretika guna memecat seseorang.
Bukannya ditendang di lapangan terbuka terhadap M Raja Isa. Jika disimak lebih mendalam sebagai pemain yang sportif dan profesional sebenarnya pelatih JF Tiago mau melanjutkan pertandingan tetapi toh akhirnya harus menerima kenyataan untuk tidak bermain lagi melawan Sriwijaya FC.
Terlepas dari sangsi yang akan diberikan BLI Komisi Disiplin BLI untuk belajar dari kompetisi di Indonesia khususnya Copa Indonesia. Tekanan sponsor justru membuat PSSI tidak bisa berbuat banyak dan mengikuti kehendak si pemiliki modal sehingga ada kesebelasan yang akan menjadi korban persengkokolan antara pebisnis dan pengurus PSSI.
Jika menginginkan kompetisi sepak bola di Indonesia berlangsung fair dan sportif tentunya klub klub Indonesia tidak babak belur di Liga Champion Asia. Kita berharap Persipura dan Sriwijaya FC dalam laga di Asia akan memberikan perlawanan berarti. Bukan menjadi bulan bulanan klub klub dari Korea, China dan Jepang.
Kamis, 10 September 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar