Rabu, 07 Mei 2008

SEPAK BOLA Papua dari Masa ke Masa




Bangkitnya sepak bola Papua tak lepas dari sejarah penjajahan Belanda di tanah Papua, waktu penjajahan anak anak sekolah di PMS (setingkat SMP) sudah memiliki club. Apalagi PMS Kotaraja menampung anak anak murid dari seluruh Papua.

“ Waktu itu saya bermain sebagai bek dan teman akrab saya alm Barnabas Youwe bermain pada posisi striker,”ujar Pdt Mesak Koibur mantan Manajer Persipura 1964 -1970 an belum lama ini di Jayapura.

Menurut Koibur setelah Belanda angkat kaki dari tanah Papua situasi politik membuat suasana lesuh dan tidak semangat. Kemudian sekitar 1965 an atas inisiatif para klub bola di Kotabaru atau Sukarnapura disepakati rapat untuk membentuk kompetisi antar klub dan sekaligus membangkitkan sepak bola di Jayapura dan insiatif membentuk Persipura Jayapura. Dulu memang jaman Belanda tim Persipura disebut Hollandia Voteball Bond tetapi akhirnya namanya menjadi Persipura sesuai nama kota Sukarnapura.

Sekitar 1965 pemain handal asal Papua Dominggus Waweyai berhasil membawa tim Indonesia cukup disegani bahkan ia berpasangan dengan Sucipto Suntoro. Berkat umpan manis Waweyai maka Sucipto alias Gareng berhasil membuahkan gol. “ Memang Waweyai ini pintar dan punya skil tinggi dia bisa melewati tiga sampai dengan empat pemain lawan,”ujar Fred Pesi Imbiri mantan pemain Persipura dan Warna Agung Jakarta di Jayapura belum lama ini.

Menurut Imbiri akibat pindahnya Waweyai ke Belanda saat tim Merah Putih tour di Eropah membuat peluang anak anak Papua ke PSSI semakin sulit. Baru lah tahun 1970 an saat Marthen Jopari dan Johanes Auri ikut tim PSSI try out ke Eropah. Sejak Johanes Auri hingga sekarang selalu anak anak Papua perkuat tim Merah Putih.

Bintang-bintang nasional dan internasional ini mencakup Dominggus Waweyai, Henk Heipon, Timo Kapisa, Leo Kapisa, Bob Sapai terkenal tembakannya sangat keras dan kuat, Yohanes Auri, Levi Dom, Adolf Kabo, Chris Yarangga, Ortiz Solossa, Boaz Solossa, Metu Duaramuri, Rully Nere, Eduard Ivakdalam, Jendri Pitoy, Ricardo Salampessy, Pieter Rumaropen, Emanuel Wanggai, dan Elie Aiboy, Imanuel Wanggai, Paolo Rumere.

Adalah tiga kesebelasan utama: PERSIPURA (Jayapura), PERSIWA (Wamena), dan PERSEMAN (Manokwari) dari Papua sebagai gudang pemain bola dan penyumbang terbesar pemain bintang asal Papuaa.

PERSIPURA berkembang dari sepak bola zaman Belanda di ibukota Hollandia lahirlah kesebelasan yang namanya Voteball Hollandia Bond (VHB), antara tahun 1950 – tahun kelahirannya –dan awal 1960-an. Waktu itu, Papua masa kini disebut Nederlands Nieuw Guinea disingkat NNG. Awal 1960-an, sebelum penyerahan kedaulatan dari Belanda ke Indonesia, NNG berubah nama menjadi West Papua, untuk membedakan bagian pulau New Guinea ini dengan Papua New Guinea jajahan Inggris, Jerman, dan Australia.

Sewaktu memperoleh tugas belajar di Belanda Gasper Sibi dan kawan kawan membentuk suatu kesebelasan akhir 1970-an/awal 1980-an: FC Mambruk (Klab Sepak Bola Mambruk). Barangkali, nama ini dipakai kesebelasan tadi untuk memberi identitas khas dan sekaligus untuk mengenang “tanah tumpah darah” Papua. Pemain-pemain tenarnya mencakup Dominggus Waweyai, Bennie (Ben) Kafiar, dan Lody Rumbiak. Kesebelasan ini pernah mengadakan tur sepak bola ke Vanuatu, suatu negara kecil bekas jajahan Inggris di Pasifik Selatan.

Dua Perserikatan di Hollandia

Antara 1950-an dan awal 1960-an, Hollandia – kini Jayapura – memiliki dua perserikatan atau liga sepak bola. Ada VHO (Voetbalbond Hollandia en Omstreken, Perserikatan Sepak Bola Hollandia dan Sekitarnya). Yang lain, VBH (Voetbal Bond Hollandia), diketuai Tuan Abbas.

VHO beranggotakan kesebelasan-kesebelasan di Hollandia dan sekitarnya. Pemain-pemain VHO umumnya orang Belanda atau orang-orang Asia asal Hindia Belanda, seperti dari Maluku Selatan. VBH lebih banyak didukung kesebelasan-kesebelasan orang Papua dari Hollandia dan sekitarnya.

Meskipun demikian, tidak ada garis pembatas yang jelas terhadap asal-usul pemain dalam kedua liga tadi. Ada pemain Papua yang bermain dalam liga VHO dan ada pemain Belanda dalam liga VBH. Ini demi mencegah diskriminasi rasial.

Anggota-anggota kedua liga tadi berlatih dan bermain pada lima lapangan bola kaki. Pertama, lapangan Berg en Dal, yang dikelola keluarga Strijder, sekarang bernama lapangan Argapura. Kedua, lapangan Hamadi; ketiga, lapangan Kotabaru atau Hollandia Binnen, sekarang Abepura. Keempat, lapangan Sentani; dan, kelima, lapangan Dok V, sekarang Stadion Mandala.

Sembilan Kesebelasan

Dasawarsa 1950-an dan awal 1960-an mencatat sembilan kesebelasan di Hollandia dan sekitarnya. Lima di antaranya – EDO, WIK, HBS, dan ZIGO – menunjukkan nama-nama yang berisi tuntunan moral. Satu memakai nama yang mengimpikan kekuatan luar biasa: HERCULES.

KESEBELASAN TERKENAL DI HOLLANDIA DAN SEKITARNYA 1950-1960

Pertama, EDO: Eendracht Doet Overwinnen (Persatuan Mendatangkan Kemenangan).Kostum: hijau putih.Pengasuh/pemilik: Keluarga van den Dungenbille. Pemain terkenal: Goyung Stok, Janus Manuputty, Jos Trouerbach.

Kedua, WIK: Willen Is Kunnen (Mau Berarti Bisa), diplesetkan menjadi “Wah Itu Kalah. Kostum: biru putih. Pengasuh/pemilik: Nyonya March. Pemain terkenal: Marijn, Vick Eisenring, Itar,* Daniel Hanasbei,* Kirih.*

Ketiga, HBS: Houdt Braaf Standt (Tahanlah Kebaikan Agar Teguh. Kostum: hitam. Pemain terkenal: Ferry Damwijk, de la Motte.

Keempat, ZIGO: Zonder Inspanning Geen Ontspanning (Tanpa Kegiatan Tak Ada Hiburan. Pengasuh/pemilik: Keluarga Mulder Vereauteren.

Kelima, HVC: Hollandia Voetbal Club (Klab Kesebelasan Hollandia). Pengasuh/pemilik: Keluarga Hanasbei.* Pemain terkenal: Daniel Hanasbei,* Bas Jouwe,* Gaspar Sibi,* Fred Korwa,* Kees van der Werf, Henk van het Kaar, Johan Schipper.

Keenam, HERCULES. Kostum: merah putih bergaris. Pemain terkenal: Misserijer, Krajenbrink, Davie, Fea.

Ketujuh, POMS: Perumuman Olahraga Maluku Selatan. Pengasuh/pemilik: Non Manuputty. Pemain terkenal: Janus Manuputty, Habibu, Otjung Pattikawa, Tjoh Lopulalan, Tjali Ferdinandus, Kadir, Fatahan.

Kedelapan, MVV: Missie Voetbal Vereniging (Perhimpunan Kesebelasan Misi, pemain-pemainnya anak-anak sekolah asal Papua dari asrama Katolik di Hollandia). Kostum: hijau. Pemain terkenal: Dominggus Waweyai,* Bennie Kafiar.*

Kesembilan, ZEEMACHT: dari Angkatan Laut Kerajaan Belanda yang berdinas di Hollandia. Anggota-anggota kesebelasannya berasal dari AL Kerajaan Belanda di Hollandia.

*Keluarga dan pemain-pemain Papua asli

EDO, WIK, ZIGO, dan MVV dari Hollandia Binnen atau Kota Baru. HVC dan ZEEMACHT dari Hamadi sedang yang lainnya dari Hollandia.

Kebanyakan kesebelasan ini punya dua seksi. Ada seksi bola keranjang, disebut korfbal dalam bahasa Belanda, dan seksi badminton.

Kesebelasan Liga VBH

Liga VBH 1950-an dan awal 1960-an mencakup beberapa kesebelasan di Hollandia dan sekitarnya. Keempat kesebelasan pertama bersifat kesukuan dan dua lainnya – DVG dan Juliana – mencakup berbagai suku di NNG.

Pertama, KSM: Kami Suku Mebri (dari Sentani), Hollandia. Kedua, LOS: Latihan Olahraga Sentani, Hollandia. Ketiga, LON: Latihan Olahraga Nafri, Hollandia. Keempat, SPS: Serikat Pemuda Supiori (pemainnya perantau dari pulau Supiori di Biak, tinggal di Hollandia). Kelima, DVG: Dienst van Gezondheidzorg (Dinas Kesehatan Hollandia). Keenam, Juliana: Kesebelasan OSIBA (Opleiding School voor Inheemse Bestuurs Ambtenaren: Sekolah Pamong Praja untuk Orang Pribumi) di Hollandia Binnen. (Juliana adalah nama Ratu Belanda yang memerintah pada zaman NNG dan sesudahnya. Gedung OSIBA kemudian dipakai menjadi suatu bagian dari Universitas Negeri Cenderawasih, Jayapura.)

Kegiatan

Pertandingan diadakan antara tim perserikatan Hollandia melawan tim perserikatan Biak dan juga melawan tim-tim di kota-kota lain di NNG. Bahkan tim perserikatan Hollandia pernah mengadakan pertandingan melawan tim Papua New Guinea, waktu itu masih jajahan Australia.

Tahun 1957/1958, Tuan Lo Brunt, Sekretaris KNVB – Perserikatan Sepak Bola Belanda – berkunjung ke Hollandia. Dia ikut menyaksikan suatu pertandingan sepak bola di lapangan Berg en Dal yang sudah direnovasi. Lapangan baru itu memakai tribun dan kamar ganti pakaian.

Beberapa Pemain Papua Terkenal Zaman Belanda

Zaman Belanda pun menghasilkan beberapa pemain Papua yang terkenal di dalam dan di luar NNG. Ada yang terkenal sesudah tinggal di Belanda. Semuanya berasal dari pesisir utara NNG.

Pertama, Gaspar Sibi. Asal Kayu Pulo, Hollandia. Ketika belajar di Belanda, dia bermain bersama kesebelasan Haarlem. Kemudian, dia tinggal dan bekerja di Jayapura.

Kedua, Daniel Hanasbei. Asal Tobati/Injeros, Hollandia. Sesudah latihan selama kira-kira dua bulan di lapangan bola kecil di Kota Baru di bawah pimpinan Kees van der Werf dan dibantu Humphrey Trouerbach, Hanasbei ditransfer ke kesebelasan HVC di Amersfoort, Belanda. (Tuan van der Werf sebelumnya bermain pada HVC, ke Hollandia dan menjadi penjaga gawang HVC, tempat Hanasbei bermain.) Hanasbei adalah orang Papua asli pertama yang bermain dalam suatu kesebelasan di Belanda. Dia sudah meninggal dunia di Belanda. Ketiga, Bas Youwe. Berasal dari Kayu Pulo. Dia tinggal dan bekerja di Jayapura, termasuk seorang tokoh olahraga dan tokoh masyarakat di Papua.

Ketiga, Dominggus Waweyai. Asal Sorong? Di awal zaman RI (1960-an), dia bermain dalam PSSI bersama (almarhum) Soetjipto. Ketika PSSI bertanding ke Belanda, Wawejay membelot ke kesebelasan Feijenoord dan tinggal di Belanda sejak itu.

Keempat, Ben Kafiar. Asal Biak. Dia teman sekelas Humphrey Trouerbach di HBS (Hogere Burger School) di Hollandia, satu-satunya HBS di NNG, kemudian menjadi SMA Gabungan.

Keliima, Lody Rumbiak. Asal Biak. Dia bermain dalam ADO dan Roda FC di Belanda dan pernah bermain di Liga Swiss, suatu kesebelasan pemuda Belanda yang pernah bermain di Turki. .

Keenam, Fred Korwa. Asal Biak. Bermain dalam HVC.

Ketujuh, Itar. Asal Tobati. Bermain dalam HVC.

Kedelapan, Kirih. Tidak diketahui asal daerahnya

1 komentar: