Selasa, 13 Mei 2008

Bakat Alam Perlu Ditambah dengan Dasar dan Teknik Bermain

Jika disimak potensi pemain Persipura Liga 2007 lalu cukup lengkap walau pun Boaz, Tinus Pae dan Kornelis Kamu didera cidera. Striker Beto dan Jeremiah cukup membuat repot pemain belakang lawan. Hingga lolos ke seperempat final dan final Copa Indonesia tetapi gagal di final.

Padahal pengamat sepak bola Pdt Rainnair mengakui bahwa secara teknik dan kemampuan sebenarnya tim Mutiara Hitam mampu lolos dan menang. Tetapi yang agak mengherankan adalah ketika berhadapan dengan PSMS Medan justru tim Persipura sulit menembus benteng pertahanan tim Ayam Kinantan Medan. Faktor untuk menembus pertahanan lawan sangat penting walau tim Persipura memiliki segudang pemain pilar dan terbaik. Tetapi strategi dan teknik untuk menembus pertahanan lawan diperlukan stamina yang baik dan dasar dasar teknik bermain yang baik serta strategi yang diterapkan pelatih.

Strategi pelatih sangat penting dalam memutuskan untuk menurunkan pemain. Coba simak saja pengalaman pelatih Rahmad Darmawan ketika menggantikan Boaz Solossa dengan Korinus Fingkreuw pada final Piala Liga 2005 lalu di Senayan. Bahkan komentator ANTV sangat heran mengapa Boaz harus keluar, padahal dia sudah mencetak goal hasil umpan manis dari Cristian Woarabay. Ternyata Fingkreuw juga mampu mencetak goal ke gawang Persija bersama Ian Luis Kabes.

Kekalahan Persipura dalam merebut Piala Champion 2007 dan Copa Indonesia jelas membuat kecewa banyak pihak. Tapi itulah sepak bola. Terkadang membuat para penggemar kecewa dan tidak mau menonton bola lagi. Yang jelas semua pihak tak mau tim Mutiara Hitam ini terjun ke jurang degradasi atau terlempar dari klub elit di Indonesia. Walaupun sebenarnya Persipura pernah bercokol juga pada divisi satu karena kena degradasi. Turun peringkat itu berhasil diangkat kembali oleh Crist Yarangga, Ronny Wabia dan kawan-kawan yang bertekad untuk mengembalikan citra dan mengangkat kembali tim mutiara hitam ke ajang Liga Utama PSSI.

Namun yang perlu disimak adalah mengapa sampai mereka bisa mengakami kekalahan beruntun? Apakah karena kekurangan striker atau salah strategi dari pelatih? Masalah ini yang perlu dikaji dan disimak.

Pieter Werbekay mantan pemain belakang Persipura justru menyalahkan pihak menejemen Persipura yang terlalu terburu-buru menggeser pemain dan mengganti pelatih saat putaran pertama akan berakhir. "Ini berakibat fatal sebab para pemain belum padu dan saat mau berkembang kompteisi sudah selesai. Seharusnya saat ini mereka sudah padu benar dan permainan harus berakhir pada puncak permainan,"tegas Werbekay seraya menambahkan jangan sampai kesebelasan Persipura terdegradasi untuk kali kedua.

Kalau begitu di mana letak kesalahan apakah karena kekurangan pemain atau kurang pembinaan? Pertanyaan ini sulit dijawab tetapi fakta membuktikan bahwa tanah Papua merupakan gudang pemain bola. Daniel Mauri mantan kanan luar tim mutiara hitam Persipura justru memrotes kehadiran pemain asing. "Saya kira pemain asing tidak banyak memberikan kontribusi yang baik. Bahkan mereka kurang koordinasi dengan baik,"ujar Mauri. Ditegaskan di tanah Papua ini banyak pemain baru yang bagus tinggal bagaimana mencari dan membina mereka.

Memang benar pendapat Mauri sebab secara alami di tanah Papua selalu melahirkan pemain-pemain berbakat mulai dari Timo Kapisa, Rully Nere, Adolof Kabo, Noah Maryen, Elly Aiboi, Pulalo dan terakhir Boaz Solossa serta Imanuel Wanggai , Pinehas Fakdawer, Sainyakit dan kawan-kawan.

Hal ini pernah diungkapkan mantan pemain belakang Klub UMS 80 Jakarta dan Warna Agung Jakarta Max Pieter kepada Timika Pos belum lama ini di Jayapura.

" Saya tidak percaya kalau tanah Papua krisis striker dan pemain, banyak pemain alam yang terus lahir di sini. Tapi sayang saya melihat pembinaan masih kurang sehingga mereka berkembang apa adanya tanpa banyak uji coba dan latih tanding ke luar,"tegas Max Pieter pelatih PSSI usia 15 tahun.

Menurut Max Pieter yang juga pelatih Sekolah Sepak Bola Ragunan Jakarta latihan-latihan dasar sepak bola bagi para pemain bola di tanah Papua sangat penting." Coba lihat saja seorang pemain yang sudah berpengalaman tetap harus berlatih dribling yang baik termasuk passing bola. Sebab kalau sudah menguasai teknik-teknik dasar sepak bola dengan sendirinya akan berkembang di lapangan,"tegas Max Pieter mantan pelatih PSBS Senior.

Dikatakan Max Pieter para pelatih dan pembina sepak bola di Tanah Papua harus selalu berkoordinasi dengan PSSI sehingga bisa mendapat informasi tentang perkembangan sepak bola. " Sepak bola itu seni dan selalu berkembang. Saat ini di Papua masih memakai pola 3-5-2 dan seorang libero tapi sejak tahun 1997 pola 4-4-2 sudah banyak dipakai di negara lain termasuk di Indonesia,"tegas Max Pieter adik kandung mantan penjaga gawang mutiara hitam Persipura era 1970 an alm. Jimmy Pieter.

Dikatakan Max Pieter tanah Papua ini gudang pemain bola, sebab dalam pemantauan pemain-pemain usia 15 tahun di Ternate anak-anak Papua telah menunjukan skill individu yang baik. " Saya yakin mereka bisa lebih maju lagi kalau mendapat pola pembinaan yang lebih baik dan terarah,"tegas Max Pieter.

Memang benar pendapat Max Pieter sebab dalam beberapa tahun ini hampir sebagian besar pendukung Persipura maupun kesebelasan PON Papua merupakan hasil dari Diklat Sepak Bola Papua sejak angkatan pertama Crist Yarangga, Ferdinando Fairyo hingga Boas Solossa dan kawan-kawan. Namun sayangnya Diklat Sepak Bola sendiri saat ini diterlantarkan dan kurang terurus. Padahal pendidikan dan latihan sepak bola sejak usia dini sangat penting untuk menanamkan dasar-dasar sepak bola yang benar. Mudah-mudahan dengan keberhasilan Boas Solossa dan kawan-kawan serta kekalahan beruntun mutiara hitam Persipura membuat semua pihak sadar bahwa pembinaan sejak dini menjadi salah satu tugas penting para pengurus sepak bola di tanah Papua.

Saat ini pelatih M Raja Isa juga sedang menyiapkan para pemain terutama segi fisik dan stamina. Selain itu sudah mulai diterapkan ola 4-4-2 sejak pelatih asal Brasil hingga M Raja Isa mulai menerapkan pola tersebut. Walau sebenarnya pola 3-5-2 juga tidak terlalu ketinggalan jaman karena posisi gelandang banyak untuk mendukung kedua striker Persipura sekarang Boaz, Beto atau pun Beto dan Jeremiah. Persipura saat ini kelebihan pemain baik di bagian wing back terdapat Ortisan Solossa, Gerald Pangkali, Ian Luis Kabes, Ricardo Salampessy . Sedangkan pemain gelandang ada Paolo Rumere, Eduard Ivakdalam, Imanuel Wanggai, Stevi Bonsapia, Heru Nerly dan David da Rocha.

Dominggus A Mampioper

Tidak ada komentar:

Posting Komentar