Ian Luis Kabes in action
Pieter Werbekay mantan pemain belakang Persipura, Theodorus Bitbit mantan pemain Pelita Jaya, Daniel Mauri mantan penyerang Persipura. Bahkan Ian Luis Kabes pemain Persipura adalah alumni anak anak sekolah di SD YPK Paulus Dok V Jayapura.
Sekolah ini sejak dulu telah mengenal sepak bola patah kaleng yakni bermain main dengan dua gawang kaleng. Kalengnya hanya satu dan bukan dipakai untuk gawang tetapi hanya sebuah kaleng. Lawan yang bertanding hanya memakai sebuah kaleng begitu pula lawan yang lain hanya satu kaleng saja. Kalau kaleng itu terjatuh karena tendangan bola maka terciptalah sebuah gol.
Sepak bola patah kaleng sangat lazim ditemui hampir di seantero anak anak Papua, permainannya simple dan tak mengenal bola out serta batas lapangan. “Kitong senang main patah kaleng karena tara ada bola out dan bisa putar atau gocek di belakang kaleng atau gawang,”ujar Boy Mandosir saat bermain patah kaleng halaman Kantor Ranting PT PLN Abepura kepada HOKI Kamis (18/6).
Menurut Boy dalam permainan patah kaleng kitong (kita orang) bisa acak acak pertahanan lawan dan juga bisa goreng (gocek) tim lawan. “Saya paling suka goreng dan bisa goreng dua sampai tiga pemain lawan,”ujar Boy Mandosir seraya menambahkan permainan patah kaleng tak mengenal batas lapangan hingga bisa menyepak bola sampai ke tangga atau mungkin masuk ke parit.
Bola yang sering digunakan bukanlah bola ukuran besar tapi bola plastic ukuran kecil saja dan lebih bagus kalau memakai bola tennis.
Namun yang membahayakan patah kaleng bisa menyebabkan patah kaki alias cidera karena di situlah anak anak menunjukan kebolehan mereka melakukan sliding tackle dan menggunting bola. Maklum anak anak sekolah dasar yang bermain hingga bisa berakibat fatal kaki engkel atau mungkin bisa patah. Apalagi kalau turun hujan anak anak pemain bola patah kaleng semakin bersemangat karena bisa melakukan gerakan gerakan tambahan seperti salto dan buang diri ke dalam kubangan lumpur.
Bagi Roberth Wanggai wartawan olahraga yang juga pernah menikmati sepak bola patah kaleng di daerah Dok VIII Kota Jayapura menyebutkan idealnya bermain patah kaleng dengan memakai bola kecil ukuran tennis lapangan. Pasalnya bentuk bola kecil ini mampu menembus pada celah celah kaki pemain hingga dengan mudah mampu menjatuhkan kaleng yang konon anak anak Papua menyebutnya sepak bola patah kaleng.
Sekitar 1970 an hingga memasuki tahun 1990 an SD Paulus Dok V sangat terkenal dengan sepak bola patah kaleng. Maklum lapangan basket di halaman SD biasanya digunakan anak anak sepulang sekolah untuk menyempatkan waktu untuk sempat bermain patah kaleng. Permainan bola patah kaleng membuat para pemain melakukan penyerangan secara bersama sebaliknya jika diserang mereka bertahan secara serentak. Ya kelihatannya permainan dengan possession foot ball tampaknya telah diterapkan anak anak Papua sejak masih duduk di bangku sekolah dasar.
Kelebihan sepak bola patah kaleng ini tak mengenal ruang besar atau pun hanya petak seukuran kamar tidur. Sepak bola patah kaleng bermain sesuai dengan dimensi ruang. Singkat kata ruang sekecil apapun patah kaleng dapat dimainkan, begitu pula jumlah pemain disesuaikan dengan luas ruang atau lapangan. Semakin besar lapangan tentunya jumlah pemain juga bertambah. Patah kaleng tak mengenal pembatasan jumlah pemain bisa lebih dari sebelas pemain. Untuk menembus kaleng bisa dilakukan dari segala arah sehingga tak heran kalau patah kaleng tak mempunyai batas lapangan dan tidak mengenal bola out mau pun tendangan pojok. Bahkan untuk menghitung point atau jumlah gol bisa terus bertambah sebab kalau hari ini pertandingan belum selesai bisa dilanjutkan dengan skor tetap.
Meski patah kaleng memiliki kelebihan dalam possession foot ball tapi terdapat pula kelemahannya antara lain para pemain hanya memperhatikan bola sehingga tidak melakukan gerakan tanpa bola dan menjaga posisi masing masing. Terlebih lagi dalam patah kaleng semua aturan bola seperti out side, bola out, tidak ada tendangan pojok semua tidak berlaku terkecuali kalau terjadi hands ball terutama kalau tendangan bebas.
Jadi inti dari permainan patah kaleng adalah bagaimana menendang bola dari segala penjuru agar kaleng tersebut bisa jatuh atau patah karena sentuhan bola. Cilakanya kalau bola terkena angin dan bukan tendangan langsung bisa menimbulkan protes yang berkepanjangan.
Model permainan bola patah kaleng lebih mengutamakan kolektifitas di mana pemain menyerang secara bersama dan juga kalau diserang bertahan bersama. Bahkan dalam permainan patah kaleng justru melahirkan kemampuan skill individu dan mampu menggoreng atau menggocek bola melewati tiga sampai empat orang.
Mungkin total Football pola permainan tim Belanda sangat cocok bagi permainan patah kaleng yang tak mengenal ruang sempit maupun lebar.
Total foot ball pertama kali dipertotonkan oleh pelatih Belanda Rinus Michhel dan permainan bola dengan sistem permainan sepakbola yang paling menarik.
Tetapi memahami Total Football ternyata tidak segampang yang diduga duga pola permainan ini jelas bertumpu pada fleksibilitas pertukaran posisi pemain yang mulus. Posisi pemain sekadar kesementaraan yang akan terus berubah sesuai kebutuhan. Karenanya, semua pemain dituntut untuk nyaman bermain di semua posisi.
Penjelasan paling memuaskan tentang total Foot Ball yang ditulis oleh seorang penulis Inggris yang tergila-gila dengan sepakbola Belanda. David Winner menulis buku yang kalau diterjemahkan bebas kira-kira berjudul, "Oranye Brilian -- Jenius dan Gilanya Sepakbola Belanda".
Winner tidak membahas sepakbola semata. Menurutnya Total Football hanyalah pengejawantahan ''psyche'' paling dasar warga Belanda dalam memahami kehidupan. Benang merah Total Football juga ada dalam karya seni, arsitektur, dan bahkan tatanan sosial budaya masyarakat Belanda.
Total Football, demikian jelas buku itu, adalah persoalan ruang dan eksploitasinya itu, bukan yang lain. Fleksibilitas posisi pemain, pergerakan pemain, semuanya adalah konsekuensi dari upaya untuk menciptakan ruang agar bisa dieksploitir semaksimal mungkin.
Prinsip dasarnya sebenarnya sangat sederhana. Besar kecilnya lapangan sepakbola walau ukurannya sama, tetapi di benak bisa berubah tergantung siapa yang bermain di dalamnya. Mungkin juga patah kaleng bisa dikategorikan sebuah permainan sepak bola street ball Papua yang tidak mengenal luas lapangan.
Dalam lapangan sekecil apa pun permainan bola patah kaleng bisa saja dimainkan sesuai keinginan anak anak SD di seantero tanah Papua.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar