Oleh : Dominggus A Mampioper
19-Aug-2008, 21:15:58 WIB - [www.kabarindonesia.com]
KabarIndonesia -
Masa keindahan selama satu setengah tahun bersama coach Raja Isa telah berakhir di ujung tendangan dan sepakan oknum berseragam Panpel setelah dikompori oleh si pemberi kontrak. Bahkan tanpa dia, Persipura berhasil menumbangkan tim urutan ke-14 Super Liga Indonesia. Tidak tanggung-tanggung dua pemain senior Persipura, Eduard Ivakdalam dan Jack Kamasan Komboi mengatakan pelatih siapa pun mereka siap menerimanya. Buktinya, tanpa Raja Isa mereka berhasil mencukur Persita 3-0, di depan Persipuramania.
Memang benar memecat pelatih adalah hak dari pihak management, para supporter dan wartawan hanya menonton serta membeli karcis.
Apalagi semua pihak tidak mengetahui apa yang melatarbelakangi proses perlakuan terhadap coach Raja Isa. Mungkin kitorang hanya tahu di kulitnya saja.
Namun yang jelas tindakan memukul dan mengejar bagai orang tak merdeka di tengah pertandingan berlangsung adalah suatu tindakan yang tidak manusiawi dan tidak mengasihi. Walau Persipura selalu berlaga karena pertolongan Tuhan dan meminta semua orang berdoa bagi sebuah kemenangan. Memecat pelatih bukan hal yang tabu, PSMS dan Arema juga baru saja melepaskan Bambang Nurdiansyah dan Iwan dari PSMS. Bambang Nurdiansyah secara jantan mengaku kegagalannya dan pihak menejemen pun menerima alasan pengunduran diri mantan striker tim nas PSSI itu.
Berbeda dengan Sriwijaya FC yang pertandingan perdana bermain imbang dengan Persipura dan mengalami beberapa kekalahan tidak membuat Rahmad Darmawan dipecat.
Terlepas dari pro dan kontra tentang memilih atau mengontrak pelatih, Persipura sejak dulu sudah ada mulai dari HB Samsi hingga M Raja Isa yang tersingkir secara tragis. Sepak bola dan Persipura tetap ada sebagaimana ditulis Frits Ramandey dalam bukunya berjudul, ”Persipura Mutiara Hitam: Sepak Bola dari Negeri Cenderawasih.”
Persipura tetap eksis meski tanpa Raja Isa sebab Persipura sudah ada sebelum Raja Isa mengutip pernyataan Eduard Ivakdalam Kapten Persipura. Memang benar tanpa Raja Isa sepak bola Papua tetap eksis sejak jaman Hollandia Votebal Bond hingga Persipura sekarang ini. Namun sesuatu yang perlu disimak adalah perlakuan yang tidak pantas mestinya harus ada kata maaf karena saling mengasihi. Permintaan maaf kepada Raja Isa dan negara Malaysia oleh Ketua Dewan Adat Papua (DAP) Forkorus Yaboisembut merupakan sesuatu yang wajar dan pantas dalam pergaulan sesama manusia. Bahkan Yaboisembut sangat menyesalkan terjadinya peristiwa itu. Nasi telah jadi bubur dan semuanya sudah berlalu. Persipura kini harus menghadapi pertandingan yang panjang dan melelahkan. Meraih scudetto tak segampang membalik telapak tangan. Meski punya pemain merata dengan skill individu yang bagus belum tentu jadi jaminan raih gelar. Pasalnya factor non teknis masih terus menghantui sepak bola Indonesia termasuk Persipura. Harapan yang masih tersisa agar jangan sampai faktor non teknis menjadi ganjalan bagi Persipura menuju scudetto, sebab kalau tidak, kejadian habis manis sepak ditendang bisa terulang lagi.
Kamis, 21 Agustus 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar