Kamis, 03 Juli 2008

Hengki Heipon :

Ibarat rumah mestinya klub sepak bola sebesar Persipura harus memiliki stadion tersendiri sebab klub ini sudah ada sejak jaman Belanda hingga sekarang ini meraih berbagai gelar dan salah satu klub elite di Indonesia.
Hengki Heipon mantan pemain dan pelatih sepak bola Persipura mengomentari sejak lama sudah diusulkan agar klub Mutiara Hitam sudah memiliki stadion tersendiri. “Ibarat rumah sendiri sepantasnya klub Mutiara Hitam ini sudah punya stadion tersendiri,”ujar Heipon saat ditemui di Jayapura saat membawa tim Perseru Serui Yunior.
Menurut Heipon pihaknya pernah mengusulkan kepada Bupati Jayapura alm Barnabas Youwe yang menjadi bupati dua periode. “ Saya sudah mengusulkan agar lapangan Argapura bisa dipugar menjadi salah satu stadion terlengkap dan menjadi rumah bagi Persipura. Rupanya tidak ada tanggapan sampai sekarang. Mungkin dirasa kurang penting,”ujar Heipon.
Dia menceritakan pengalaman berharga saat berkunjung ke markas AC Milan di San Siro Milan Italia Mei 2008 lalu bersama pemain muda Persib Atep.
Hengky Heipon, Ahsan dan Syahrir Novri Tambunan dan Atep sangat antusias melakukan perjalan ke Milano sebagai pemenang Hyperbola Quiz Telkomsel.


Pemain nasional yang kini membela klub Persib dan mantan Kepten Tim Persipura Heipon mengaku banyak pelajaran dari pengalaman menonton langsung pertandingan antara AC Milan melawan Udinese pada penutupan Serie A di San Siro pada 18 Mei 2008 lalu.
”Saya seperti mimpi bisa menginjak kaki di markas AC Milan di San Siro,”ujar Heipon. Dia menambahkan kunjungan selama seminggu ini membawa banyak pengalaman baru bagi dirinya.
Agaknya pengalaman Hengky Heipon untuk berguru keluar negeri bukan baru kali ini saja. Saat tim Persipura dilatih pelatih asal Singapura Choo Song On sekitar 1974 pelatih gaek asal Singapura ini pernah mengajaknya berlatih di sana selama enam bulan. “Selama enam bulan di sana saya sempat memperkuat klub klub local di sana dan kompetisi di sana sangat teratur dan bagu sekalai,”ujar Heipon.
Lebih lanjut menurut Heipon kompetisi di sana sangat teratur dan ada kompetisi antar continental dengan Malaysia. “ Jadi klub klub di sana juga mengikuti kompetisi dengan Malaysia. Memang saya tidak dikontrak tetapi untuk mengisi waktu selama training pelatih di sana tetap ikut bermain,”ujar Heipon.
Selanjutnya pada tahun 1978 Henky Heipon sempat pula mengikuti kursus pelatih selama satu bulan di Jerman Barat. Selama di Jerman saya ketemu dengan Adolof Hanasbe dan Jhon Peka dari PNG. Dari Indonesia saya dan Abdul Kadir yang ikut training di Jerman,”ujar Heipon.
Menyinggung soal permainan Persipura menurut Heipon sebenarnya Persipura sejak dulu memiliki karakter tersendiri terutama paduan antara bakat alam dan polesan dasar ala Samba Brasil di bawah pelatih HB Samsi. Memang ada beberapa pengamat yang menilai sejak keberangkatan dirinya ke Jerman telah membawa gaya sepak bola Jerman ke Persipura. “Tapi yang jelas gaya Persipura adalah paduan antara bakat alami dan polesan dasar teknik sepak bola,”ujar Heipon
Di samping itu tambah Heipon postur tubuh pemain pemain Papua sangat khas misalnya saja postur mereka dari Kepala Burung Papua, Metu Dwaramury, Boaz Solossa bentuk tubuh mereka sangat lentur sehingga bila dipadu dengan postur tubuh dari anak anak Teluk Cenderawasih yang cepat dan speed sangat tepat. Begitu pula mereka yang dari Merauke dengan postur tubuh yang tinggi sehingga memiliki tendangan gledek yang keras termasuk dari Kota Jayapura atau Bumi Dafonsoro.
Hengki Heipon bermain sepak bola di Kota Jayapura sejak awal 1960 an, bahkan 1963 sudah ikut memperkuat Persipura dan juga tim Indonesia.
Dulu pernah bermain juga pada jaman Belanda dalam klub HVB dan juga klub HVO. “Dua klub ini ada untuk orang Papua dan juga untuk orang orang Indo Belanda. Saya juga pernah bermain dengan klub orang orang Belanda HVO,”ujar Heipon.
Ada juga klub Humbold Vote Ball Club yang diperkuat oleh Barnabas Youwe, Gasper Sibi dan lain lain. HVC ini merupakan cikal bakal klub Persatuan Sepak Bola Kayu Pulo sekarang ini dan mereka memiliki stadion di lapangan Argapura. Kompetisi di Sukarnapura atau Jayapura waktu cukup marak dengan hadirnya kejuaraan Vangasbu Cup yang diperebutkan oleh klub klub di Kota Jayapura. “Saya melihat kompetisi yangh teratur ini cukup membawa kemajuan bagi sepak bola di Jayapura atau Sukarnapura waktu itu,”ujar Heipon.

Selain itu ada juga klub klub yang lain di Hollandia yang ikut pula menyemarakan kompetisi antar klub di Kota Jayapura.
Pemain Papua pertama yang terpilih di PSSI adalah saudara Dominggus Waweyai pada tahun 1963. Waktu itu dia ikut Persipura dan terpilih memperkuat skuad Indonesia ke luar negeri. Sesampai di Belanda saudara Dominggus Waweyai tidak kembali dan menetap di sana. Dia ikut pelatihnya Keis Van Der Weik. Padahal sewaktu memperkuat PSSI Sucipto Suntoro alias Gareng menjadi top skore di Asia karena tinggal menerima umpan manis dari Dominiggus Waweyai. “Waweyai mempu melewati tiga orang pemain dan skill individunya sangat bagus sekali,”ujar Heipon mengenang salah satu pemain asal Papua. Memang Waweyai juga sempat memperkuat Persija sekitar tahun 1963-1964 dan mengikuti tour PSSI ke Eropah 1965 dan dia tidak kembali lagi ke Indonesia.
“Saya mulai masuk skuad PSSI tahun 1967 waktu itu ditangani pelatih Dr Liem Soey atau lebih dikenal dengan nama Dr Endang Witarsah dan juga Aang Witarsah,”ujar Heipon.
Lebih lanjut Hengki Heipon menambahkan rekan rekan seangkatan di PSSI waktu itu adalah Abdul Kadir, Solekan, Azis, Anwar Ujang, Cholil dan Rahman Abdul. “Kita teman teman seangkatan sampai sekarang masih kompak terus,”ujar Heipon.
Menurut Heipon kompetisi Persipura pertama kali diawali dengan naik Kapal Merauke mengelilingi Papua dan selanjutnya ke Ambon dan Menado. “ Dari perjalanan itu lahirlah kesebelasan Kontiki yang sebagian besar materi pemainnya adaah Persipura,”ujar Heipon.
Sedangkan ban kapten Persipura pertama kali dipakai oleh Hengki Heipon sejak tahun 1968 sampai dengan 1977.
Meski sudah jadi pelatih sejak tahun 1977, Hengki Heipon juga masih jadi kapten atau masih sebagai playing coach. Waktu itu ban kapten Persipura berpindah tangan ke Hengky Rumere mantan pemain belakang Persipura dan ayah kandung Paolo Rumere. Selama masih menjadi kapten puncak prestasi yang pernah dicapai Persipura atau Klub Mandala Jaya adalah juara Soeharto Cup tahun 1976 dan juara Perserikatan dan beberapa kali runner up.
Saat kejayaan di tahun 1970 an itu muncul pula Mutiara Hitam dan dipopulerkan dengan group Black Brother menjadi Persipura Mutiara Hitam.
“Alm Timo Kapisa sendiri mulai terkenal saat tampil di PON VII Surabaya tahun 1969,”ujar Heipon mengenang kehebatan mantan striker Persipura itu.
Selanjutnya berkat prestasi Persipura dipercayakan PSSI melawan klub Hitachi Jepang di stadion Gelora Bung Karno dan dikalahkan tim tamu Jepang 2-1. “Waktu itu Persipura juga mewakili Indonesia ke Kings Cup di Bangkok dan juga pernah ke Vietnam Saigon,”ujar Heipon yang pernah memperkuat skuad PSSI tahun 1976 untuk pra Olimpiade saat dilatih Wel Corver dari Belanda.
Berkat kemampuan Hengki Heipon berbahasa Belanda sehingga pelatih Wel Corver memiliki penterjemah dari Papua dalam menginstruksikan materi latihan dan juga mengembangkan pola pola permainan.


Catatan Persipura Jaman Belanda dan Indonesia


Sekita 1950-an hingga awal 1960-an, di Kota Hollandia – kini Jayapura terdapat dua perserikatan atau liga sepak bola. Pertama yang disebut VHO (Voetbalbond Hollandia en Omstreken, Perserikatan Sepak Bola Hollandia dan Sekitarnya) dan kedua VBH (Voetbal Bond Hollandia).

VHO terdiri dari anggota anggota kesebelasan-kesebelasan di Hollandia dan sekitarnya. Pemain-pemain VHO umumnya orang Belanda atau orang-orang Asia asal Hindia Belanda, seperti dari Maluku Selatan. Sedangkan klub VBH lebih banyak didukung kesebelasan-kesebelasan orang Papua dari Hollandia dan sekitarnya.

Memang tidak ada garis pembatas yang jelas terhadap asal-usul pemain dalam kedua liga tersebut di atas. Ada pula pemain Papua yang bermain dalam liga VHO dan ada pemain Belanda dalam liga VBH.

Klub klub liga ini bermain pada lima lapangan sepak bola. Pertama, lapangan Berg en Dal, yang dikelola keluarga Strijder, sekarang bernama lapangan Argapura. Kedua, lapangan Hamadi; ketiga, lapangan Kotabaru atau Hollandia Binnen, sekarang Abepura. Keempat, lapangan Sentani; dan, kelima, lapangan Dok V, sekarang Stadion Mandala. Stadion Mandala pertama kali dipugar oleh Brigjen TNI Acub Zainal saat memangku jabatan menjadi Gubernur Provinsi Irian Jaya dan selanjutnya menggelar kejuaraan Acub Zainal Cup antar sembilan Kabupaten di Provinsi Irian Jaya.
Acub Zainal pula yang mendatangkan pelatih asing dari Singapura untuk melatih tim Irian Jaya dan juga Persipura dalam setiap kompetisi.
Selanjutnya dalam Galatama Acub Zainal membentuk kesebelasan Perkesa 1978 yang sebagian besar pemainnya berasal dari Papua antara lain Yafet Sibi bersaudara, Agus Ohee, Onny Mayor, Bertus Tamnge dan lain lain.


Sembilan Kesebelasan

Sekitar 1950-an dan awal 1960-an mencatat sembilan kesebelasan di Hollandia dan sekitarnya. Antara lain – EDO, WIK, HBS, dan ZIGO – menunjukkan nama-nama yang berisi tuntunan moral. Salah satu kesebelasan memakai nama: HERCULES.

Kesebelasan terkenal di Hollandia 1950-1960 :

Pertama, EDO: Eendracht Doet Overwinnen (Persatuan Mendatangkan Kemenangan).Kostum: hijau putih.Pengasuh/pemilik: Keluarga van den Dungenbille. Pemain terkenal: Goyung Stok, Janus Manuputty, Jos Trouerbach.

Kedua, WIK: Willen Is Kunnen (Mau Berarti Bisa), yang seringkali diplesetkan menjadi “Wah Itu Kalah. Kostum: biru putih. Pengasuh/pemilik: Nyonya March. Pemain terkenal: Marijn, Vick Eisenring, Itar,* Daniel Hanasbei,* Kirih.*

Ketiga, HBS: Houdt Braaf Standt (Tahanlah Kebaikan Agar Teguh. Kostum: hitam. Pemain terkenal: Ferry Damwijk, de la Motte.

Keempat, ZIGO: Zonder Inspanning Geen Ontspanning (Tanpa Kegiatan Tak Ada Hiburan. Pengasuh/pemilik: Keluarga Mulder Vereauteren.

Kelima, HVC: Hollandia Voetbal Club (Klab Kesebelasan Hollandia). Pengasuh/pemilik: Keluarga Hanasbei.* Pemain terkenal: Daniel Hanasbei,* Bas Jouwe,* Gaspar Sibi,* Fred Korwa,* Kees van der Werf, Henk van het Kaar, Johan Schipper.

Keenam, HERCULES. Kostum: merah putih bergaris. Pemain terkenal: Misserijer, Krajenbrink, Davie, Fea.

Ketujuh, POMS: Perumuman Olahraga Maluku Selatan. Pengasuh/pemilik: Non Manuputty. Pemain terkenal: Janus Manuputty, Habibu, Otjung Pattikawa, Tjoh Lopulalan, Tjali Ferdinandus, Kadir, Fatahan.

Kedelapan, MVV: Missie Voetbal Vereniging (Perhimpunan Kesebelasan Misi, pemain-pemainnya anak-anak sekolah asal Papua dari asrama Katolik di Hollandia). Kostum: hijau. Pemain terkenal: Dominggus Waweyai,* Bennie Kafiar.*

Kesembilan, ZEEMACHT: dari Angkatan Laut Kerajaan Belanda yang berdinas di Hollandia. Anggota-anggota kesebelasannya berasal dari AL Kerajaan Belanda di Hollandia.


Kesebelasan Liga VBH

Liga VBH 1950-an dan awal 1960-an mencakup beberapa kesebelasan di Hollandia dan sekitarnya.
Pertama, KSM: Kami Suku Mebri (dari Sentani), Hollandia. Kedua, LOS: Latihan Olahraga Sentani, Hollandia. Ketiga, LON: Latihan Olahraga Nafri, Hollandia. Keempat, SPS: Serikat Pemuda Supiori (pemainnya perantau dari pulau Supiori di Biak, tinggal di Hollandia). Kelima, DVG: Dienst van Gezondheidzorg (Dinas Kesehatan Hollandia). Keenam, Juliana: Kesebelasan OSIBA (Opleiding School voor Inheemse Bestuurs Ambtenaren: Sekolah Pamong Praja untuk Orang Pribumi) di Hollandia Binnen. (Juliana adalah nama Ratu Belanda yang memerintah pada zaman NNG dan sesudahnya. Gedung OSIBA kemudian dipakai menjadi suatu bagian dari Universitas Negeri Cenderawasih, Jayapura.)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar